Selamat Datang Di Tugas Kuliahku, jika butuh softcopy, Silahkan email ke jhonmiduk8@gmail.com. Mohon donasi pulsa ke 081210668660 Untuk Kemajuan Blog, Terimakasih. Makalah Pembelajaran E-Learning | Tugas Kuliahku

Makalah Pembelajaran E-Learning

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Di dalam era globalisasi saat ini, kemajuan teknologi dan informasi berkembang sangat pesat. Seiring dengan berkembanganya teknologi dan informasi kebutuhan akan suatu konsep dan mekanisme belajar mengajar berbasis teknologi informartika menjadi tidak terelakkan lagi. Salah satu contoh dari mekanisme belajar mengajar yang berbasis teknologi informatika adalah pembelajaran elektronik atau yang biasa disebut dengan e-learning. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Darin E. Hartley (2001) yang menyatakan e-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media jaringan komputer lainnya. Kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan sistem e-learning sangat bermanfaat bagi peserta didik ataupun pendidik guna mempermudah kegiatan belajar mengajar.
Saat ini konsep e-learning sudah banyak diterima oleh masyarakat dunia, terbukti dengan maraknya implementasi e-learning khususnya di lembaga pendidikan. Beberapa perguruan tinggi menyelenggarakan kegiatan pembelajaran elektronik sebagai suplemen terhadap materi pelajaran yang disajikan secara reguler di kelas. Namun, beberapa perguruan tinggi lainnya menyelenggarakan e-learning sebagai alternatif bagi mahasiswa yang karena satu dan lain hal berhalangan mengikuti perkuliahan secara tatap muka.
Selain dari pembelajaran elektronik, terdapat salah satu model pembelajaran yang dapat menumbuhkan sifat kerjasama antar siswa di dalam kelas. Model pembelajaran tersebut adalah model pembelajaran kooperatif, dimana kegiatan pembelajaran yang dilakukan adalah dengan cara bekerjasama antara satu siswa dengan siswa lainnya dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Model pembelajaran kooperatif dapat memotifasi siswa, memanfaatkan seluruh energi sosial siswa dan saling mengambil tanggung jawab.
Model pembelajaran kooperatif memiliki beberapa tipe, salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang dapat membangun kepercayaan diri siswa dan mendorong partisipasi mereka dalam kelas adalah model pembelajaran Kooperatif tipe  Team Assisted Individualization  (TAI)Model Pembelajaran tipe Team Assisted Individualization (TAI) membantu siswa mengimpelementasikan ide mereka bersama dan memperbaiki pemahaman.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan dengan latar belakang yang diuraikan diatas, maka terdapat perumusan masalah yaitu:
1.      Pengertian Pembelajaran Elektronik?
2.      Pengertian Pembelajaran Kooperatif?
3.      Pengertian Resourced Based Learning?
4.      Apa saja fitur – fitur dan aspek penting di dalam pembelajaran elektronik?
5.      Bagaimana strategi yang di lakukan di dalam pembelajaran elektronik?
6.      Apa saja keuntungan dan kelemahan pembelajaran elektronik?
7.      Apa saja langkah – langkah dalam resourced based learning?
8.      Apa saja keuntungan dan kelemahan dalam resourced based learning?
9.      Apa saja unsur – unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif?
10.  Apa saja karakteristik pembelajaran kooperatif?
11.  Bagaimana langkah – langkah yang dilakukan dalam pembelajaran kooperatif?
12.  Apa saja dasar pertimbangan pelaksanaan pembelajaran kooperatif?
13.  Apa saja model pembelajaran kooperatif?
14.  Apa saja kelebihan dan kelemahan dalam pembelajaran kooperatif?

C.    Tujuan Penulisan
Makalah ini disusun untuk dapat memenuhi tujuan-tujuan yang dapat bermanfaat bagi kelompok kami atau para pembaca lainnya, dalam pemahaman prosedur dan sistem kerja. Secara terperinci tujuan dari makalah ini adalah :
1.      Memenuhi kriteria penilaian tugas mata kuliah Strategi Belajar Mengajar
2.      Mengetahui pengertian pembelajaran elektronik, resources based learning dan pembelajaran kooperatif
3.      Mengetahui dan memahami lebih dalam mengenai pembelajaran elektronik, resources based learning dan pembelajaran kooperatif


















BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Pengertian E-Learning
Menurut Prof. Dr. Sulistyoweni Widanarko ”E-Learning adalah proses pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) secara sistematis dengan mengintegrasikan semua komponen pembelajaran, termasuk interaksi pembelajaran lintas ruang dan waktu, dengan kualitas yang terjamin”. Sedangkan menurut Allan J. Henderson ”E-learning adalah pembelajaran jarak jauh yang menggunakan teknologi komputer, atau biasanya Internet, Henderson menambahkan juga bahwa e-learning memungkinkan pembelajar untuk belajar melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti pelajaran di kelas”. Menurut Maryati ”e-learning merupakan pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika, khususnya perangkat komputer”. Sedangkan menurut Matthew Comerchero dalam bukunya yang berjudul E-Learning, Concepts and Techniques mendefinisikan ”E-learning adalah sarana pendidikan yang mencakup motivasi diri sendiri, komunikasi, efisiensi, dan teknologi”.
Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran elektronik atau E-learning adalah suatu kegiatan belajar mengajar jarak jauh yang dilakukan oleh seorang pendidik dengan para peserta didik dengan menggunakan teknologi komputer atau biasa disebut dengan internet.

B.     Pengertian Resource Based Learning
Model pembelajaran berdasarkan sumber (resource based leraning) menurut Sagala (2010:65) adalah segala bentuk belajar yang langsung menghadapkan murid dengan suatu atau sejumlah secara sumber belajar secara individual atau kelompok dengan segala kegiatan belajar yang bertalian dengan hal tersebut. Sedangkan model pembelajaran berdasarkan sumber (resource based leraning) menurut Percival dan Ellington (1988,dikutip oleh Siregar dan Nara ,2011: 135) suatu model pembelajaran yang berorientasi pada siswa dengan menggunakan sumber belajar manusiawi dan non manusiawi secara optimal.
Dari dua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis aneka sumber (Resource based learning) adalah model pembelajaran yang membebaskan siswa untuk menggunakan berbagai macam sumber belajar yang dapat membantu siswa dalam memecahkan masalah, menemukan, dan meneliti dengan langkah-langkah yang sudah ditentukan.
Nasution (2011:18) menyatakan bahwa resource based learning merupakan segala bentuk belajar yang langsung menghadapkan murid dengan suatu atau sejumlah sumber belajar secara individual atau kelompok dengan segala kegiatan belajar yang berhubungan dengan hal tersebut. Menurut pengertian ini, resource based learning merupakan bentuk belajar yang membebaskan siswa untuk menggunakan sumber belajar dalam belajar untuk memecahkan masalah belajarnya atau mencapai tujuan yang diharapkan. Resource Based Learning dapat digunakan dalam pelajaran berprogram atau modul yang mengikuti langkah- langkah yang telah ditentukan, atau dalam melakukan tugas yang bebas berdasarkan teknik pemecahan masalah, penemuan, dan penelitian, bergantung kepada keputusan guru serta kemungkinan yang ada dalam rangka kurikulum yang berlaku di sekolah itu.
Sejalan dengan hal tersebut guru mempunyai pilihan untuk menggunakan alat pengajaran atau tidak. Kebanyakan guru tidak merasa perlu untuk membuat atau menggunakannya namun learning resource atau sumber belajar yang digunakan harus sesuai karena sumber belajar tersebut ditujukan kepada murid. Dengan menggunakan sumber belajar sebagai alat pengajaran diharapkan memupuk sikap positif terhadap belajar, untuk menyelidiki dan menemukan sendiri, memupuk pengertian, memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar sendiri dengan bimbingan guru, dan membangun kepercayaan atas kesanggupan sendiri. Hal ini didukung oleh pendapat Jerome S.Bruner (dikutip oleh nasution,2011:21) yang sangat menganjurkan kemampuan anak untuk menemukan sendiri pengetahuannya.
Pengertian modul menurut Houston & Houson (1992,dikutip oleh Wena,2009:230) adalah seperangkat aktivitas yang bertujuan mempermudah siswa untuk mencapai seperangkat tujuan pembelajaran. Dari definisi tersebut dapat dikatakan bahwa modul adalah suatu paket belajar yang lengkap yang terdiri atas serangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu siswa mencapai sejumlah tujuan yang dirumuskan secara khusus dan jelas.
Jadi, dengan menggunakan Resource Based Learning di dalam proses pembelajaran dengan bimbingan guru peserta didik mampu belajar berprogram dengan menggunakan modul sesuai langkah-langkah yang sudah ditentukan, mampu memecahkan masalah,menemukan, dan meneliti dengan teknik bervariasi.

C.    Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran yang dikembangkan dari teori kontruktivisme karena mengembangkan struktur kognitif untuk membangun pengetahuan sendiri melalui berpikir rasional (Rustaman et al., 2003: 206).
Sistem pembelajaran gotong royong atau cooperative learning merupakan sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur. Anita Lie (2008:28), menyebut pembelajaran kooperatif dengan istilah pembelajaran gotong royong yaitu sistem pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerjasama dengan siswa-siswa lain dalam tugas yang terstruktur. Ada lima unsur dasar pembelajaran cooperative learning yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan model pembelajaran kooperatif dengan benar akan menunjukkan pendidik mengelola kelas lebih efektif.
Pembelajaran kooperatif dikenal dengan pembelajaran secara berkelompok. Tetapi belajar kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdepedensi efektif diantara anggota kelompok (Sugandi, 2002:14). Hubungan kerja seperti itu memungkinkan timbulnya persepsi yang positif tentang apa yang dapat dilakukan siswa untuk mencapai keberhasilan belajar berdasarkan kemampuan dirinya secara individu dan andil dari anggota kelompok lain selama belajar bersama dalam kelompok.
Jadi pada pembelajaran kooperatif ini siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam kelompok, saling memimpin, saling bertanggung jawab dalam kesetaraan pembelajaran yang senasib dan sepenanggungan, menciptakan hubungan antar personal, saling mendukung, membantu dan saling peduli dalam mencapai tujuan yaitu keberhasilan dalam menguasai materi belajar.
Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang anggotanya bersifat heterogen, terdiri dari siswa dengan prestasi tinggi, sedang, dan rendah, perempuan dan laki-laki dengan latar belakang etnik yang berbeda untuk saling membantu dan bekerja sama mempelajari materi pelajaran agar belajar semua anggota maksimal.






BAB III
PEMBAHASAN

A.    E-Learning
1.      Sejarah dan Perkembangan E-learning
E-learning atau pembelajaran elektronik pertama kali diperkenalkan oleh universitas Illinois di Urbana-Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruction ) dan komputer bernama PLATO. Sejak itu, perkembangan E-learning dari masa ke masa adalah sebagai berikut:
a.       Tahun 1990 : Era CBT (Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi e-learning yang berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (Video dan AUDIO) DALAM FORMAT mov, mpeg-1, atau avi.
b.      Tahun 1994 : Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara massal.
c.       Tahun 1997 : LMS (Learning Management System). Seiring dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak , dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Commettee), IMS, SCORM, IEEE LOM, ARIADNE, dsb.
d.      Tahun 1999 sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi e-learning berbasis Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah, dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia , video streaming, serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih standar, dan berukuran kecil.

2.      Fitur – fitur E-learning
Menurut Clark & Mayer, e-learning memiliki fitur – fitur sebagai berikut :
Ø  Konten yang relevan dengan tujuan belajar.
Ø  Menggunakan metode instruksional seperti contoh dan praktek untuk membantu belajar.
Ø  Menggunakan elemen media seperti kalimat dan gambar untuk mendistribusikan konten dan metode belajar.
Ø  Pembelajaran dapat secara langsung dengan instruktur ataupun belajar secara individu.
Ø  Membangun wawasan dan teknik baru yang dihubungkan dengan tujuan belajar.

3.      Aspek Penting dalam E-learning
a.       E-learning menciptakan solusi belajar formal dan informal.
Salah satu kesalahan berpikir tentang e-learning adalah e-learning hanya menciptakan sistem belajar secara formal, seperti dalam bentuk kursus. Namun faktanya adalah saat ini 80% pembelajaran didapat secara informal. Banyak orang saat beraktivitas sehari - hari dan menghadapi suatu masalah membutuhkan solusi secepatnya. Dalam hal ini, e-learning haruslah memiliki karakteristik berikut:
Ø  Just in time atau tersedia untuk pengguna ketika mereka membutuhkannya untuk menyelesaikan tugasnya.
Ø  On demand atau tersedia setiap saat.
Ø  Bite Sized atau tersedia dalam ukuran yang kecil agar dapat digunakan secara  cepat.
b.      E-learning menyediakan akses keberbagai macam sumber pembelajaran baik itu konten ataupun manusia.
Kesalahan lainnya dalam berpikir tentang e-learning bahwa e-learning hanya membuat kontens aja, sebenarnya e-learning adalah sebuah aktivitas sosial. E- learning menyediakan pengalaman belajar yang kuat melalui komunitas online pengguna e-learning. Karena manusia adalah makhluk sosial, jadi ada banyak kesempatan untuk berkomunikasi, berkolaborasi, dan berbagi ilmu antara sesama pengguna e-learning.
c.       E-learning mendukung sekelompok orang atau grup untuk belajar bersama.
E-learning bukan aktivitas individu saja, tetapi juga mendukung sekelompok orang  atau grup untuk belajar bersama, baik untuk berkomunikasi, berkolaborasi, berbagi ilmu dan membentuk sebuah komunitas online yang dapat dilakukan secara langsung (synchronous) atau tidak langsung (asynchronous).
d.      E-learning membawa pembelajaran kepada pelajar bukan pelajar ke pembelajaran.
Bentuk pembelajaran tradisional bahwa pelajar harus pergi keluar untuk mencari pembelajaran mereka sendiri. Sedangkan Model e-learning disebut juga Pull Model of Learning.

4.      Strategi E-Learning
Dalam pengembangan suatu aplikasi e-learning perlu diperhatikan bahwa materi yang ditampilkan harus menunjang penyampaian informasi yang benar, tidak hanya mengutamakan sisi keindahan saja, tetapi harus memperhatikan dengan seksama teknik belajar – mengajar yang digunakan serta memperhatikan teknik evaluasi kemajuan peserta didik dan penyimpanan data kemajuan peserta didik. Menurut Koswara (2006) ada beberapa strategi pengajaran yang dapat diterapkan dengan menggunakan teknologi e-learning adalah sebagai berikut :
a.       Learning by doing.
Simulasi belajar dengan melakukan apa yang hendak dipelajari. Contohnya adalah simulator penerbangan (flight simulator), dimana seorang calon penerbang dapat dilatih untuk melakukan penerbangan suatu pesawat tertentu seperti ia berlatih dengan pesawat yang sesungguhnya
b.      Incidental learning.
Tidak semua hal menarik untuk dipelajari, oleh karena itu dengan strategi ini seorang peserta didik dapat mempelajari sesuatu melalui hal lain yang lebih menarik, dan diharapkan informasi yang sebenarnya dapat diserap secara tidak langsung. Misalnya mempelajari geografi dengan cara melakukan “perjalanan maya” ke daerah-daerah wisata.
c.       Learning by reflection.
Mempelajari sesuatu dengan mengembangkan ide atau gagasan tentang subyek yang hendak dipelajari. Peserta didik didorong untuk mengembangkan suatu ide atau gagasan dengan cara memberikan informasi awal dan aplikasi akan “mendengarkan” dan memproses masukan ide atau gagasan dari peserta didik untuk kemudian diberikan informasi lanjutan berdasarkan masukan dari peserta didik.
d.      Case-based learning.
Mempelajari sesuatu berdasarkan kasus – kasus yang telah terjadi mengenai subyek yang hendak dipelajari. Strategi ini tergantung kepada narasumber ahli dan kasus-kasus yang dapat dikumpulkan tentang materi yang hendak dipelajari. Peserta didik dapat mempelajari suatu materi dengan cara menyerap informasi dari narasumber ahli tentang kasus-kasus yang telah terjadi atas materi tersebut.

e.       Learning by exploring.
Mempelajari sesuatu dengan cara melakukan eksplorasi terhadap subyek yang hendak dipelajari. Peserta didik didorong untuk memahami suatu materi dengan cara melakukan eksplorasi mandiri atas materi tersebut. Aplikasi harus menyediakan informasi yang cukup untuk mengakomodasi eksplorasi dari Peserta didik. Mempelajari sesuatu dengan cara menetapkan suatu sasaran yang hendak dicapai (goal-directed learning). Peserta didik diposisikan dalam sebagai seseorang yang harus mencapai tujuan dan aplikasi menyediakan fasilitas yang diperlukan dalam melakukan hal tersebut, kemudian peserta didik menyusun strategi mandiri untuk mencapai tujuan tersebut.

5.      Manfaat E-Learning
Ada beberapa manfaat pembelajaran elektronik atau e-learning, di antaranya adalah:
a.       Pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).
b.      Bertambahnya Interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (interactivity enhancement).
c.       Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (global audience).
d.      Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities).
Selain itu, manfaat e-learning juga dapat dilihat dari 2 sudut pandang :
a.       Manfaat bagi siswa
Dengan kegiatan e-Learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi. Artinya, kita dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang. Selain itu kita juga dapat berkomunikasi dengan guru/dosen setiap saat, misalnya melalui chatting dan email. Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses melalui internet, maka kita dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja, juga tugas-tugas pekerjaan rumah dapat diserahkan kepada guru/dosen begitu selesai dikerjakan.
b.      Manfaat bagi pengajar.
Dengan adanya kegiatan e-Learning manfaat yang diperoleh guru/dosen antara lain adalah bahwa guru, dosen dan instruktur akan lebih mudah melakukan pembaruan materi maupun model pengajaran sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi, juga dapat dengan efisien mengontrol kegiatan belajar siswanya.

6.      Keuntungan dan Kelemahan menggunakan E-learning
a.       Keuntungan menggunakan e-Learning diantaranya sebagai berikut :
Ø  Fleksibel karena siswa dapat belajar kapan saja, di mana saja, dan dengan tipe pembelajaran yang berbeda-beda.
Ø  Menghemat waktu proses belajar mengajar.
Ø  Mengurangi biaya perjalanan.
Ø  Menghemat biaya pendidikan secara keseluruhan (infrastruktur, peralatan, buku-buku).
Ø  Menjangkau wilayah geografis yang lebih luas.
Ø  Melatih pembelajar lebih mandiri dalam mendapatkan ilmu pengetahuan.
b.      Kelemahan menggunakan e-learning diantaranya sebagai berikut :
Ø  Karena e-learning menggunakan teknologi informasi, tidak semua orang terutama orang yang masih awam dapat menggunakannya dengan baik.
Ø  Membuat e-learning yang interaktif dan sesuai dengan keinginan pengguna membutuhkan programming yang sulit, sehingga pembuatannya cukup lama.
Ø  E-learning membutuhkan infrastruktur yang baik sehingga membutuhkan biaya awal yang cukup tinggi.

B.     Resources Based Learning/Modul
1.      Langkah-Langkah Pelaksanaan Resources Based Learning
Langkah-langkah untuk melaksanakan model pembelajaran resource based leraning yaitu:
a.       Guru melaksanakan pembelajaran matematika dengan menggunakan model Resource Based Learning.
b.      Pengenalan materi matematika dan penyelesaiannya.
c.       Guru memberikan contoh soal dan cara mengembangkannya menjadi sub sub pertanyaan dan penyelesaiannya.
d.      Guru membagi siswa dalam kelompok kelompok.
e.       Guru membagi lembar kerja.
f.       Siswa menyelesaikan masalah matematika yang diajukan secara berkelompok.
g.      Guru membimbing, mengawasi, dan membantu siswa yang mengalami kesulitan menyelesaikan masalah matematika.
h.      Siswa menuliskan hasil diskusi kelompok ke dalam lembar hasil diskusi.
i.        Masing masing kelompok yang telah selesai melakukan diskusi harus melaporkan kerja kelompoknya kepada guru.
j.        Guru meminta beberapa kelompok yang sudah selesai untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas.
k.      Guru menegaskan kembali hasil diskusi yang telah disajikan siswa.
l.        Guru melakukan evaluasi terhadap hasil diskusi siswa.
m.    Mengadakan ulangan harian.

2.      Kelebihan Dan Kekurangan Resources Based Learning
Belajar dengan menggunakan aneka sumber atau resource based leearning mempunyai banyak kelebihan dan manfaat. Menurut Nasution (2011:26-28) mengemukakan kelebihan resource based learning ada 7 manfaat yaitu:
a.       Memberi kesempatan untuk merencanakan kegiatan belajar dengan mempertimbangkan sumber-sumber yang tersedia.
b.      Memberi pengertian kepada siswa tentang luas dan aneka ragamnya sumber-sumber informasi yang dapat dimanfaatkan untuk belajar sehingga akan menambah dan memperluas cakrawala sains dalam diri siswa.
c.       Mendorong minat siswa untuk belajar aktif, berpikir lebih kritis, merangsang untuk bersikap lebih positif dan merangsang untuk berkembang lebih jauh untuk mencapai tujuan hidup serta melibatkan diri dalam pendidikannya.
d.      Meningkatkan motivasi belajar dengan menyajikan berbagai kemungkinan tentang bahan pelajaran, metode kerja, dan medium komunikasi.
e.       Memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja menurut kecepatan dan kesanggupan masing-masing dan tidak dipaksa bekerja menurut kecepatan yang sama dalam hubungan kelas.
f.       Lebih fleksibel dalam penggunaan waktu dan ruang belajar.
g.      Mengembangkan kepercayaan akan diri sendiri dalam hal belajar yang memungkinkannya untuk melanjutkan belajar sepanjang hayat.
Sedangkan kelemahan dari model pembelajaran Resource Based Learning sebagai berikut :
a)      Diperlukan bimbingan dari guru untuk melakukan kegiatan dengan menggunakan bahan atau alat dalam belajar.
b)      Guru harus memperhatikan waktu, karena pembelajaran bisa lama atau lebih pendek semua bergantung pada guru untuk mengorganisasikan waktu.





C.    Pembelajaran Kooperatif
1.      Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Slavin (2005) mengemukakan tujuan yang paling penting dari model pembelajaran kooperatif adalah untuk memberikan para siswa pengetahuan, konsep, kemampuan, dan pemahaman yang mereka butuhkan supaya bisa menjadi anggota masyarakat yang bahagia dan memberikan kontribusi. Slavin (2005) mengemukakan bahwa tujuan model pembelajaran kooperatif adalah menciptakan norma-norma yang proakademik di antara para siswa, dan norma-norma pro-akademik memiliki pengaruh yang amat penting bagi pencapaian siswa.
Arend (1997, dalam Ibrahim, 2000:7-9) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial.
Pertama, pada pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik pada siswa dengan kemampuan rendah maupun kemampuan tinggi yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik (Slavin, 1995). Siswa kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah. Jadi siswa dengan kemampuan rendah memperoleh bantuan dari teman sebaya yang punya kemampuan lebih tinggi tetapi mempunyai orientasi bahasa yang sama. Dalam proses tutorial ini, siswa dengan kemampuan tinggi akan meningkat kemampuan akademiknya karena memberi pelayanan tutor membutuhkan pemikiran lebih mendalam tentang hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tertentu.
Tujuan ke dua dari pembelajaran kooperatif adalah penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial, kemampuan akademik maupun jenis kelamin. Pembelajaran kooperatif memberi peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain untuk menyelesaikan tugas-tugas bersama. Mereka dilatih untuk saling menghar-gai satu sama lain.
Tujuan ke tiga adalah pengembangan keterampilan sosial. Pembelajaran kooperatif mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerjasama dan kolaborasi. Keterampilan ini amat penting untuk dimiliki siswa karena saat ini banyak pekerjaan orang dewasa di masyarakat  yang dilakukan dalam suatu organisasi yang membutuhkan kerja kolaborasi, dimana satu dengan yang lain saling membutuhkan dan saling mengisi.

2.      Unsur-unsur Dasar dalam Pembelajaran Kooperatif
Ada 4 unsur pokok model pembelajaran kooperatif, yaitu: 1. adanya peserta dalam kelompok, 2. adanya aturan kelompok, 3. adanya upaya belajar setiap anggota kelompok, dan 4. adanya tujuan yang akan dicapai (Sanjaya, 2009: 241).
a.       Adanya Peserta dalam Kelompok
Peserta pembelajaran kooperatif adalah para siswa yang melakukan kegiatan belajar secara berkelompok. Pengelompokan siswa bisa dilakukan berdasarkan beberapa pertimbangan, misalnya minat, bakat kemampuan akademis, dst. Pertimbangan apapun yang dipilih dalam mengelompokkan siswa, tujuan pembelajaran harus yang diutamakan.
b.      Adanya Aturan Kelompok
Aturan kelompok merupakan sesuatu yang telah disepakati oleh pihak-pihak yang terlibat, baik siswa sebagai peserta didik maupun siswa sebagai anggota kelompok.
c.       Adanya Upaya Belajar Setiap Anggota Kelompok
Upaya belajar merupakan segala aktivitas siswa untuk meningkatkan kemampuan, baik kemampuan yang telah dimiliki, maupun kemampuan yang baru. Aktivitas belajar siswa dilakukan secara berkelompok, sehingga diantara mereka terjadi saling membelajarkan melalui tukar pikiran, pengalaman, maupun gagasan.

d.      Adanya Tujuan yang Akan Dicapai
Aspek tujuan dalam model pembelajaran ini dimaksudkan untuk memberikanb arah pada perencanaan, pelaksanaan, dan juga evaluasi. Dengan adanya tujuan yang jelas, setiap anggota kelompok dapat memahami sasaran setiap aktivitas belajar.
Anita Lie (2008:28)  mengatakan untuk mencapai hasil yang optimal lima unsur model pembelajaran gotong royong atau pembelajaran kooperatif harus diterapkan, yaitu:
a.       Saling ketergantungan positif, dimana keberhasilan kelompok tergantung pada usaha setiap anggotanya.
b.      Tanggung jawab perseorangan, sebagai akibat dari unsur pertama maka setiap anggota kelompok harus bertanggung jawab atas keberhasilan kelompok.
c.       Tatap muka, setiap anggota harus bertemu dan berdiskusi, kegiatan interaksi ini membantu siswa untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota.
d.      Komunikasi antar anggota, dimana keberhasilan kelompok tergantung pada kesediaan para anggota untuk saling mendengar dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka.
e.       Evaluasi proses kelompok, dimana evaluasi sangat penting untuk perbaikan kegiatan kelompok lebih efektif. Pelaksanaan tidak harus setiap kali ada kerja kelompok tetapi bisa diadakan selang beberapa waktu setelah beberapa pemebelajaran cooperrative learning.
Unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif menurut Lungdren (1994), seperti yang di kutip oleh Isjoni (2011: 16) sebagai berikut:
a.       Para siswa harus memiliki pandangan bahwa mereka adalah senasib.
b.      Para siswa harus memiliki tanggung jawab siswa lain dalam kelompoknya dalam mempelajari materi yang dihadapi.
c.       Para siswa harus berpandangan bahwa mereka mempunyai tujuan yang sama.
d.      Para siswa berbagi tugas dan tanggung jawab diantara para anggotanya.
e.       Para siswa diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi kelompok.
f.       Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh ketrampilan bekerja sama selama belajar.
g.      Setiap siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Pembelajaran kooperatif dapat berjalan dengan efektif pada diri siswa bila ditanamkan unsur-unsur dasar belajar kooperatif. Dengan dilaksanakan pemblajaran kooperatif secara berkesinambungan dapat dijadikan sarana bagi guru untuk melatih dan mengembangkan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik siswa, khususnya ketrampilan sosial untuk bekal hidup di masyarakat. Keberhasilan siswa pada pembelajaran ini juga berdampak pada keberhasilan guru dalam mengelola kelasnya (Isjoni, 2011:102).

3.      Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif mempunyai karakter tertentu sehingga dapat dibeda-kan dengan pembelajaran lainnya. Arend (2004:316) mengemukakan bahwa ada empat karekteristik pembelajaran kooperatif, yaitu: (a) siswa bekerja dalam tim-tim untuk menguasai materi pelajaran; (b) tim tersusun dari siswa dengan kemampuan tinggi, sedang, dan  rendah; (c) jika mungkin, dalam satu tim terdiri dari campuran dari berbagai suku, budaya, dan jenis kelamin; dan (d) penghargaan diorientasikan pada kelompok maupun individu.
Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling berhubungan. Elemen-elemen yang sekaligus merupakan karakteristik pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut: saling ketergantungan positif, interaksi tatap muka, akuntabilitas individual, dan keterampilan hubungan antar pribadi (Nurhadi dan Senduk, 2003: 60). Berikut penjelasan untuk masing-masing elemen.
a.       Saling Ketergantungan Positif
Saling ketergantungan positif adalah hubungan yang saling membutuhkan. Saling ketergantungan positif menuntut adanya interaksi promotif yang memungkinkan sesama siswa saling memberikan motivasi untuk meraih hasil yang optimal, yang dicapai melalui: a. saling ketergantungan pencapaian tujuan, b. saling ketergantungan dalam menyelesaikan tugas, c. saling ketergantungan bahan atau sumber belajar, d. saling ketergantungan peran, dan saling ketergantungan hadiah.
b.      Interaksi Tatap Muka
Interaksi tatap muka terwujud dengan adanya dialog yang dilakukan bukan hanya antara siswa dengan guru tetapi juga antara siswa dengan siswa. Interaksi semacam itu memungkinkan para siswa dapat saling menjadi sumber belajar. Fakta seperti itu dibutuhkan karena ada siswa yang merasa lebih mudah belajar dari sesama siswa.
c.       Akuntabilitas Individual
Pembelajaran kooperatif terwujud dalam bentuk belajar kelompok. Meskipun demikian penilaian tertuju pada penguasaan materi belajar secara individual. Hasil penilaian pada kemampuan individual tersebut selanjutnya disampaikan guru kepada kelompok agar semua anggota kelompok mengetahui siapa diantara mereka yang memerlukan bantuan dan yang dapat memberikan bantuan.
d.      Keterampilan Menjalin Hubungan antar Pribadi
Dalam pembelajaran kooperatif keterampilan menjalin hubungan antar pribadi (interpersonal relationship) dikembangkan. Pengembangan kemampuan tersebut dilakukan dengan melatih siswa untuk bersikap tenggang rasa, sopan, mengkritik ide bukan pribadi, tidak mendominasi pembicaraan, menghargai pendapat orang lain, dst.
Sedangkan Slavin (1995: 12-13) mengemukakan enam tipologi pembelajaran kooperatif, yaitu adanya: (a) tujuan-tujuan kelompok; (b) tanggung jawab individu; (c) peluang yang sama untuk sukses; (d) kompetisi tim; (e) spesialisasi tugas; dan (f) penyesuaian pada kebutuhan individu. Ke enam tipologi tersebut menjadi karak-teristik pokok dalam pembelajaran kooperatif. Walaupun menggunakan tipe-tipe pembelajaran kooperatif yang berbeda, namun ke enam hal di atas harus tampak dalam proses pembelajaran, sehingga menampakkan hal yang berbeda dengan metode kooperatif tradisional.
4.      Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif mempunyai 6 langkah/tahapan utama (Arend, 2004:371; Ibrahim dan kawan-kawan, 2000:11). Tahapan pertama dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran, setting  pembelajaran, dan memotivasi siswa untuk belajar. Fase ini diikuti oleh penyajian materi yang sering kali berupa bahan bacaan daripada penyampaikan secara verbal. Selanjutnya siswa dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti dengan bimbingan guru pada saat siswa bekerjasama untuk menyelesaikan tugas bersama mereka. Fase terakhir pembelajaran kooperatif adalah presentasi hasil akhir kerja kelompok, atau evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari dan memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu.
Setiap langkah pembelajaran kooperatif membutuhkan perilaku guru yang berbeda. Perilaku guru yang harus tampak pada setiap tahap dirangkum dalam tabel di bawah ini:
Ø  Fase 1: Menjelaskan tujuan dan setting pembelajaran serta memotivasi siswa
Tingkah laku guru: Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, dan setting atau langkah-langkah pembelajaran yang akan dilakukan, serta memotivasi siswa untuk belajar.
Ø  Fase 2: Menyajikan informasi
Tingkah laku guru: Guru menyajikan informasi kepada siswa secara verbal, demonstrasi, maupun lewat bahan bacaan.
Ø  Fase 3: Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar
Tingkah laku guru: Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Ø  Fase 4: Memandu kelompok bekerja dan belajar
Tingkah laku guru: Guru memandu kelompok-kelompok agar  mengerjakan tugas-tugas mereka
Ø  Fase 5: Melaksanakan Tes
Tingkah laku guru: Guru menilai penguasaan siswa terhadap materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
Ø  Fase 6: Memberikan penghargaan
Tingkah laku guru: Guru mencari cara-cara untuk memberi penghargaan usaha dan hasil belajar individu maupun kelompok

5.      Dasar Pertimbangan Pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif
Pelaksanaan model pembelajaran kooperatif didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu (Sanjaya, 2009: 243), yaitu sebagai berikut.
a)      Guru menekankan pentingnya usaha kolektif di samping usaha individudual dalam belajar.
b)      Guru menghendaki seluruh siswa berhasil dalam belajar.
c)      Guru ingin menunjukkan pada siswa bahwa siswa dapat belajar dari temannya,
d)     Guru ingin mengembangkan kemampuan komunikasi siswa.
e)      Guru menghendaki motivasi dan partisipasi siswa dalam belajar meningkat
f)       Guru menghendaki berkembangnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan menemukan berbagai solusi pemecahan.
6.      Metode dalam Model Pembelajaran Kooperatif
Ada 4 metode yang dapat dilaksanakan oleh guru dalam pelaksanaan model pembelajaran kooperatif (Trianto, 2007: 49). Keempat metode dimaksud adalah: metode STAD, Metode Jigsaw, Metode GI (group investigation), dan metode struktural.
a.       Metode STAD
STAD kependekan dari Student Team Achievement Divisions. Metode ini dikembangkan oleh Robert Slavin dkk. dari Universitas John Hopkins. Dalam metode STAD guru membagi siswa suatu kelas menjadi beberapa kelompok kecil atau tim belajar dengan jumlah anggota setiap kelompok 4 atau 5 orang siswa secara heterogen. Setiap anggota tim menggunakan lembar kerja akademik dan saling membantu untuk menguasai materi ajar melalui tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota tim. Secara individual atau kelompok setiap satu atau dua minggu dilakukan evaluasi oleh guru untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap materi yang telah mereka pelajari. Setelah itu seluru siswa dalam kelas tersebut diberikan materi tes tentang materi ajar yang telah mereka pelajari. Pada saat menjalani tes mereka tidak diperbolehkan saling membantu.Sintaks metode STAD terdiri atas 6 fase (Trianto, 2007: 54), yaitu sebagai berikut ini:
Ø  Fase ke-1: menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan memotivasi siswa untuk aktif belajar.
Ø  Fase ke-2: menyajikan materi ajar kepada siswa dengan jalan mendemonstrasikan atau melalui bahan bacaan.
Ø  Fase ke-3: menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar .
Ø  Fase ke-4: membimbing setiap kelompok belajar untuk belajar dan bekerja.
Ø  Fase ke-5: mengevaluasi hasil belajar dan kerja masing-masing kelompok.
Ø  Fase ke-6: Guru memberikan penghargaan pada para siswa baik sebagai individu maupun kelompok, baik karena usaha yang telah mereka lakukan maupun karena hasil yang telah meerka capai.
b.      Metode Jigsaw
Metode Jigsaw dikembangkan dan diuji oleh Elliot Aronson dan rekan-rekan sejawatnya (Arends, 2008: 13). Dalam metode Jigsaw para siswa dari suatu kelas dikelompokkan menjadi beberapa tim belajar yang beranggotakan 5 atau 6 orang secara heterogen. Guru memberikan bahan ajar dalam bentuk teks kepada setiap kelompok dan setiap siswa dalam satu kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari satu porsi materinya. Para anggota dari tim-tim yang berbeda tetapi membahas topik yang sama bertemu untuk belajar dan saling membantu dalam mempelajari topic tersebut. Kelompok semacam ini dalam metode Jigsaw disebut kelompok ahli (expert group). Pelaksanaan metode Jigsaw terdiri dari 6 langkah kegiatan (Trianto, 2007: 56-57) sebagai berikut:
Ø  Fase ke-1: Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok belajar. Setiap kelompok beranggotakan 5 – 6 orang siswa.
Ø  Fase ke-2: Guru memberikan materi ajar dalam bentuk teks yang telah terbagi menjadi beberapa sub materi untuk dipelajari secara khusus oleh setiap anggota kelompok.
Ø  Fase ke-3: Semua kelompok mempelajari materi ajar yang telah diberikan oleh guru.
Ø  Fase ke-4: Kelompok ahli bertemu dan membahas topik materi yang menjadi tanggung jawabnya.
Ø  Fase ke-5 : Anggota kelompok ahli kembali ke kelompok asal masing-masing (home teams) untuk membantu kelompoknya.
Ø  Fase ke-6: Guru mengevaluasi hasil belajar siswa secara individual.
c.       Metode Invenstigasi Kelompok (Group Investigation)
Metode investigasi kelompok dirancang oleh Herbert Thalen dan metode pembelajaran kooperatif yang paling kompleks dan paling sulit diimplementasikan (Arends, 2008: 14). Kompleksitas dan sulitnya implementasi metode ini dikarenakan keterlibatan siswa dalam merencanakan topik-topik materi ajar maupun cara mempelajarinya melalui investigasi. Pada metode investigasi kelompok, guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok secara heterogen yang masing-masing beranggota 5 atau 6 orang siswa. Siswa memilih topik-topik tertentu untuk dipelajari, melakukan investigasi mendalam terhadap sub-sub topik yang dipilih kemudian menyiapkan dan mempresentasikan hasil belajar di kelas. Sharan dkk. sebagaimana pendapatnya dikutip Arends (2008: 14) mendeskripsikan 6 langkah metode investigasi kelompok sebagai berikut.
Ø  Fase ke-1: pemilihan topik. Siswa memilih sub-sub topik tertentu dalam bidang permasalahan umum yang biasanya dibahas oleh guru. Selanjutnya siswa diorganisasikan ke dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggota 5 atau 6 orang.
Ø  Fase ke-2: perencanaan kooperatif. Siswa dan guru merencanakan prosedur pembelajaran, tugas dan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan sub-sub topik yang telah dipilih.
Ø  Fase ke-3: implementasi. Siswa melaksanakan rencana yang diformulasikan pada fase ke-2.
Ø  Fase ke-4: analisis dan sintesis. Siswa menganalisis dan mensistesis informasi yang diperoleh pada kegiatan fase ke-3.
Ø  Fase ke-5: presentasi hasil akhir. Beberapa atau semua kelompok melakukan presentasi di kelas tentang topik-topik yang mereka pelajari di bawah koordinasi guru.
Ø  Fase ke-6: evaluasi. Siswa dan guru mengevaluasi kontribusi masing-masing kelompok terhadap kerja kelas secara keseluruhan. Evaluasi dapat dilakukan secara individual, kelompok, atau keduanya.
d.      Metode Struktural
Metode struktural dikembangkan oleh Spencer Kagan dkk. Meskipun memiliki banyak persamaan dengan metode lainnya, metode structural menekankan penggunaan struktur tertent yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa. Dua macam struktur yang dapat dipilih guru untuk melaksanakan metode structural adalah think-pair-share dan numbered head together. Pelaksanaan think-pair-share terdiri 3 langkah : thinking, pairing, dan sharing (Arends, 2008: 15-16).
Ø  Langkah pertama: thinking (berpikir). Guru mengajukan sebuah pertanyaan yang terkait dengan materi ajar dan memberikan waktu satu menit kepada siswa untuk memikirkan sendiri jawabannya.
Ø  Langkah kedua: pairing (berpasangan). Guru meminta siswa untuk mendiskusikan secara berpasangan tentang apa yang siswa pikiran
Ø  Langkah ketiga: sharing (berbagi). Guru meminta pasangan-pasangan siswa tersebut untuk berbagi hasil diskusinya dengan seluruh siswa di kelas.

7.      Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif
Karli dan Yuliariatiningsih (2002: 72) mengemukakan kelebihan model pembelajaran kooperatif, yaitu:
a.       Dapat melibatkan siswa secara aktif dalam mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilannya dalam suasana belajar mengajar yang bersifat terbuka dan demokratis.
b.      Dapat mengembangkan aktualisasi berbagai potensi diri yang telah dimiliki oleh siswa.
c.       Dapat mengembangkan dan melatih berbagai sikap, nilai, dan keterampilan-keterampilan sosial untuk diterapkan dalam kehidupan di masyarakat.
d.      Siswa tidak hanya sebagai obyek belajar melainkan juga sebagai subyek belajar karena siswa dapat menjadi tutor sebaya bagi siswa lainnya.
e.       Siswa dilatih untuk bekerjasama, karena bukan materi saja yang dipelajari tetapi juga tuntutan untuk mengembangkan potensi dirinya secara optimal bagi kesuksesan kelompoknya.
f.       Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar memperoleh dan memahami pengetahuan yang dibutuhkan secara langsung, sehingga apa yang dipelajarinya lebih bermakna bagi dirinya.
Kelemahan pembelajaran kooperatif bersumber pada dua faktor, yaitu faktor dari dalam (intern) dan faktor dari luar (ekstern). Faktor dari dalam yaitu sebagai berikut.
a.       Guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, disamping itu memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran dan waktu;
b.      Agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar maka dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai;
c.       Selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada kecenderungan topik permasalahan yang sedang dibahas meluas sehingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, dan
d.      saat diskusi kelas, terkadang didominasi oleh seseorang, hal ini mengakibatkan siswa yang lain menjadi pasif.




 
BAB IV

STUDI KASUS

A.    Pembelajaran Elektronik
Sistem pembelajaran di SMA N 1 Sentolo masih menggunakan metode konvensional yaitu pembelajaran pada satu tempat atau dalam satu kelas, sekolah ini telah memiliki 2 unitlaboratorium komputer dengan jumlah PC sebanyak 40 yang terkoneksi ke jaringan internet dan lebih dari 10 orang guru memiliki kemampuan penggunaan komputer dan akses internet yang sangat memadai yang dapat menjadi motor penggerak penerapan e-Learning. Keberadaan peralatan komputer dan koneksi internet saat ini dirasakan masih belum optimal.Kondisi ini mendorong pihak sekolah untuk merintis pengembangan e-Learning  dan akan terusditingkatkan ketersediaan dan pemanfaatannya
            Analisis :
Seharusnya SMA N 1 Solo sudah harus menggunakan pembelajaran elektronik. Untuk memulainya, SMA N 1 Solo dapat menerapkannya di dalam satu mata pelajaran terlebih dahulu, contohnya adalah mata pelajaran TIK. Karena, pelajaran TIK sangat berkesinambungan dengan pembelajaran elektronik dan dengan menggunakan metode pembelajaran elektronik, para siswa akan mudah melakukan kegiatan belajar mengajar dengan guru tanpa harus bertatap muka langsung.

B. Pembelajaran Kooperatif
REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG – Pemerintah Indonesia sudah menyiapkan kurikulum baru untuk siswa tingkat SD, SMP, SMA dan SMK. Kurikulum ini nantinya dapat diterapkan pada tahun ajaran 2013-1014. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh, sebelumnya mengemukakan bahwa perubahan yang paling besar terjadi di tingkat SD.

Perubahan kurikulum ini akan bersifat tematik integratif. Siswa akan diajak untuk melihat, memerhatikan dan mengobservasi lingkungan.
Pendekatan ini juga akan menjadikan mata pelajaran IPA dan IPS menjadi materi pembahasan pada semua pelajaran. Ini berarti, mata pelajaran tidak diajarkan secara terpisah tetapi dilebur dalam mata pelajaran lainnya. Dengan kurikulum baru ini, mata pelajaran akan dilebur menjadi enam, yakni pendidikan agama; pendidikan pancasila dan kewarganegaraan; bahasa Indonesia; matematika; seni, budaya dan prakarya; pendidikan jasmani; olahraga dan kesehatan.  Untuk bahasa Inggris di SD, keberadaannya akan dipertahankan. Nantinya, bahasa Inggris tetap sebagai mata pelajaran kelompok muatan lokal dalam kurikulum 2013. Implikasinya, akan ada tantangan terhadap kualitas guru sekolah tersebut.
Menurut Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Sunaryo Kartadinata, jika memang terjadi perubahan tersebut, konsekuensinya terhadap pelatihan terhadap para guru. "Tidak serta merta guru bahasa misalnya dilatih untuk mengajar IPA, maka harus ada upaya kolaboratif dan pembelajaran kooperatif terhadap para guru," kata Sunaryo, Rabu (21/11). 
Analisis:
Dalam menghadapi kurikulum yang baru, dimana para siswa di tuntut untuk bisa mengeksplorasikan kemampuan mereka maka para pendidik atau guru harus menggunakan pembelajaran kooperatif, dimana para siswa dapat berkerjasama antara satu siswa dengan siswa lainnya dalam menyelesaikan suatu kasus.





 
BAB V

PENUTUP

1.      Kesimpulan
Terdapat banyak metode pembelajaran yang dapat di lakukan oleh para pendidik atau guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Semua model pembelajaran sangat penting dalam mensukseskan kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu, para guru harus menguasai berbagai macam model pembelajaran yang akan dilakukannya di dalam kegiatan belajar mengajar, karena setiap mata pelajaran memiliki criteria masing – masing.
2.      Saran
Dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar baik di dalam kelas maupun di luar kelas, para guru harus menguasai berbagai macam model pembelajaran yang akan di berikan kepada para siswanya.



DAFTAR PUSTAKA

Arend, R.I. 2004. Learning to Teach. New York. McGraw-Hill
http://indrayani.staff.ipdn.ac.id/?p=56 ( di akses pada tanggal 8 Febuari 2014)
http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran_elektronik (diakses pada tanggal 8 Febuari 2014)
http://www.zainalhakim.web.id/pengertian-e-learning.html (diakses pada tanggal 8 Febuari 2014)
Ibrahim, Rahmadiarti, Nur, dan Ismono. 200. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya. University Press UNESA.
Isjoni, (2011), Pembelajaran Kooperatif: Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi antar Peserta Didik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Koswara, E. 2005. Konsep Pendidikan Tinggi Berbasis E-learning : Peluang dan Tantangan. Prosiding
Lie, Anita, (2008), Cooperative Learning: mempraktekkan Cooperatif Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: Grasindo.
Nasution,S.2011.Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta : PT Bumi Aksara
Nurhadi dan Senduk, Agus Gerrad. (2003) Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.
Rustaman, N., Dirdjosoemarto, S., Yudianto, S.A., Achmad, Y., Subekti, R., Rochintaniawati, D., & Nurjhani, M. (2003). Common Text Book Strategi Belajar mengajar Biologi. (Edisi Revisi). Bandung: JICA-IMSTEP-UPI.
Sagala,Syaiful.2010. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta
Sanjaya, Wina. (2009) Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group.
Siregar dan Hartini Nara.2011.Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor : Ghalia Indonesia.
Slavin, R.E. 1994. Educational Psychology, Theory and Practice. Massacussett: Allyn and Bacon.
Slavin, R.E. 1995. Cooperative Learning: Theory, Research, and Practice. Massacussett: Allyn and Bacon.
Slavin, Robert E., (2005), Cooperative Learning: Teori, Riset, dan Praktek. Bandung: Nusa Media
Sugandi, A.I. (2002). Pembelajaran Pemecahan Masala Matmatika Melalui Model Belajar Kooperatif Tope Jigsaw. (Studi Eksperimen terhadap Siswa Kelas Satu SMU Negeri di Tasikmalaya). Tesis PPS UPI: Tidak diterbitkan.
Trianto. (2007) Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka