Selamat Datang Di Tugas Kuliahku, jika butuh softcopy, Silahkan email ke jhonmiduk8@gmail.com. Mohon donasi pulsa ke 081210668660 Untuk Kemajuan Blog, Terimakasih. Pengertian RIP (Rest in Peace) | Tugas Kuliahku

Pengertian RIP (Rest in Peace)



        RIP atau singkatan dari kata “Rest in Peace” adalah ungkapan umum bagi orang yang meninggal dalam agama Kristen maupun Katolik. Zaman sekarang, istilah RIP sudah mengglobal karena kata RIP begitu mudah diucapkan, mudah diingat, dilafalkan, dan yang jelas tidak ada kesulitan dalam mengucapkannya. Semua orang dari berbagai latar belakang agama, etnis, negara, suku, adat dan latar belakang lainnya mengucapkan kata-kata ini ketika seseorang sudah meninggal. Semua manusia di benua Amerika, Eropa, Afrika, Australia, dan sebagian besar Asia mengucapkan kata-kata ini juga. 

Sejarah kata R.I.P
            Istilah RIP merupakan bagian dari tata ibadah Katholik, biasa terdapat pada epitaph dan disenandungkan pada saat Misa Requiem. Keyakinan ini juga terdapat pada agama Yahudi. Epitaph RIP ditemukan pada nisan Bet Sheraim, umat Yahudi yang meninggal 1 abad sebelum tahun Masehi.[1]
            Variasi lain Requiescat in pace atau Rest in Pace dalam bahasa Inggris adalah penambahan kata “may (semoga)”. Ini terkait dengan keyakinan bahwa dosa yang bersangkutan ditebus. Ungkapan RIP dalam bentuk ringkas maupun panjang digunakan pada upacara pemakaman tradisional Yahudi. Pijakannya adalah Talmud kuno. RIP dalam bahasa Inggris, yakni Rest In Peace, tidak ditemukan pada kuburan sebelum abad VIII Masehi. Tetapi penggunaannya meluas setelah abad ke-XVIII.
            Ungkapan RIP pada agama Katholik terdapat dalam Misa Requiem (Missa Pro Defuncis) yang merupakan bagian dari ritus Tridente. Pasu (Emeritus) Benediktus XVI menyatakan Ritus Tridente (Tridentin) merupakan bentuk misa yang luar biasa. Ia mengeluarkan surat edaran pada tahun 2007 yang merupakan surat pribadi kepada seluruh gereja untuk menggunakan Misa Tridentin. Surat ini bermakna penegasan bahwa ungkapan RIP merupakan bagian tak terpisahkan. Motu Proprio (surat pribadi dengan tanda pribadi) paus Benediktus XVI (sekarang emeritus) menegaskan kedudukan Misa yang melembaga sejak tahun 1570 tersebut.
            RIP juga merupakan bagian penting dari semacam “pembersihan dosa secara keseluruhan” atau “pengampunan dosa”. Meski demikian pembersihan dosa yang dimaksud adalah sebuah permintaan kepada Tuhan, bukan berarti manusia tersebut bisa memastikan dosa yang besangkutan benar-benar binasa dengan hanya mengucap kata itu saja.
            Kata R.I.P merupakan sebuah konsekuaensi iman dan bagian dari peribadatan. Jika diterjemahkan secara langsung ke dalam bahasa Indonesia, kurang lebih seperti ini “beristirahatlah dengan damai atau tenang”. Dalam ajaran agama Kristiani, meninggal atau disebut istirahat harus diuapayakan agar selalu tenang dalam memenuhi panggilan-Nya. Tidak perlu memikirkan kehidupan duniawi lagi karena jiwa sudah terpisah dari raga. Istirahat dengan tenang berarti orang yang bersangkutan damai dan bahagia, yang meninggal boleh pergi dengan damai, yang ditinggalkan juga harus mampu mengiklaskannya dengan damai pula.  
Kontroversi
            Karena ucapan R.I.P lazim diucapkan oleh umat Nasrani, hal ini menjadi perdebatan bagi umat agama yang lain, terutama agama Islam. Dalam ajarannya umat Islam memiliki ucapan tersendiri jika seseorang dalam keadaan sudah tidak bernyawa yaitu “innaa illaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Ucapan itu memang tidak hanya merujuk kepada orang-orang yang meninggal saja, tetapi juga kepada orang-orang yang kekuarangan harta, kelaparan, ketakutan, kekurangan jiwa, dan buah-buahan. Seperti yang tertulis dalam ayat Al-Baqarah (2) : 155 dan 156 tertulis, “Dan sungguh akan kami berikat cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, -(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan , “Innaaillahiwainnaillahiroji’uun””.
            Akhir-akhir ini, ketika ada tokoh yang meninggal dunia (baik muslim maupun non-muslim), orang-orang lebih banyak menyebutkan R.I.P terutama mereka yang mengucapkan belasungkawa lewat media sosial, tidak peduli apakah agama mereka Muslim atau tidak, tetapi kata ini selalu menjadi lebih popular dikalangan Muslim juga. Dari beberapa jawaban komentar yang saya lihat di sebuah artikel blog tausyiah275.wordpress.com, mereka beralasan bahwa mengucapkan R.I.P itu lebih gampang, atau artinya bahkan “sama saja”. Beberapa orang muslim  yang saya wawancarai juga mengatakan bahwa pengucapan kata R.I.P kepada sesama yang meninggal tidak menjadi sebuah problem karena sejatinya artinya sama “mendoakan orang yang meninggal beristirahat dalam kedamaian”. Meski demikian, tidak sedikit dari mereka yang saya wawancarai membantah bahwa kata R.I.P bisa digunakan untuk sesame (terutama muslim) yang meninggal. Mereka yang membantah menegaskan dengan ayat Al-Bayyinah:6 “sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka jahanam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruknya makhluq.”  Ada juga alasan yang lain “Islam melarang keras mengucapkan selamat kepada kaum kafir”.
Konklusi
            Dari pendapat diatas, benar atau tidak, kontroversi yang dituntut oleh umat Muslim karena masalah kata R.I.P merupakan masalah internal Islam itu sendiri. Jika umat Nasrani sudah biasa dan membudayakan kata R.I.P dan umat Muslim melarangnya, ini merupakan kesalahan individu itu sendiri. Sebab pada intinya tidak agama yang salah, hanya manusianya yang kurang paham tentang ajaran agamanya sendiri.
            Jika kita menghubungkan masalah ini pada terjemahan langsung kedalam bahasa Indonesia, maka kata R.I.P (Rest in Peace) bisa diterjemahkan langsung menjadi istirahatlah dalam damai. Seolah-olah menganjurkan kepada pihak yang istirahat agar pergi dengan damai. Bagaimana dengan kata “innaa illaahi wa innaa ilaihi raaji’uun[2] yang tertuang dalam surat Al-Baqarah 2 : 156 ?. kata ini jika diterjemahkan langsung kedalam bahasa Indonesia akan menjadi Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali.[3] Ini merupakan ucapan yang dihaturkan jika menerima kabar duka cita seseorang. Muslim juga dituntut agar bersabar dan selalu menyebut ungkapan tersebut jika musibah mencobaIslam meyakini, jika seseorang mengucapkan kalimat ini ketika menerima kabar duka, maka Allah akan memberikan pahala.[4]
            Kita bisa melihat ada persamaan arti setidaknya sama-sama dianjurkan agar bersabar atau berada dalam damai. Sabar sudah tentu harus dalam keadaan damai. Jadi, istilah R.I.P dan innaa illaahi wa innaa ilaihi raaji’uun terdapat sebuah titik temu yang mengatakan harus dalam keadaan damai dan bersabar. Meski demikian, kedua istilah ini melekat dan bisa ditafsirkan secara lain oleh orang yang lain pula. Perbedaan daya tafsir akan selalu ada karena latar belakang manusia yang berbeda-beda, apalagi menyangkut masalah keyakinan. Penulis hanya berusaha mengungkapkan masalah yang ada dan beberapa titik terang dan solusi dalam mengatasi kontroversi yang terjadi. jika memang agama yang mengajarkan demikian, maka lakukanlah sesuai dengan ajaran agamamu, jangan ikut-ikutan. Namun, jika anda berniat hanya mengucapkan belasungkawa karena bermakna sama, itu urusan anda.

Penulis merupakan seorang mahasiswa yang juga merupakan seorang penulis di beberapa surat kabar, dan juga merupakan seorang Blogger.

@JhonMiduk




[1] David Patrick Cook, Patc Cook. 1975.
[2] Al-Baqarah 2: 156
[3] Id.m.wikipedia.org/wiki/Inna_illahi_raji%27un.
[4] Hadits riwayat oleh Ahmad dan Ibnu Majah. Kitab Al Bidayah wan Nihayah 8;221 oleh Ibnu Katsir.