Selamat Datang Di Tugas Kuliahku, jika butuh softcopy, Silahkan email ke jhonmiduk8@gmail.com. Mohon donasi pulsa ke 081210668660 Untuk Kemajuan Blog, Terimakasih. Kolonisasai Awal di Amerika Utara | Tugas Kuliahku

Kolonisasai Awal di Amerika Utara


2.1 Kolonialisasi Awal di Amerika Utara
Awal 1600-an menunjukkan permulaan gelombang besar emigrasi dari eropa ke Amerika Utara. Dalam rentang lebih dari tiga abad, pergerakan ini berkembang dari hanya beberapa ratus orang Inggris menjadi membanjirnya jutaan pendatang baru. Terdorong motivasi yang kuat dan beragam, mereka membangun peradaban baru di bagian utara benua.
Imigran Inggris pertama yang datang ke wilayah yang sekarang dikenal sebagai Amerika Serikat menyeberangi Atlantik lama setelah koloni Spanyol didirikan dengan sukses di  meksiko,  hindia Barat, dan Amerika Selatan. Seperti halnya semua pengembara awal yang datang ke Dunia Baru, mereka datang menggunakan kapal kecil yang penuh sesak. Selama perjalanan yang memakan waktu enam hingga dua belas minggu, mereka hidup dengan ransum yang amat sedikit. Banyak yang mati akibat penyakit, sementara kapal sering kali dihantam badai dan beberapa di antaranya hilang di laut.
Kebanyakan emigran  eropa meninggalkan tanah air mereka untuk menghindari penindasan politik, mencari kebebasan mempraktikkan ajaran agama mereka, atau demi mendapat kesempatan yang mustahil diraih di tanah air mereka. Antara 1620 dan 1635, kesulitan ekonomi melanda Inggris. Banyak orang tidak punya pekerjaan. Bahkan pengrajin ahli hanya menghasilkan sedikit uang yang cuma mencukupi kebutuhan sehari-hari. hasil panen yang buruk memperburuk situasi tersebut. Selain itu, revolusi komersial menciptakan industri tekstil yang berkembang pesat, yang terus menuntut kenaikan jumlah pasokan wol agar mesin  tenun mereka untuk terus dapat beropersi.  tuan tanah menutup tanah pertanian dan mengusir petani demi
menernakkan domba.   ekspansi kolonial menjadi jalan keluar bagi populasi petani yang tersingkirkan itu.
Pandangan pertama calon penduduk koloni dunia baru ini adalah panorama hutan yang padat. Para pendatang mungkin tidak dapat bertahan hidup andai mereka tidak ditolong oleh bangsa Indian yang ramah, yang mengajarkan mereka cara menanam tanaman lokal—labu kuning, gambas, kacang-kacangan, dan jagung. Selain itu, hutan perawan yang luas dan terbentang hampir 2.100 kilometer di sepanjang daerah pesisir timur terbukti menjadi sumber hewan buruan dan kayu api yang kaya. hutan juga menyediakan bahan mentah yang melimpah untuk membangun rumah, perabotan, kapal, dan barang yang menguntungkan untuk diekspor.
Walaupun alam benua baru itu luar biasa kaya, perdagangan dengan  eropa merupakan hal vital bagi barang-barang yang tidak dapat dihasilkan penduduk setempat. Pantai bisa berfungsi dengan baik bagi para imigran. Di sepanjang pesisir terdapat banyak teluk kecil dan dermaga. hanya dua area—North Carolina dan selatan New  jersey—yang tidak memiliki dermaga untuk kapal laut. Sungai-sungai besar—kennebec, hudson, Delaware, Susquehanna, Potomac dan masih banyak lainnya—menghubungkan daratan antar pantai, dan Pegunungan Appalachian dengan laut. Namun hanya satu sungai, St. Lawrence—dikuasai Perancis di  kanada—yang memiliki jalur air menuju Great Lakes dan jantung benua baru tersebut. hutan lebat, penolakan beberapa suku Indian, dan penghalang kokoh berupa Pegunungan Appalachian, mengecilkan hati calon pemukim yang hendak merambah ke wilayah selain pesisir. hanya pemburu bulu binatang dan pedagang yang berani menerabas alam liar itu.  Selama seratus tahun pertama, penduduk koloni membangun pemukiman padat mereka di sepanjang pantai.
Pertimbangan politik mempengaruhi banyak orang untuk pindah ke Amerika. Pada 1630-an, aturan sewenang-wenang yang dikeluarkan oleh raja Inggris Charles I merangsang gelombang migrasi. Setelah itu, pemberontakan dan kemenangan lawan politik Charles dibawah pimpinan Oliver Cromwell pada 1640-an menyebab-kan banyak ksatria—”anak buah raja”—mengadu nasib di Virginia. Di wilayah yang berbahasa Jerman di Eropa, kebijakan penindasan yang dilakukan oleh beberapa pangeran kejam—khususnya yang berhubungan dengan agama—dan kehancuran yang disebabkan oleh serangkaian perang berkepanjangan mendorong gerakan migrasi ke Amerika pada akhir abad ke-17 dan 18.
Perjalanan itu memerlukan perencanaan dan pengaturan yang cermat, juga biaya dan risiko yang cukup besar. Para pendatang harus pindah hampir 5.000 kilometer ke seberang laut.  mereka membutuhkan perkakas, pakaian, biji-bijian, peralatan, bahan bangunan, ternak, senjata, dan amunisi. Bertolak belakang dengan kebijakan kolonisasi negara dan periode lain, emigrasi dari Inggris tidak disponsori secara langsung oleh pemerintah melainkan oleh sekelompok individu yang motif utamanya adalah keuntungan.

2.2 Berdirinya Tiga Belas Koloni Awal
Perkembangan koloni merupakan hal yang buruk bagi penduduk asli Amerika. Mereka kehilangan negeri mereka, dan banyak dari antara mereka yang meninggal akibat variola, penyakit yang dibawa bangsa Eropa ke Amerika. Pada tahun 1733, terdapat tiga belas koloni. Koloni-koloni ini biasanya dikelompokan menjadi New England (New Hampshire, Massachusetts, Rhode Island and Connecticut), koloni-koloni Tengah (New York, New Jersey, Pennsylvania, Delaware), dan Selatan (Maryland, Virginia, Carolina Utara, Carolina Selatan, dan Georgia).
Virginia dan Maryland
            Koloni Inggris yang pertama didirikan di Amerika Utara adalah Jamestown. Koloni ini yang kemudian berkembang menjadi Viriginia. Sepanjang pantai ini penanam modal Raleigh berniat untuk memulai upaya-upaya kolonisasinya. Pada tahun 1606, saudagar yang berada di London-lah yang mendapat sebuah piagam dari Raja James I untuk membangun koloni di antara garis lintang ke-34 dan 38. Mereka bermaksud untuk membangun sebuah pos perdagangan. Untuk itu maka berniat untuk mengirim hasil industri Inggris ditukar dengan Indian, dengan cara seperti itu mereka berharap membawa kembali barang dagangan Amerika atau memproduksi dengan buruh dari pekerja mereka sendiri.
            Ekspedisi pertama mereka dengan tiga kapal kecil yang membawa 120 orang berlayar menuju Teluk Chesapeake dan naik ke atas Sungai James di musim semi pada tahun 1607. Kelompok yang terdiri dari orang-orang kota dan para petualang ini lebih tertarik untuk mencari emas, menumpuk kayu, aspal, ter, bijih besi daripada harus berladang/bertani.  Kelompok ini tidak dilengkapi dengan temperamen dan kemampuan untuk menjalani hidup di alam liar. Di  antara mereka,  Kapten John Smith, tampil sebagai sosok yang dominan sekali pun ada pertengakaran demi pertengkaran, kelaparan, orang Turki, dan bahkan orang-orang Indian.
            Pada tahun 1609, setelah John Smith kembali dari Inggris, dan sepeninggalnya, koloni itu menjadi kacau. Selama musim dingin tahun 1609-1610, sebagian penduduk tewas akibat kelaparan dan penyakit. Dari total penduduk Jamestown yang berjumlah 500 orang hanya tersisa 60 orang yang mampu bertahan hidup  pda bulan Mei 1610.  Namun tidak lama kemudian terjadilaah perkembangan yang merombak Virginia. Pada tahun 1612, John Rolfe  mulai menyilangkan benih tembakau dari India Barat dengan perdu asli Amerika dan menghasilkan jenis baru yang cocok dengan selera orang Eropa. Pengiriman tembakau ini pertama kali mancapai London pada tahun 1614. Dalam tempo sepuluh tahun, tembakau menjadi sumber pernghasilan terbesar Virginia.
Massachussetts
            Selama pergolakan agama pada abad ke-16, sebuah kelompok yang terdiri dari lelaki dan wanita yang menyebut diri mereka  kaum Puritan mencoba mengubah Gereja Negara Inggris dari dalam. Pada hakikatnya mereka menuntut agar tata cara ibadah dan susunan gereja yang mengacu pada Katolik Roma diganti dengan bentuk kepercayaan dan ibadah Protestan yang lebih sederhana. Ide reformis mereka yang berupa penghancuran kesatuan negara gereja telah mengancam memecah belah masyarakat dan merongrong kekuasaan kerajaan.
            Di tahun 1607, sekelompok kecil kaum separatis – sekte Puritan radikal yang tidak percaya Gereja Negara dapat direformasi- memisahkan diri ke Leiden, Belanda, tempat mereka mendapatkan suaka dari penguasa di sana. Namun kaum Calvinis Belanda memanfaatkan mereka untuk menjadi pekerja kasar dengan bayaran murah. Beberapa anggota perhimpunan agama ini menjadi tidak puas dengan perlakuan diskriminatif ini dan memutuskan untuk bermigrasi ke Dunia Baru.
            Di tahun 1620, sekelompok kaum Puritan Laiden mendapat sebuah hak paten dari Virginia Co. Maka, sebuah kelompok berjumlah 101 orang yang terdiri dari laki-laki, wanita, dan anak-anak berlayar ke Virginia dengan kapal Mayflower. Badai mengirim  kapal itu jauh ke utara hingga  mereka mendarat di Cape Cod, New England. Yakin bahwa mereka di luar kekuasaan mana pun, mereka menyusun perjanjian resmi untuk berpegang kepada ‘hukum yang adil dan setara’ yangdi buat oleh para pimpinan yang mereka pilih sendiri. Perjanjian ini adalah Mayflower Compact (Kesepakatan Mayflower).
Gambaran tentang Kaum Pilgrim diberikan oleh Edward Winslow dalam surat yang  Ia tulis sesaat setelah Ia mendarat. Ketika musim dingin yang pertama di New England, istri Winslow meninggal. Dua bulan kemudian, Ia kemudian menikah dengan Susannah  White, yang juga telah menjanda pada periode yang sama. White adalah wanita pertama yang melahirkan di New England, dan pernikahan Winslow dan White adalah pernikahan pertama di wilayah tersebut. Winslow terpilih menjadi gubernur beberapa kali karena Ia sangat ahli dalah bernegosiasi dengan pemimpin suku Indian Masassoit. Pada awalnya hanya terdapat tujuh rumah dan empat diantaranya digunakan untuk perkebunan. Pada musim semi terakhir seluas 20 acre dipakai untuk ditanami jagung Indian, untuk menyemai gandum dan kacang polong seluas 6 acre, dan menurut cara orang Indian, tanaman diberi pupuk ikan hering atau shad (semacam ikan laut). Kehidupan kaum pilgrim waktu itu sangat berlimpah kesenangan.
            Di bulan Desember, kapal Mayflower mencapai pelabuhan Plymouth. Di tempat inilah kaum Pilgrim sepanjang musim dingin membangu pemukima mereka. Nyaris separuh dari mereka tewas karena udara dingin dan penyakit. Gelombang baru imigran segera berdatangan di Pantai Teluk Massachussetts pada tahun 1630. Bekal mereka adalah mandat dari Raja Charles I untuk membentuk sebuah koloni. Banyak dari mereka adalah kaum Puritan yang praktek keagamaannya semakin dilarang di Inggris. Pemimpin mereka, John Winthrop, secara terbuka menyatakan ingin mendirikan “sebuah kota di atas bukit” di Dunia Baru. Dengan pernyataannya, ia memaksudkan sebuah tempat kaum Puritan akan hidup dengan peraturan ketat yang sesuai dengan kepercayaan mereka.
            Koloni Teluk Massachussetts memegang peranan penting dalam perkembangan di seluruh kawasan New England. Keberhasilannya adalah karena Winthrop dan rekannya sesama kaum Puritan berhasil menerapkan anggaran dasar mereka di san. Dengan demikian, kekuasaan atas pemerintahan di koloni ini berada di Massachussetts, bukan di Inggris.
New England
            New England adalah nama yang diberikan oleh Kapten John Smith, yang telah menjelajahi pantai tersebut dan menerbitkan sebuah laporan, termasuk mengambarkan petanya. Hak untuk menguasai wilayah tersebut telah berlalu bagi kelompok pedagang Plymouth pada waktu yang bersamaan (1606) kelompok London mendapatkan keuntungan dari kolonisasi di Selatan. Setelah  usaha bertanam di muara Sungai Kennebec gagal, perusahaan Plymouth mereorganisasi sebagai Dewan atas New England, suatu badan hukum dalam real estate daripada sekedar memajukan perdagangan. Dewan tersebut memindahkan tanah-tanahnya menjadi milik individual dan perusahaan-perusahaandalam serangkaian dana bantuan yang tumpangtindih dan membingungkan. Hal ini, tetap atau berubah tergantung dana bantuan langsung dari Raja, asal saja dasar untuk semua koloni yang muncul di New England – Massachussetts (termasuk Plymouth dan Maine), Connecticut, Rhode Island, serta New Hampshire.
            Sebagian besar dari penduduk koloni New England dan hampir seluruh koloni adalah kaum Puritan, yang mempunyai motif keagamaan kuat yang sama kuatnya dengan motif ekonomi waktu meninggalkan inggris untuk bermukim di seberang lautan.
Georgia
            Georgia adalah  koloni terakhir yang kemunculannya sangat unik. Koloni ini dibangun bukan atas badan hukum,bukan atas kepemilikan, bukan dituntutn untuk tujuan mencari keuntungan, dan juga bukan dimaksudkan sebagai tempat pembuangan orang-orang picik. Tujuan utamanya adalah sebagai tempat untuk memenjarakan orang-orang Inggris yang berhutang, dan untuk membangun benteng pertahanan guna melawan orang-orang Spanyol yang berada di selatan daerah perbatasan Inggris Amerika.
            Piagam dari George III (1732) memindahkan tanah di antara Savannah dan Sungai Altamaha kepada pemerintahan Jenderal James Oglethrope dan wakilnya untuk periode 21 tahun.. Kebijakan di koloni ini adalah untuk memenuhi kebutuhan akan keamanan militer.  Dan koloni ini dijaga agar kondisinya tetap. Maka, orang-orang Negro dan budak dilarang masuk ke koloni ini, dan juga orang-orng Katolik Roma, guna mencegah  bahaya yang ditimbulkan oleh situasi pada masa-masa perang, dan persekongkolan  dengan musuh. Perdagangan dengan orang Indian pun diatur secara ketat, rum dilarang, untuk mengurangi masalah dengan Indian.
            Sebelum dua puluh satu tahun dari masa perwalian berakhir, aturan melawan perkebunan besar, budak, dan rum dihapuskan, dan setelah 1750 Georgia telah berdiri di sepanjang garis yang sejajar dengan Carolina Selatan.

2.3 Hubungan Koloni Inggris dengan Indian
Pada 1640 Inggris memiliki koloni yang kokoh di sepanjang pantai New england dan teluk Chesapeake. Di tengahnya terdapat koloni Belanda dan komunitas kecil Swedia. ke barat adalah wilayah orang Amerika asli, yang dulu disebut Indian. Terkadang berteman, terkadang bermusuhan, suku-suku di wilayah timur tidak lagi asing bagi orang eropa. Walaupun Pribumi Amerika mendapat keuntungan dari akses terhadap teknologi baru dan perdagangan, penyakit dan keinginan besar untuk memiliki lahan garapan yang juga dibawa pemukim awal membawa permasalahan serius bagi gaya hidup yang sudah lama mereka anut.
Pada awalnya berdagang dengan pendatang  eropa membawa keuntungan: pisau, kampak, senjata, perabot masak, kail pancing, dan sejumlah besar barang lain. Suku Indian yang lebih awal berdagang memiliki keuntungan yang lebih signifikan daripada saingan yang tidak melaku kannya. Dalam rangka memenuhi tuntutan  eropa, suku-suku seperti Iroquois mulai mencurahkan perhatian lebih besar dalam mendapatkan bulu binatang selama abad ke-17. Bulu dan kulit hewan menjadi cara bagi suku-suku itu untuk membeli barang-barang kolonial sampai akhir abad ke-18.
Hubungan awal antara  koloni dan Pribumi Amerika merupakan campuran kerjasama dan konflik yang mudah meletus. Di satu sisi, terdapat relasi luar biasa yang bisa bertahan selama setengah abad pertama eksistensi Pennsylvania. Di sisi lain, terdapat rangkaian panjang kemunduran, pertempuran, serta peperangan dan hampir semuanya mengakibatkan kekalahan pihak Indian dan semakin berkurangnya wilayah Indian. kebangkitan penting pertama oleh Pribumi Amerika terjadi di Virginia pada 1622, ketika 347 orang kulit putih terbunuh, termasuk sejumlah misionaris yang baru saja datang ke jamestown.
Pendudukan orang kulit putih di wilayah Sungai Connecticut memicu Perang Pequot pada 1637. Pada 1675 raja Philip, anak laki-laki kepala pribumi yang dulu mengadakan perdamaian dengan kaum Pilgrim pada 1621, berusaha menyatukan suku-suku di selatan New england untuk melawan pendudukan orang  eropa semakin jauh ke dalam wilayah mereka. Namun, dalam upayanya itu, Philip kehilangan  nyawanya dan banyak Indian yang dijual sebagai budak. Pendatang yang terus membanjiri wilayah hutan dari koloni timur mengacaukan kehidupan Pribumi Amerika. Akibat makin banyaknya buruan yang dibunuh, suku-suku dihadapkan pada pilihan sulit antara kelaparan, pergi berperang, atau pindah dan menghadapi konflik lain dengan suku lain di barat.
Suku Iroquois, yang mendiami wilayah di bawah danau Ontario dan erie di utara New York dan Pennsylvania, lebih sukses dalam menahan gerak maju bangsa eropa. Pada 1570, lima suku bergabung dan membentuk bangsa Pribumi Amerika paling kompleks pada waktu itu, yaitu “Ho-De-No-Sau-Nee.” atau Liga Iroquois. Liga itu dikuasai oleh dewan yang terdiri atas 50 perwakilan dari kelima suku. Dewan mengurusi masalah umum semua suku, tapi tidak dapat mengatur urusan sehari-hari kelima suku yang bebas dan sederajat itu. tidak ada suku yang diperbolehkan berperang sendirian. Dewan mengeluarkan   aturan   untuk  menangani kejahatan seperti pembunuhan.
Liga Iroquois memiliki kekuasaan yang besar di era 1600-an dan 1700-an. Liga itu berdagang bulu hewan dengan Inggris dan memihak Inggris untuk melawan Perancis dalam perang perebutan kekuasaan Amerika antara 1754 dan 1763. Inggris mungkin tidak bisa memenangkan perang itu tanpa bantuan Liga. Liga Iroquois tetap kuat sampai  revolusi Amerika. Lalu, untuk pertama kalinya, dewan tidak dapat mencapai suara bulat dalam memutuskan siapa yang akan mereka dukung. Setiap suku mengambil keputusan sendiri-sendiri, beberapa bertempur bersama Inggris, beberapa memihak koloni, sementara beberapa tetap netral. Sebagai akibatnya, semua orang berkelahi melawan Iroquois. kekalahan mereka amat telak hingga liga itu tidak pernah pulih kembali.

2.4 Perang Perancis – Inggris selama tujuh tahun
Perancis dan Inggris raya terlibat dalam serangkaian perang di eropa dan  karibia sepanjang abad ke-18. Walaupun Inggris  raya memiliki beberapa keuntungan—di pulau pulau kaya gula di karibia—secara umum pertempuran tersebut tidak menghasilkan apa-apa dan Perancis tetap memiliki posisi kuat di Amerika Utara. Pada 1754, Perancis masih berhubungan erat dengan beberapa suku Pribumi Amerika di kanada dan sepanjang Great Lakes. Dengan mendirikan sejumlah benteng dan pos perdagangan, Perancis mengendalikan Sungai mississippi dan membentuk kerajaan berbentuk bulan sabit yang amat besar yang membentang dari Quebec hingga New Orleans. Wilayah Inggris masih terbatas hingga sabuk sempit di timur Pegunungan Appalachia. Dengan demikian, Perancis tidak hanya mengancam kerajaan Inggris raya, tetapi juga koloni Amerika itu sendiri. Sebab, dengan menguasai Lembah mississippi, Perancis dapat menghambat ekspansi koloni ke barat.
Pada 1745 terjadi pertikaian bersenjata di Benteng Duquesne, tempat Pittsburgh, Pennsylvania sekarang berada, antara sekelompok patroli Perancis dan tentara Virginia di bawah komando George Washington yang berusia 22 tahun, pemilik perkebunan dan juru ukur dari Virginia. Pemerintah Inggris mencoba mengatasi konflik itu dengan mengadakan pertemuan antara perwakilan dari koloni New York, Pennsylvania,  maryland dan New  england. mulai 19  juni sam pai 10  juli 1745,  kongres Albany, demikianlah sebutannya di kemudian hari, bertemu dengan suku Iroquois di Albany, New York, dalam rangka mempererat hubungan dengan mereka dan memastikan kesetiaan mereka kepada Inggris.
Tetapi para delegasi juga menyatakan persatuan koloni Amerika “sangat diperlukan bagi kelestarian mereka” lalu menerima usulan yang dirancang oleh Benjamin Franklin. The Albany Plan of Union (rencana Persatuan Albany) menyediakan posisi presiden yang ditunjuk oleh raja dan dewan utama delegasi yang dipilih oleh majelis dan jumlah perwakilan setiap koloni proporsional dengan kontribusi finansialnya terhadap kas negara. Badan ini akan mengurus masalah pertahanan, hubungan dengan Pribumi Amerika, dan perniagaan serta kolonisasi daerah barat. Yang paling penting, badan ini memiliki otoritas independen untuk memungut pajak.  tetapi tidak satu pun koloni menerima rancangan tersebut, karena mereka tidak siap menyerahkan baik kekuasaan atas pajak ataupun kendali atas perkembangan daerah barat kepada otoritas pusat.
Keunggulan posisi strategis Inggris dan kompetensi kepemimpinannya pada akhirnya menghasilkan kemenangan dalam konflik dengan Perancis, yang dikenal sebagai Perang Perancis dan Indian di Amerika dan Perang tujuh tahun di eropa. hanya sebagian kecil perang tersebut yang benar-benar berlangsung di daerah barat. Dalam Perdamaian Paris (1763), Perancis melepaskan seluruh kanada, Great Lakes dan
wilayah timur  mississippi kepada Inggris. mimpi akan kerajaan Perancis di Amerika Utara musnah sudah.
Setelah menang atas Perancis, Inggris  raya dipaksa menghadapi masalah yang sebelumya diabaikan; pemerintahan kerajaannya sendiri. London berpikir penting untuk mengatur dan membantu pertahanan daerah kekuasaan yang sekarang begitu luas, menyatukan beragam
kepentingan dari berbagai wilayah dan masyarakat, serta mendistribusikan biaya administrasi kerajaan secara lebih merata.
Di Amerika Utara sendiri, luas daerah kekuasaan Inggris berlipat ganda.  masyarakat yang tadinya didominasi kaum Protestan dan orang Inggris sekarang mencakup orang  katolik berbahasa Perancis dari Quebec dan sejumlah besar penduduk Pribumi Amerika yang sebagian sudah menganut agama  kristiani. Pertahanan dan administrasi daerah kekuasaan baru ini, seperti halnya daerah kekuasaan yang lama, memerlukan sejumlah besar uang dan peningkatan jumlah personil. Sistem kolonial lama jelas tidak mencukupi. Namun tindakan
untuk membentuk sistem baru akan mengusik kecurigaan laten warga kolonial yang akan menganggap Inggris raya tidak lagi sebagai pelindung hak mereka, melainkan sebagai ancaman bagi mereka.





















DAFTAR PUSTAKA

Departemen Luar Negeri AS. 2005. Garis Besar Sejarah Amerika