Selamat Datang Di Tugas Kuliahku, jika butuh softcopy, Silahkan email ke jhonmiduk8@gmail.com. Mohon donasi pulsa ke 081210668660 Untuk Kemajuan Blog, Terimakasih. Ragam Bahasa | Tugas Kuliahku

Ragam Bahasa

Ragam Bahasa
Ragam Bahasa Indonesia
Ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara. Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik, yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.

Menurut Dendy Sugono (1999:9), bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi resmi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku.

Macam-macam ragam bahasa
1.     Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan media
Di dalam bahasa Indonesia disamping dikenal kosa kata baku Indonesia dikenal pula kosa kata bahasa Indonesia ragam baku, yang sering disebut sebagai kosa kata baku Indonesia baku. Kosa kata baku bahasa Indonesia memiliki ciri kaidah bahasa Indonesia ragam baku, yang dijadikan tolak ukur yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan penutur bahasa Indonesia, bukan otoritas lembaga atau instansi didalam menggunakan bahasa Indonesia ragam baku. Jadi, kosa kata itu digunakan  di dalam ragam baku bukan ragam santai atau ragam akrab. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan digunakannya kosa kata ragam baku di dalam pemakaian ragam-ragam yang lain asal tidak mengganggu makna dan rasa bahasa ragam yang bersangkutan.
Suatu ragam bahasa, terutama ragam bahasa jurnalistik dan hukum, tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk kosakata ragam bahasa baku agar dapat menjadi panutan bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Perlu diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku yang berkaitan dengan latar belakang pembicaraan (situasi pembicaraan), pelaku bicara, dan topik pembicaraan. Ragam bahasa Indonesia berdasarkan media dibagi menjadi dua yaitu:
a.      Ragam bahasa lisan
Adalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan,  terkait oleh ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan dapat membantu pemahaman. Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur di dalam kelengkapan unsure-unsur di dalam  struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan. Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidka menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dalam bentuk tulis, ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis. Ciri-ciri ragam lisan:
1.      Memerlukan orang kedua/teman bicara
2.      Tergantung situasi, kondisi, ruang dan waktu
3.  Hanya perlu intinasi serta bahasa tubuh
4.  Berlangsung cepat
5.  Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu
6.  Kesalahan dapat langsung dikoreksi
7.  Dibantu dengan gerak tubuh dan mimic wajah serta intonasi

b.      Ragam bahasa tulis
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsure dasarnya. Dalam rangka tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan) disamping aspek tata bahasa dan kosa kata. Dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntun adanya kelengkapan unsure tata bahasa seperti bentak kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengkapkan ide.
Contoh dari ragam bahasa tulis adalah surat, karya ilmiah, surat kabar, dll. Dalam ragam bahasa tulis perlu memperhatikan ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Terutama dalam pembuatan karya-karya ilmiah. Ciri ragam bahasa tulis:
1.    Tidak memerlukan kehadiran orang lain
2.    Tidak terikat ruang dan waktu
3.    Kosa kata yang digunakan dipilih secara cermat
4.    Pembentukan kata dilakukan secara sempurna
5.    Kalimat dibentuk dengan struktur yang lengkap
6.    Paragraf dikembangkanm secara lengkap dan padu
7.    Berlangsung lambat
8.    Memerlukan alat bantu

2.     Ragam Bahasa Berdasarkan Penutur
a.      Ragam Bahasa Berdasarkan Daerah (logat/dialek)
Luasnya pemakaiandapat menumbulkan perbedaan pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal di Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali, Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Misalnya logat bahasa Indonesia orang Jawa Tengah tampak pada pelafalan “b” pada posisi awal saat melafalkan nama-nama kota seperti Bogor, Bandung, Banyuwngi, dll. Logat bahasa Indonesia orang Bali tampat pada pelafalan “t” seperti pada kata ithu, kitha, canthik, dll.

b.       Ragam Bahasa berdasarkan Pendidikan Penutur
Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah, kompleks, vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas. Perbedaan ini juga terjadi dalam bilang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kita dalam kalimat pun seringmeninggalkan awalan yang seharusnya dipakai.

c.    Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur
Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur terhadap lawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan lawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak anatar penutur dan kawan docara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa atau bahan baku. Makib formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalnnya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Bahasa buku dipakai dalam:
1.    Pembicara dimuka umum, misalnya pidato kenegaraan, seminar, persentasi resmi, rapat memberikan kuliah atau pelajaran.
2.    Pembicara dengan orang yang dihormati, misalnya dengan atasan, guru doesen dan penjabat.
3.    Komnikasi resmi, misalnya surat dinas, surat lamaran pekerjaan dan undangan-undangan
4.    Wacana teknis, misalnya laporan penelitian, makalah, tesis dan disertasi.

3.     Ragam Bahasa menurut Pokok Pesoalan atau Bidang Pemakaian
Dalam kehidupan sehari-hari banyak pokok persoalan yang dibicarakan. Dalam membicarakan pokok persoalan yang berbeda-beda ini kita pun menggunakan ragam bahasa yang berbeda. Ragam bahasa yang digunakan dalam lingkungan agama berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan kedokteran, hukum, atau pers. Bahasa yang digunakan dalam lingkungan politik, berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkingan ekonomi/perdagangan , olah rasa, seni atau teknologi. Ragam bahasa yang digunakan menurut pokok persoalan atau bidang pemaikaian ini dikenal pula dengan istilah laras bahas.
Perbedaan itu tampak dalam pilihan atau penggunaan sejumlah kata/paristilahan/ungkapan yang khusu digunakan dalam bidang tersebut, misalnya masjid, gereja, vihara adalah kata-kata yang digunakan dalam bidang agama. Koroner, hipertensi, anemia, digunakan dalam bidang kedokteran. Improvisasi, maestro, kontemporer banyak digunakan dalam lingkungan seni. Kalimat yang digunakan pun berbeda sesuai dengan pokok persoalan yang dikemukakan. Kalimat dalam undang-undang berbeda dengan kalimat-kalimat dalam sastra, kalimat-kalimat dalam karya ilmiah, kalimat-kalimat dalam Koran ataupun majalah dan lain-lain.
a.    Ragam Bahasa Bisnis
Ragam bahas bisnis adalah ragam bahasa yang digunakan dalam berbisnis, yang biasa digunakan  oleh para pebisnis dalam menjalankan bisnisnya.
Ciri-ciri ragam bahasa bisnis :
·         Menggunakan bahasa yang komunikatif.
·         Bahasanya cenderung resmi.
·         Terikat ruang dan waktu.
·         Membutuhkan adanya orang lain.

b.    Ragam Bahasa Hukum
Ragam bahasa hukum adalah bahasa Indonesia yang corak penggunaan bahasanya khas dalam dunia hukum, mengingat fungsinya mempunyai karakteristik tersendiri, oleh karena itu bahasa hukum Indonesia haruslah memenuhi syarat-syarat dan kaidah-kaidah bahasa Indonesia.
Ciri-ciri ragam bahasa hukum :
·         Mempunyai gaya bahasa yang khusus.
·         Lugas dan eksak karena menghindari kesamaran dan ketaksaan.
·         Objektif dan menekan prasangka pribadi.
·         Memberikan definisi yang cermat tentang nama, sifat dan kategori yang diselidiki untuk menghindari kesimpangsiuran.

c.     Ragam Bahasa Fungsional
Ragam bahasa fungsional adalah ragam bahasa yang dikaitkan dengan profesi, lembaga, lingkungan kerja atau kegiatan tertentu lainnya. Ragam fungsional juga dikaitkan dengan keresmian keadaan penggunaannya.

d.    Ragam Bahasa Sastra
Ragam bahasa sastra adalah ragam bahasa yang banyak menggunakan kalimat tidak efektif. Penggambaran yang sejelas-jelasnya melalui rangkaian kata bermakna konotasi sering dipakai dalam ragam bahasa sastra.
Ciri-ciri ragam bahasa sastra :
·         Menggunakan kalimat yang tidak efektif
·         Menggunakan kata-kata yang tidak baku
·         Adanya rangkaian kata yang bermakna konotasi

4.  Berdasarkan waktu penggunaannya
Ragam bahasa Indonesia lama
Bahasa Indonesia zaman ini berkisar sejak zaman purbakala sampai kurang lebih tahun 1500. Bahasa Indonesia pada zaman itu oleh Kern Korm Branden diberi nama Oud Malay, sedangkan Ronkel, Wikinson, dan Winstendt menyebut Old Malay, serta Ferrand dan Coedes menyebut Vienx Malais.

Ragam Bahasa Indonesia Baru
Bahasa Indonesia pada zaman ini berkisar pada tahun 1900 sampai sekarang. Perkembangan bahasa Indonesia menurut M. Yamin tidak dimulai karena pengaruh Eropa atau naiknya kekuasaan Melayu tetapi telah ada sebelumnya sejak zaman lama, zaman pertengahan, zaman baru bahasa Indonesia menjadi bahasa pertemuan penduduk Austraonesia.

5.     Berdasarkan daerah pemakaian berbagai dialek di seluruh Indonesia
                  Bahasa yang dipakai disuatu daerah berbeda dari bahasa Indonesia yang dipakai daerah lainnya, misalnya bahasa Indonesia yang dipakai oleh orang yang tinggal di wilayah Irian Jaya berbeda dari bahasa Indonesia yang dipakai oleh orang Medan. Pemakaian bahasa yang berbeda-beda karena perbedaan daerah itu disebut ragam daerah atau logam.

6.     Berdasarkan tingkat keformalan
a.    Ragam baku
b.    Ragam formal
c.    Ragam konsultif
d.    Ragam informal
e.    Ragam akrab

7.     Berdasarkan medianya
1.    Ragam Tulisan
Adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan, dengan huruf sebagai unsure dasarnya kita namakan ragam tulisan. Ragam ini menekankan ejaan secara tepat, kosakata yang baku, bentuk kata berimbuhan dan kalimat yang lengkap secara gramatikal.
Contoh:
1.    Kosa kata
a.    Istri  Pak Camat membina ibu-ibu memproduksi kerajinan tangan dari bamboo
b.    Arjuna sedang membuat skripsi

2.    Bentuk kata
a.    Arjuna sedang menulis skripsi
b.    Rina sedang memasak nasi

3.    Kalimat
a.    Dalam seminar ini kita kan mengkaji pertumbuhan ekonomi 2004
b.    TKI yang dikirim ke luar negeri harus memiliki paspor

Ciri Ragam Bahasa Tulis
1.    Tidak memerlukan kehadiran orang lain
2.    Tidak terikat ruang dan waktu
3.    Kosa kata yang digunakan dipilih secara cermat
4.    Pembentukan kata dilakukan secara sempurna
5.    Kalimat dibentuk dengan struktur yang lengkap
6.    Paragraph dikembangkan secara lengkap dan padu
7.    Berlangsung lambat
8.    Memerlukan alat bantu
Contoh dari ragam bahasa tulis adalah surat, karya ilmiah, surat kabar, dll. Dalam ragam bahasa tulis perlu memperhatikan sejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Terutama dalam pembuatan karya-karya ilmiah.

2.    Ragam Lisan
Adalah bahasa yang dihasilkan dengan menggunakan alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsure dasarnya. Ragam bahsa lisan ditandai dengan penggunaan lafal atau pengucapan, intonasi (lagu kalimat), kosa kata. Penggunaan kata bahasa dalam pemebntukan dna penyusunan kalimat.

Ragam bahasa lisan terdiri dari:
a.    Ragam bahasa lisan baku sejarah dengan ragam bahasa tulisan baku
b.    Ragam bahasa lisan tidak baku (bahasa pergaulan)

Contoh :
1.    Pelafalan kata:
Asas (azas atau asas)
Andalan (handal atau andal)
Bus (bis atau bus)
2.    Pelafalan singkat
AC (ace/ase)
BBC (bebece/bebese)
WC (wece/wese)

3.    Ragam bahasa lisan tidak baku:
a.    Kosa kata
Kosa kata lebih menekankan pada pilihan kata ang tidak baku
a.    Bini pak camat bina ibu-ibu bikin kerajinan dari bamboo
b.    Arjuna sedang bikin skripsi

b.Bentuk kata
                  bentuk kata bahasa lisan cenderung tidak menggunakan imbuhan
a.    Arjuna sedang tulis skripsi
b.    Rina sedang masak nasi

c.   Kalimat
Kalimat cenderung tanpa unsure yang lengkap kejelasan kalimat dipengaruhi oleh unsure-unsur situasi ketika kalimat tersebut diucapkan. Isi kalimat dapat dimengerti tetapi struktur kalimatnya salah.
Contohnya:
a.    Di sini akan membicarakan pertumbuhan ekonomi 2004
b.    Untuk TKI yang akan dikirim keluar negeri harus memiliki paspor
c.    Di Jakarta memiliki pusat bahasa

Ciri-ciri ragam lisan:
a.    Memerlukan orang kedua/teman bicara
b.    Tergantung situasi, kondisi, ruang dan waktu
c.    Hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh
d.    Berlangsung cepat
e.    Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu
f.     Kesalahan dapat langsung dikoreksi
g.    Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimic wajah serta intonasi

Keunggulan bahasa tulis dibandingkan bahasa lisan, antara lain:
a.    Terencana = sistematik
b.    Mengatasi kendala waktu dan tempat
c.    Dapat dibaca berulang-ulang
d.    Lebih mudah dimulai
e.    Menyampaikan pesan tidak terganggu oleh faktor luar

Kelemahannya
a.    Ketepatan dan kejelasan pesan sangat tergantung pada tulisan
b.    Kekeliruan bersifat kekal atau tidak dapat segera diperbaiki

Yang termasuk ragam lisan diantaranya pidato, ceramah, sambutan, berbincang-bincang, dan masih banyak lagi. Semua itu sering digunakan kebanyakan orang dalam kehidupan sehari-hari, terutama ngobrol atau berbincang-bincang, karena tidak diikat oleh aturan-aturan atau cara penyampaian seperti halnya pidato ataupun ceramah.

9.     Berdasarkan keperluan atau pesan yang dikomunikasikan
A.     Ragam ilmiah
Adalah sarana verbal yang digunakan untuk mengkomunikasikan proses dan hasil penalaran ilmiah. Ragam bahasa ilmiah memiliki beberapa ciri yang sesuai dengan hakikat ilmu, diantaranya:
a.    Jelas struktur dan maknanya
b.    Singkat, padat, dengan analisis dan pembuktian, menyampaikan konsep secara lengkap
c.    Cermat dalam memilih istilah/kata, ejaan, bentuk kata, kalimat, paragraph dan penalaran
d.    Memproduksi konsep atau temuan yang sudah ada dan mengembangkannya dengan temuan baru yang belum ada
e.    Objektif, dapat diukur keberadaannya secara terbuka oleh umum, menghindarkan bentuk personel dan ungkapan subjektif
f.     Menggunakan kosa kata/istilah, bentuk kata, kalimat dan penalaran ilmiah secara formal

Bahasa ragam ilmiah merupakan ragam bahasa berdasarkan pengelompokkan menurut jenis pemakaiannya dalam bidang kegiatan sesuai dengan sifat keilmuannya. Bahasa Indonesia harus memenuhi syarat diantaranya benar (sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku), logis, cermat dan sistematis. Pada bahasa ragam ilmiah, bahasa bentuk luas dan ide yang disampaikan melalui bahasa itu sebagai bentuk dalam, tidak dapat dipisahkan.



Bahasa Indonesia Ragam Ilmiah
Dalam kehidupan sosial dan sehari-hari masyarakat Indonesia, baik secara lisan maupun tulisan, digunakan berbagai bahasa daerah termasuk dialeknya, bahasa Indonesia, dan/atau bahasa asing. Bahkan, dalam situasi tertentu, seperti dalam keluarga perkawinan campuran digunakan pula bahasa yang bersifat campuran yaitu campuran antara bahasa Indonesia dan salah satu atau kedua bahasa ibu pasangan perkawinan campuran itu. Dlama situasi kebahasan seperti itu, timbul berbagai ragam atau variasi bahasa sesuai dengan keperluannya, baik secara lisan maupun tulisan. Timbulnya ragam bahasa tersebut disebabkan oleh latar belakang sosial, budaya, dan bahasa para pemakainya itu.

Yang dimaksud dengan ragam atau variasi bahasa adalah bentuk atau wujud bahasa yang ditandai oleh ciri-ciri linguistic tertentu, seperti fornologi, morfologi, dan sintaksis. Di samping ditandai oleh ciri-ciri non linguistic, misalnya, lokasi atau tempat penggunaannya, lingkungan soasial pemakaiannyal, dan lingkungan keprofesian pemakai bahasa yang bersangkutan.

Pengertian ragam bahasa tulis
Ragam bahasa tulis adalah variasi bahasa yang digunakan melalui media tulisan yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Sehingga diperlukan kelengkapan struktur sampai pada sasaran secara visual (KBBI, 1989:715). Ragam bahasa tulis ini dibangun oleh sistem tanda atau lambing ujaran. Dengan demikian, bahasa tulis tidak lebih daripada betuk skeunder atau representasi grafis bahasa (Langacker, 1973:59; Wilkins, 1976:62).

Bahasa tulis tidak identik pada keseluruhannya dengan bahasa lisan terutama pada aspek bunyi. Bahasa lisan sangat kompleks, yang tidak mungkin terlambangkan sepenuhnya secara akurat. Beberapa ahli bahasa menyebut hal ini sebagai sisi lemah bahasa ragam-ragam tulisan. Di sisi lain, bahasa ragam tulis memiliki kelebihan. Bahasa tulis relative lebih cermat, tata bahasanya lebih terkontrol (Nafiah, 1981: 4) daripada bahasa lisan. Kemudahan pengontrolan itu karena dalam proses ekspresi dan produksinya bahasa tulis mengalami penyuntingan dan tidak digunakan secara spontan. Oleh karena itu, bahasa tulis relative lebih stabil dan dapat menggambarkan kemampuan optimal pemakaian bahasa seseorang.

Jenis ragam bahasa
Dittmar (1978) dan Halim (1979) mengemukakan empat buah ragam bahasa yang menyangkut ragam tullisan dan lisan. Salah satu diantara keempat ragam bahasa itu adalah ragam fungsional. Yang dimaksud dengan ragam fungsional atau ragam professional adalah ragam bahasa yang dihubungkan dengan profesi, lembaga, lingkungan kerja, atau kegiatan tertentu lainnya. Dalam penggunaannya, bahasa ragam fungsional dihubungkan dengan tingkatkeresmian, sehingga dalam kenyataannya antara lain menjelma sebagai bahasa teknis keprofesian, seperti bahasa yang digunakan dalam bidang keilmuan (ilmu sosial, ilmu alam, ilmu pendidikan, ilmu budaya, ilmu ekonomi, ilmu hukum, ilmu olahraga, ilmu teknik, dan lain-lain).

Seperti halnya dengan ragamp-ragam bahasa yang lain, ragam bahasa fungsionakk dapat dikelompokkan menjadi ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulisan. Pada dasarnya kedua ragam itu terdiri atas ragam baku dan ragam tidak baku. Ragama baku menurut Halim (1981:4) adalah ragam yang dilembagakan dand iakui oleh sebagian besar masyarakat pemakainya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dan  penggunaannya.

Menurut Badudu (1992:42), bahasa ragam baku atau standar ialah salah satu di antara beberapa dialek suatu bahasa yang dipilih dan ditetapkan sebagai bahasa resmi yang digunakan dalam semuakeperluan resmi. Sehubungan dengan penggunaan bahasa Indonesia, ragam baku merupakan hasil pembakuan resmi yang norma dan kaidahnya dinyatakan secara tertulis dalam bentuk pedoman, misalnya: (1) Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, (2) Pedoman Pembentukan Istilah, (3) Kamus Besar Bahasa Indonesia, (4) Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, dan (5) Glosarium (Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan lain-lain).

Kaitannya dengan ragam bahasa lisan dan tulisan bahasa Indonesia, tidak jarang diduga orang bahwa keduanya memiliki kaidah yang sepenuhnya sama, padahal dalam kenyataannya tidaklah demikian. Ragam bahasa lisan terikat oleh````````````````````````````````` ruang dan waktu, sehingga dalam penggunaannya dengan pertimbangan ciri-ciri non lingusitiknya, kelengkapan ciri-ciri linguistiknya tidak dituntut sepenuhnya. Lain halnya dengan ragam bahasa tulis, ragam bahasa tulis baku tidak terikat ruang dan waktu, sehingga dalam penggunaannya kelengkapan ciri-ciri lingusitiknya dituntut sepenuhnya.

Ciri-ciri lingusitik yang dituntut itu dalam bidang fonologi ragam lisan, misalnya, adanya variasi penggunaan fonem seperti pada kata-kata berikut:
Fihak = pihak
Ujud = wujud
Faham = paham
Fikir = pikir

Dalam ragam bahasa tulis, tampak dalam ejaannya, yaitu penggunaan huruf yang tetap tetapi mencerminkan variasi fonem, sehingga ejaan yang baku adalah pihak, wujud, paham, pikir.

Penggunaan ragam bahasa ilmiah
Penggunaan bahasa dalamb idang ilmu pengetahuan mempunyai sifat pemakaian yang khas, yang spesifik, sehingga dapat dikatakan bahwa bahasa dalam  bidang ilmu pengetahuan mempunyai ragam bahasa tersendiri yang berbeda dengan ragam-ragam bahasa yang lain. Sifat-sifat tersebut ada yang umum sebagai bahasa ilmiah, dan ada yang khusus berhubungan dengan pemakaian kosa kata, istilah, serta bentuk-bentuk gramatika.

Sifat bahasa ragam ilmiah yang bersifat umum berhubungan dengan fungsi bahasa sebagai alat untuk menyampaikan informasi ilmiah pada peristiwa komunikasi yang terjadi antara penulis dan pembaca. Informasi yang disampaikan tentu dengan bahasa yang jelas, benar, efektif, sesuai, bebas dari sifat samar-samar, dan tidak bersifat taksa (ambigu). Hal ini penting sekali diperhatikan oleh penulis agar informasi ilmiah yang disampaikan dapat dipahamu secara jelas, objektif, dan logis, sehingga dapat tercapai kesamaan pemahaman, persepsi, dan pandangan terhadap konsep-konsep keilmuan yang dimaksud oleh penulis dan pembicara.

Informasi dan konsep-konsep ilmiah yang disampaikan dalam bentuk karya tulis ilmiah, misalnya, laporan penelitian (studi), makalah, skripsi, tesis, dan disertasi adalah bersifat formal. Oleh karena itu, ragam bahasa yang digunakan dalam karya tulis ilmiah adalah ragam bahasa baku (standar).

Bahasa dalam percakapan sehari-sehari serta percakapan lisann tidak tepat apabila digunakan untuk menyampaikan informasi dan konsep-konsep yang berkadar ilmiah. Demikian pula bahasa ragam sastra (puisi, prosa dan drama) disusun sedemikian rupa, sehingga dapat menimbulkan berbagai efek emosional, imajinatif, estetik, dan artistic, yang dapat membangkitkan rasa haru baik bagi penulis maupun pembaca. Bahasa yang bersifat ilmiah tidak mempertimbangkan efek-efek perasaan yang timbul, seperti yang dipertimbangkan dalam bahasa ragam sastra (Oka, 1971:14).

Sifat ragam bahasa ilmiah yang khusus/ spesifik tampak pada pemilihan dan pemakaian kata serta bentuk-bentuk gramatika terutama dalam tataran sintaksis. Kata-kata yang digunakan dalam bahasa ilmiah bersifat denotative. Artinya, setiap kata hanya mempunyai satu makna yang paling sesuai dengan konsep kelimuan tersebut atau fakta yang disampaikan. Demikian pula kalimat-kalimat yang digunakan dalam bahasa ragam ilmiah bersifat logis. Hubungan antara bagian-bagian kalimat dalam kalimat tunggal atau hubungan antara klausa-klausa dalam kalimat majemuk (kompleks) mengikuti pola-pola bentuk hubungan logis.












DAFTAR PUSTAKA

Ali Syahbana, S. Takdir.1957. Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa 
            Indonesia. Djakarta: PT. Pustaka.
Alwi, Hasan, dkk. 1998. Tata Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai
             Pustaka.
Chaer, Abdul. Leoni.2010. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka
            Cipta.
Dewi, Ponco.2013. Korespondensi Bahasa Indonesia. Jakarta: Fakultas Ekonomi
A Subantari R, Amas Suryadi, K. Zainal Muttaqin.1998. Bahasa Indonesia dan
            Penyusunan Karangan Ilmiah. Bandung, IAIN Sunan Giri Djati.
Effendi, S.1995. Panduan Berbahasa Indonesia dengan Baik dan Benar. Jakarta:
             Pustaka Jaya.
Sabariyanto, Dirgo. 1999. Kelebihan dan Ketidakbakuan Kalimat dalam Bahasa
            Indonesia, Yogyakarta: Mitra Gama Widya.
Samsuri. 1991. Analisis Kesalahan Berbahasa. Jakarta: Erlangga

WEBSITE:
Aditaryo. 2010. Ragam bahasa, Bahasa Indonesia dalam Komunikasi Ilmiah. http://carauntukbangkit.blogspot.com. Diakses pada tanggal 19 Maret 2013

Dirgantara Wicaksono. 2013, Bahasa Indonesia Sebagai Sarana Komunikasi Ilmiah, http://dirgantarawicaksono.blogspot.com/2013/01/bahasa-sebagai-sarana-komunikasi-ilmiah.html . Diakses pada  tanggal 8 Januari 2014