Selamat Datang Di Tugas Kuliahku, jika butuh softcopy, Silahkan email ke jhonmiduk8@gmail.com. Mohon donasi pulsa ke 081210668660 Untuk Kemajuan Blog, Terimakasih. Makalah Pergerakan Indonesia zaman Pendudukan Jepang | Tugas Kuliahku

Makalah Pergerakan Indonesia zaman Pendudukan Jepang

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.         Latar Belakang
Setelah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Indonesia, Jepang mulai menanamkan system penjajahan menggantikan pemerintah Hindia Belanda. Penyerahan kekuasaan ini menandakan lemahnya Hindia Belanda yang tidak lebih dari mencari keuntungan saja didaerah jajahannya sedangkan pertahanannya sama sekali tidak diperhatikan. Sehingga Hindia Belanda kalah dengan Jepang. Lajunya kemenangan pasukan Jepang seperti badai yang mampu menyapu tempat-tempat pertahanan Hindia Belanda. 

Namun kemenangan Jepang itu tidak secara fisik saja karena keunggulan militer dan teknologinya, tetapi dibalik itu sebenarnya terdapat dorongan bangsa Indonesia sendiri yang bosan terhadap penjajahan Belanda, apalagi Jepang menggunakan propaganda yang mampu menembus kebencian terhadap kolonialisme pada umunya.
Pidato penguasa Jepang mengana dihati bangsa Indonesia dan Jepang merasa bakal menjawab untuk membebsakan bangsa Indonesia dari penjajahan Hindia Be;anda dan ikut dimasukkan dalam kesemakmuran bersama Asia Timur Raya di bawah pimpinan Jepang sehingga dengan cepatnya bangsa Indonesia menerima Jepang dalam memimpin pemrintahan yang sebenarnya ingin menjajah Indonesia.
Dengan kepemimpinan bangsa Jepang di Indonesia, pergerakan nasional mulai terjadi untuk membebaskan diri dari penjajahan dan memerdekakan Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan merdeka. Pergerakan tersebut sangat diawasi oleh pemerintah Jepang. Maka dari itu, makalah ini akan menjelaskan tentang pergerakan nasional masa pendudukan Jepang.


1.2       Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah, sebagai berikut :
a.       Apa yang melatarbelakangi pendudukan Jepang di Indonesia ?
b.      Apa reaksi masyarakat Indonesia dan kaum nasionalis kerita pendudukan Jepang berlangsung ?
c.       Bagaimana pergerakan nasional masa pendudukan Jepang ?
d.      Apa langkah-langkah yang dilakukan Jepang dalam memberikan kemerdekaan kepada Indonesia ?


1.3       Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
a.       Untuk mengetahui latarbelakang pendudukan Jepang di Indonesia
b.      Untuk mengetahui reaksi masyarakat Indonesia dan kaum nasionalis kerita pendudukan Jepang berlangsung
c.       Untuk mengetahui pergerakan nasional masa pendudukan Jepang
d.      Untuk mengetahui langkah-langkah Jepang dalam memberikan kemerdekaan kepada Indonesia







BAB II
ISI
A.   Masuknya Jepang ke Indonesia
Pada tanggal 14 Februari 1942, Jepang menyerang Indonesia dan segera menguasai Sumatra Selatan. Tanggal 1 Maret dini hari, mereka mendarat di Jawa dan dalam waktu delapan hari, Letnan Jendral Ter Poorten, Panglima Tentara Hindia Belanda (KNIL), Menyerah atas nama seluruh angkatan perang Sekutu di Jawa. Pendudukan bangsa Jepang atas wilayah Indonesia sebagai negara imperialis, tidak jauh berbeda dengan negara-negara imperialisme lainnya. Kedatangan bangsa Jepang ke Indonesia berlatar belakang masalah ekonomi, yaitu mencari daerah-daerah sebagai penghasil bahan mentah dan bahan baku untuk memenuhi kebutuhan industrinya dan mencari tempat pemasaran untuk hasil-hasil industrinya. Sehingga aktivitas perekonomian bangsa Indonesia pada zaman Jepang sepenuhnya dipegang oleh pemerintah Jepang.
 Kedatangan Jepang pada umumnya diterima dengan penuh semangat. Rakyat percaya bahwa Jepang datang untuk memerdekakan, dan Jepang makin disenangi karena segera mengizinkan dikibarkannya bendera nasional Indonesia merah putih, dan dikumandangkannya lagu kebangsaan Indonesia raya, dua hal penting yang dulu dilarang oleh Belanda.
Alasan penting kenapa penjajahan Jepang justru diterima oleh mayoritas kaum terpelajar Indonesia adalah karena penguasa baru itu dapat lebih meningkatkan status sosial ekonomi orang Indonesia, hanya dengan kelayakan saja, tanpa kekerasan. Lebih-lebih lagi, dalam waktu enam bulan sejak kedatangannya, Jepang memenjarakan semua penduduk Belanda, sebagian besar orang Indo, dan sejumlah orang Kristen Indonesia yang dicurigai pro-Belanda kedalam kamp-kamp konsentrasi. Jumlah personil pemerintah militer Jepang hanya sedikit, oleh karena itu mereka terpaksa mengambil orang-orang Indonesia untuk mengisi lowongan hampir semua jabatan tingkat menengah, atasan bidang administrasi dan teknisi yang dulu diduduki orang Belanda atau Indo. Jadi, hampir semua personil Indonesia dalam bidang pemerintahan, mendapat kenaikan pangkat satu, dan bahkan sering dua atau tiga tingkat dalam hirarki tempat mereka bekerja. Dari situlah Jepang mula-mula memenangkan dukungan dari rakyat Indonesia.
Karena alasan ini dan karena mereka diterima dengan tangan terbuka oleh penduduk, Orang Jepang tampaknya tidak mendapat tantangan nyata apa pun sebelumnya dari para pemimpin nasionalis. Mereka dapat dengan mudah mengambil sumber-sumber kekayaan Indonesia demi tujuan kepentingan perang mereka, tanpa harus mengadakan persetujuan dengan kaum nasionalis Indonesia. Berdasarkan keyakinan ini, mereka membentuk pergerakan tiga A pada tanggal 29 April 1942. Pada saat itu, Jepang memperkenalkan dan memprogandakan semboyan dan semangat Jepang, yaitu “Nippon pemimpin Asia, Nippon pelindung Asia, dan Nippon cahaya Asia”. Pergerakan itu bertujuan mengumpulkan dukungan untuk tujuan perang Jepang dan kemakmuran bersama Asia Timur Raya. Jepang terlalu dini untuk percaya bahwa mereka tidak perlu menggarap nasionalisme Indonesia untuk mencapai tujuan-tujuannya lebih lanjut, karena kenyataannya orang Indonesia yang mereka pilih untuk memimpin pergerakan tersebut adalah Mr. Raden Samsoedin, jelas bukan seoang pemimpin nasionalis eselon pertama.
Orang Jepang segera menyadari kekeliruan perkiraan ini. Meskipun propagandanya hebat, Pergerakan Tiga A sebenarnya sangat melempem (gagal). Ternyata kemakmuran ekonomi Indonesia dinomorduakan dibawah kepentingan Jepang, tanpa suatu imbalan yang memadai bagi Indonesia. Nusantara dikuras habis bahkan makanannya, minyak dan kinanya, sementara barang-barang pokok yang sangat diperlukan seperti barang sandang dan onderdil-onderdil tidak masuk lagi. Jepang mengawasi kurikulum sekolah secara kasar dengan tangan besi. Mereka memaksakan bahasa Jepang sebagai pengganti bahasa Belanda di sekolah-sekolah menengah atas, dan sebagai bahasa resmi dikalangan pemerintah. Ini semua menimbulkan reaksi-reaksi negatif yang tajam.
Yang lebih penting dan lebih meresap dihati hampir seluruh penduduk Indonesia dalah antagonisme yang tajam yang diciptakan oleh kekerasan yang keterlaluan, serta kekurangajaran yang sering ditunjukan oleh orang Jepang dalam pergaulan dengan orang Indonesia. Dalam waktu beberapa bulan saja, Jepang mulai menyadari bahwa mereka tidak lagi mendapat dukungan dari massa maupun mayoritas orang Indonesia terpelajar. Suatu rasa tidak senang terhadap Jepang terus tumbuh di kalangan rakyat mulai nyata dan ditunjukkan dengan mendadakan pemberontakan sebelum tahun 1942 berakhir. Jepang mulai khawatir pada permusuhan yang jelas serta perlawananan yang kadang oleh pelajar sekolah dan mamhasiswa. Mereka cemas terutama setelah mengetahui bahwa dibentuk organisasi-oraganisasi bawah tanah yang terdiri dari mahasiswa-mahasiswa ini maupun para pemimpin politik. Mereka mulai memahami bahwa pergerakan kebangsaan Indonesia adalah suatu kekuatan yang nyata dan kuat, dengan apa harus dicapai suatu cara penyelesaian tertentu, jika mereka menghendaki tercapainya tujuan-tujuan penjajahan yang minim sekalipun. Menyadari hal ini, Jepang mengubah kebijakan politiknya secara radikal. Pertama-tama mereka mengalihkan perhatian kepada para pemimpin nasionalis, yang mereka yakini bahwa pemimpin tersbut benar-benar disukai rakyat.

B.   Perjuangaan Kooperatif (Kerjasama)
Tidak lama setelah masuk ke Indonesia, Jepang membebaskan Soekarno dari pembuangannya di Bengkulu, dan mengizinkan dia langsung pulang ke Jawa. Disini Soekarmo segera menghubungi Hatta dan Sjahrir, yang sebelumnya sudah mengadakan kontak dengan gerakan bawah tanah yang dipimpin oleh Sjarifuddin dan Darmawan Mangoenkuesoemo. Akhirnya diputuskan bahwa perjuangan nasionalis paling baik dilaksanakan dengan dua cara, secara resmi di atas tanah (terang-terangan) dan dibawah tanah (secara diam-diam). Soekarno dan Hatta harus bekerja secara resmi dengan Jepang dan Sjahrir sambil tetap mengadakan kontak mereka yang akan memimpin perlawanan di bawah tanah.
Pertemuan antara Sjahrir, Soekarno dan Hatta merupakan tujuan-tujuan akhir untuk kemerdekaan sendiri. Soekarno menganggap Jepang sebagai fasis murni, dan merasa bahwa mereka harus memakai metode perlawanan paling halus untuk mendekati Jepang, misalnya dengan menunjukkan penampilan mau bekerjasama. Baik Hatta maupun Soekarno selanjutnya setuju melakukan segala sesuatu yang secara sah mungkin dilakukan agar perjuangan kebangsaan memperoleh kekuasaan resmi yang lebih luas, dan pada waktu yang bersamaan, secara rahasia mendukung perlawanan revolusioner.
Pada 9 Maret 1943 dibentuklah Putra (Pusat Tenaga Rakyat). Ir. Sukarno, Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansyur menduduki pimpinan Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Putra merupakan sebuah organisasi bertujuan menggerakan rakyat Indonesia untuk mendukung peperangan Jepang menghadapi Sekutu.
Poetra tidak hanya memperkuat tujuan perang jepang, tapi juga membentuk organisasi di kalangan pemuda dimana jepang menanamkan mentalitas otoriter dan aliran anti barat. Melalui Putera, para pemimpin Indonesia dapat berhubungan dengan rakyat secara langsung, baik melalui rapat-rapat maupun media massa milik Jepang. Tokoh-tokoh Putera memanfaatkan organisasi-organisasi itu untuk menggembleng mental dan membangkitkan semangat nasionalisme serta menumbuhkan rasa percaya diri serta harga diri sebagai bangsa.
Selain melalui Putera, para pemimpin pergerakan juga berjuang melalui Badan Pertimbangan Pusat atau Cou Sangi In yang dibentuk Jepang pada 5 September 1943. Badan ini beranggotakan 43 orang dan diketuai oleh Ir. Soekarno. Dalam sidangnya pada 20 Oktober 1943, Cuo Sangi In menetapkan bahwa agar Jepang menang dalam perang, perlu dikerahkan segala potensi dan produksi dari rakyat Indoensia.
Dibawah perlindungan poetra, dibentuk sejumlah organisasi ditunjukan untuk melumpuhkan tujuan tujuan perang jepang. Organisasi pertama adalah hei ho, atau pekerja romusha yg dikirim hingga burma untuk mengerjakan jalan jalan, benteng, dan lain lain. Kemudian pada bulan september 1943 dibentuklah PETA (Pembela Tanah Air) anggotanya sering disebut sukarelawan. Rata rata anggota PETA adalah nasionalis yang kuat dan anti belanda dan jepang.
Mereka selalu menekankan pentingnya persatuan, pentingnya memupuk terus menerus semangat cinta tanah air, dan harus lebih memperhebat semangat antiimperialisme- kolonialisme. Organisasi Putera mendapat sambutan yang hangat dari seluruh rakyat. Namun, karena Putera jauh lebih mementingkan pergerakan kebangsaan Indonesia, pemerintah Jepang akhirnya pada tanggal 1 maret 1944,  dan kemudian poetra di gantikan oleh suatu organisasi baru yang lebih efektif oleh jepang, yaitu Perhimpoenan kebangkitan Rakyat dengan nama jepang Djawa hokokaki. Organisasi tersebut berkedudukan di bawah kekuasaan Gunseikan, badan pemerintah militer jepang.
Untuk memperoleh dukungan lain, Jepang berusaha memperoleh dengan jalan lain, yaitu lewat agama. Para kyai pemimpin islam setempat yang kebanyakan guru dan ahli agama islam, di beri perhatian khusus. Mereka mendapat kedudukan terhormat dan penting, propaganda ini di maksudkan untuk meningkatkan perlawanan terhadap sekutu dengan dalih membela islam melawan orang kafir yang memperbudak penduduk muslim di indonesia.


C.   Gerakan Bawan Tanah
Perjuangan bawah tanah adalah perjuangan yang dilakukan secara tertutup dan rahasia. Perjuang bawah tanah ini dilakukan oleh para tokoh nasionalis yang bekerja pasa instansi-instansi pemerintahan buatan Jepang. Jadi, di balik kepatuhannya terhadap Jepang, tersembunyi kegiatan-kegiatan yang bertujuan menghimpun dan mempersatukan rakyat untuk meneruskan perjuang untuk mecapai Indonesia merdeka.
Perjuangan bawah tanah ini tersebar di berbagai tempat: Jakarta, Semarang, Bandung, Surabaya, serta Medan. Di Jakarta terdapat beberapa kelompok yang melakukan perjuangan model ini. Antara kelompok perjuangan yang satu dengan kelompok perjuangan yang lain, selalu terjadi kontak hubungan.

Kelompok kelompok perjuang tersebut, antara lain:

a. Kelompok Sukarni
Sukarni adalah tokoh pergerakan pada zaman Hindia Belanda. Pada masa pendudukan Jepang, ia bekerja di Sendenbu (Barisan Propaganda Jepang) bersama-sama dengan Muhammad Yamin. Sukarni menghimpun tokoh-tokoh pergerakan yang lain, antara lain: Adam Malik, Kusnaeni, Pandu Wiguna, dan Maruto Nitimiharjo. Gerakan yang dilakukan kelompok Sukarni adalah menyebarluaskan cita-cita kemerdekaan, menghimpun orang-orang yang berjiwa revolusioner, dan mengungkapkan kebohongan-kebohongan yang dilakukan oleh Jepang.
Sebagai pegawai Sendenbu, Sukarni bebas mengunjungi asrama Peta (Pembela Tanah Air) yang tersebar di seluruh Jawa. Karena itu, Sukarni mengetahui seberapa besar kekuatan revolusioner yang anti-Jepang. Untuk menutupi gerakannya, kelompok Sukarni mendirikan asrama politik, yang diberi nama “Angkatan Baru Indonesia” yang didukung Sendenbu. Di dalam asrama ini terkumpul para tokoh pergerakan antara lain: Ir. Sukarno, Mohammad Hatta, Ahmad Subarjo, dan Sunarya yang bertugas mendidik para pemuda tantang masalah politik dan pengetahuan umum.

b. Kelompok Ahmad Subarjo
Ahmad Subarjo pada masa pendudukan Jepang menjabat sebagai Kepala Biro Riset Kaigun Bukanfu (Kantor Penghubung Angkatan Laut) di Jakarta. Ahmad Subarjo berusaha menghimpun tokoh-tokoh bangsa Indonesia yang bekerja dalam Angkatan Laut Jepang. Atas dorongan dari kelompok Ahmad Subarjo, Angkatan Laut berhasil mendirikan asrama pemuda yang bernama “Asrama Indonesia Merdeka”. Di asrama Indonesia Merdeka inilah para pemimpin bangsa Indonesia memberikan pelajaran-pelajaran guna menanamkan semangat nasionalisme kepada para pemuda Indonesia.


c. Kelompok Sutan Syahrir
Sutan Syahrir merupakan tokoh besar pergerakan nasional, yang pada zaman Hindia Belanda tahun 1935 dibuang ke Boven Digul di Irian Jaya, kemudian dipindahkan ke Banda Neira dan terakhir ke Sukabumi. Pada masa pendudukan Jepang, Syahrir berjuang diam-diam dengan cara menghimpun teman-teman sekolahnya dulu dan rekan-rekan seorganisasi pada zaman Hindia Belanda. Terbentuklah satu kelompok rahasia, Kelompok Syahrir.
Dalam perjuangannya, Syahrir juga menjalin hubungan dengan pemimpin-pemimpin bangsa yang terpaksa bekerja sama dengan Jepang. Di samping itu, hubungan kelompok Syahrir dengan kelompok perjuangan yang lain berjalan cukup baik. Karena gerak langkah Syahrir dicurigai Jepang, untuk menghilangkan kecurigaan pihak Jepang Syahrir bersedia memberi pelajaran di Asrama Indonesia Merdeka milik Angkatan Laut Jepang (Kaigun), bersama dengan Ir. Sukarno, Mohammad Hatta, Ahmad Subarjo, dan Iwa Kusumasumantri.

d. Kelompok Pemuda
Kelompok Pemuda pada masa Jepang mendapat perhatian khusus dari pemerintah Jepang. Jepang berusaha memengaruhi para pemuda Indonesia dengan propaganda yang menarik. Dengan demikian, nantinya para pemuda Indonesia merupakan alat yang ampuh guna menjalankan kepentingan Jepang. Jepang menanamkan pengaruhnya pada para pemuda Indonesia melalui kursus-kursus dan lembaga-lembaga yang sudah ada sejak zaman Hindia Belanda.
Jepang mendukung berdirinya kursus-kursus yang diadakan dalam asrama-asrama, misalnya di Asrama Angkatan Baru Indonesia yang terdapat Sendenbu dan Asrama Indonesia Merdeka yang didirikan Angkatan Laut Jepang. Namun, pemuda Indonesia baik pelajar maupun mahasiswa tidak gampang termakan oleh propaganda Jepang. Mereka menyadari bahwa imperialisme yang dilakukan oleh Jepang pada hakikatnya sama dengan imperialisme bangsa Barat.
Pada masa itu, di Jakarta terdapat 2 kelompok pemuda yang aktif berjuang, yakni yang terhimpun dalam asrama Ika Daikagu (Sekolah Tinggi Kedokteran) dan kelompok pemuda yang terhimpun dalam Badan Permusyawaratan/Perwakilan Pelajar Indonesia (Baperpri). Kelompok terpelajar tersebut mempunyai ikatan organisasi yang bernama Persatuan Mahasiswa.


Organisasi-organisaasi ini merupakan wadah untuk menyusun aksi-aksi terhadap penguasa Jepang dan menyusun pertemuan-pertemuan dengan para pemimpin bangsa. Dalam perjuangannya, kelompok pemuda juga selalu berhubungan dengan kelompok-kelompok yang lain, yaitu kelompok Sukarni, kelompok Ahmad Subarjo, dan Kelompok Syahrir. Tokoh-tokoh Kelompok Pemuda yang terkenal antara lain: Chaerul Saleh, Darwis. Johar Nur, Eri Sadewo, E.A. Ratulangi, dan Syarif Thayeb.
Tujuan utama dari gerakan bawah tanah itu adalah merembers kedalam Peta dan ke dalam organisasi-organisasi pemuda yang disponsori Jepang. Perembesan itu punya dua tujuan, pertama sebanyak mungkin memegang kendali di dalam unit-unit semua organisasi itu lewat para pemegang posisi kunci yang dapat dipercaya, dan kedua mengirim anggotanya ke arah anti Jepang dan Pro Sekutu.
Sejak masuknya kekuasaan Jepang di Indonesia, organisasi-organisasi politik tidak dapat berkembang lagi. Bahkan pemerintah pendudukan Jepang menghapuskan segala bentuk kegiatan organisasi-organisasi, baik yang bersifat politik maupun yang bersifat sosial, ekonomi, dan agama. Organisasi-organisasi itu dihapuskan dan diganti dengan organisasi buatan Jepang, sehingga kehidupan politik pada masa itu diatur oleh pemerintah Jepang, walaupun masih terdapat beberapa organisasi politik yang terus berjuang menentang pendudukan Jepang di Indonesia.
Laksaman Tadashi Maeda, panglima Angkatan Laut Jepang dan Jawa dan yang bertanggung jawab atas Dinas Rahasia Angkatan Laut Jepang untuk Indonesia. Bersama stafnya, dia mendirikan suatu sekolah di Jakarta untuk pemuda berusia 18 sampai 20 tahun yang disebut Asrama Indonesia Merdeka, pada bulan Oktober.  Maeda menghubungi banyak pemimpin nasionalis terkemuka yang bukan komunis, minta agar mereka memberi kuliah kepada para mahasiswa tentang nasionalisme, ekonomi, politik, sosiologi, dan marxisme.
Bagi Sjahrir dan Hatta, ini adalah suatu kesempatan untuk mempengaruhi para mahasiswa bertalian dengan ide-ide baru mereka dan untuk sementara dapat banyak mempengaruhi para mahasiswa tersebut. Maeda dan para perwira penyelidik Angkatan Laut yang membantunya mengatur sekolah-sekolah itu, kemudian segera memberi tekanan utama pada pelajaran komunisme.
Hingga akhir bulan Juli 1945, sekolah-sekolah ini mengadakan kursus dua bulanan, dan menghasilkan beberpa ratus tamatan. Mulai bulan Mei 1945, tamatan-tamatan itu didekati Subardjo dan dibawah pimpinannya diminta masuk ke dalam gerakan bawah tanahnya yang seolah-olah anti Jepang.
Organisasi Subardjo menarik anggota yang jumlahnya makin mengesankan. Organisasi tersebut ikut memasuki periode Republik, dan selam waktu yang singkat, merupakan suatu kekuatan yang harus diperhitungkan dengan serius. Sejak itu, kebanyakan anggota organisasi itu yang dulu mendaftarkan lewat salah satu sekolah yang disponsori Jepang, bergabung dengan salah satu dari tiga kelompok.
Kenapa Jepang mendirikan sekolah-sekolah itu, dan menjadi sponsor organisasi Subardjo? Sjahrir misalnya, yakin bahwa tujuan utama Jepang adalah merembesi dan akhirnya mengambil kendali gerakan-gerakan bawah tanah PKI lewat para pemuda yang dilatih dalam sekolah-sekolah tersebut. Seorang pemimpin gerakan bawah tanah Sjahrir cabang Surabaya yang juga diminta oleh Maeda untuk mengajar di sekolah-sekolah, punya pendapat lain. Ia dapat meneriam pendapat bahwa taktik-taktik Jepang bertujuan untuk merembes ke dalam gerakan bawah tanah PKI melalui sekolah-sekolah tersebut. Namun demikian, ia yakin, bahwa tujuannya hanya terbatas hingga memecah belah PKI saja.
Akan tetapi, penjelasan-penjelasan ini menyebabkan sulit untuk dimengerti, mengapa seorang pemipin gerakan bawah tanah yang bonafide seperti Wikana dipakai oleh Jepang. Di lain pihak, sejumlah pemimpin nasionalis yang pandai, termasuk seorang dengan keseimbangan kerja yang baik seperti Hatta, merasa yakin bahwa Maeda dan banyak perwira angkatan laut di bawah Maeda, dengan setulus hati menginginkan kemerdekaan Indonesia dan mereka menyelesaikan masalah-masalah sosial dalam negeri maupun dunia dengan suatu “cara yang progresif”.
Beberapa orang Indonesia mengira-ngira tentang kemungkinan hubungan antara perwira tersebut dengan Tan Malaka. Mungkin dapat diperdebatkan bahwa orang Jepang mungkin dengan senang hati bekerja bersama Tan Malaka karena bermaksud memecah belah gerakan bawah tanah PKI dan menarik lebih banyak orang Indonesia ke pihaknya untuk memerangi invasi Sekutu.
Para pemimpin yang relatif paling obyektif, bahkan yang dengan gigih menentang Tan Malaka, yakin bahwa Tan Malaka tidak pernah akan mengorbankan diri dalam suatu peranan di mana kepentingan nasional Indonesia dinomorduakan setelah kepentingan bangsa lain manapun, teramasuk Jepang dan Rusia.
Akan tetapi, ada kenyataan-kenyataan lain yang memberi pandangan agak lain terhadap kegiatan-kegiatan orang Jepang ini yang membingungkan ini. Mungkin sikap-sikap dan kegiatan-kegiatan para perwira yang membingungkan ini, merupakan suatu fenomena yang tidak terbatas di Indonesia saja.

Dengan makin mendekatnya kekuatan Sekutu ke Indonesia, dan meningkatnya perasaan anti Jepang, para penguasa militer Jepang di Jawa mulai mengambil langkah baru ke arah pembentukan suatu pemerintah Indonesia merdeka. Pada tanggal 1 Maret 1945 , dibentuklah BPUPKI. Panitia tersebut menyelenggrakan dua sidang pleno , pada tanggal 28 Mei - 2 Juni  dan 10 - 17 Juli , dan mencapai persetujuan dasar mengenai masalah perundang-undangan dan masalah ekonomi.
Di samping konsensi-konsensi yang dibuat oleh pemerintah Jepang dengan orang-orang Indonesia di Jawa dan Madura , tuntutan untuk memiliki pemerintahan sendiri dan Jepang makin didesak untuk memberi kemerdekaan.
Pada tangal 7 Agustus, 1945, diperoleh izin dari markas besar Letjen. Terauchi di Saigon untuk membentuk suatu panitia yang seluruhnya terdiri dari orang Indonesia, dalam izin tersebut disebutkan bahwa panitia iti bertugas mengadakan persiapan untuk mengambil alih kekuasaan pemerintah dari pemerintah militer Jepang. Paniatia yang disebut Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia beranggotakan 21 orang pilihan dari seluruh Indonesia. Mereka adalah; Ir. Soekarno sebagai ketua; Drs. Mohammad Hatta sebagai wakil ketua; KRT Radjiman Wediodiningrat, R. Otto Iskandar Dinata, Ki Abdoel Wachid Hasjim, Ki Bgoes Hardikoesomoe, RP Suroso, Prof. R. Soepomo dan R. Abdoel Kadir untuk Jawa; Dr. Mohammad Amir untuk Sumatera; Mr. Abdoel Abas untuk Sumatera; Dr. GSSJ Ratu Langie untuk Sulawesi; Andi Pangeran untuk Sulawesi; AA Hamidhan untuk Kalimantan; Mr. I. Goesti Ketoet Poedja untuk Kepulauan Sunda Kecil; Mr. J. Latuharhary untuk Maluku; dan Drs. Yap Tjuan Bing untuk Komunis Cina.
            Pada tanggal 8 Agustus 1945, Soekarno, Hatta dan Radjiman dipanggil oleh Jendral Terauchi ke Dalat di Indocina. Di sana pada tanggal 11 Agustus, ia menjanjikan kepada mereka bahwa kemerdekaan akan di anugrahkan kepada Indonesia pada tanggal 24 Agustus. Suatu majelis perundangan-undangan akan diundang bersidang pada tanggal 19 Agustus dan Minggu di antara dua tanggal tersebut akan digunakan untuk mengedarkan dan mensahkan Undang-undang Dasar yang telah disusun oleh panitia-panitia yang dibentuk untuk menyiapkan kemerdekaan. Ketiganya kembali pada tanggal 14 Agustus dan melihat bahwa gerilyawan Indonesia menentang kemerdekaan Indonesia dalam bentuk apa saja jika itu merupakan anugrah Jepang, dan sepenuhnya memustuskan untuk merebut kemerdekaan tak bersyarat dari mereka dengan kekerasan. Gerakan-gerakan bawah-tanah Jawaini. Dan jelas semua gerakan yang ada di Sumatera, mengingatkan dan mengatur suatu kebangkitan melawan Jepang yang akan dilaksanakan berbarengan dengan serangan Sekutu terhadap Jawa dan Sumatera sperti yang diharapkan. Lebih-lebih lagi. Beberapa hari setelah kepulangan mereka, mereka mendapatkan bantuan pemerintah militer Jepang, karena Jepang telah mengadakan kapitulasi dengan Sekutu, untuk mempertahankan status quo politik. Beginilah situasi yang mengawali revolusi Indonesia.

            Akan tetapi, untuk lebih mengerti tahap revolusioner pergerakan kebangsaan Indonesia dan ciri-ciri  revolusi tersebut, kita harus berhenti sejenak dan menilai dampak pendudukan Jepang terhadap mayarakat Indonesia. Perkembangan menyolok selama pendudukan Jepang adalah peningkatan besar-besaran dalam kesadaran nasional dan dibantu oleh keinginan untuk merdeka secara politik. Pemerintahan Jepang yang kasar dan semena-mena itu mempengaruhi hampIr ke seluruhan penduduk. Sebagai perbandingan pemerintahan Belanda dapat dikatakan moderat dan dirasa tidak begitu berat oleh kebanyakan orang Indonesia. Pemerintahan Jepang membangkitkan suatu kesadaran akan adanya penderitaan umum terhadap Jepang, sangat memperkuat kesadaran kebangsaan yang sudah ada di Indonesia.
            Karakter hubungan antara pemerintahan Jepang dengan kaum tani secara tidak langsung itu diganti dengan campur tangan langsung dan keras oleh pemerintah militer Jepang yang hanya sedikit diperingan oleh sebagian hubungan yang dilakukan lewat Peta dan Djawa Hokokai. Seperti yang diamati Sjahrir:
Selama tiga setengah tahun penjajahan Jepang, sendi-sendi mayarakat di desa diobrak-abrik dan diruntuhkan dengan kerja paksa, dengan penculikan orang desa dijadikan romusha jauh dari tempat tinggalnya, dijadikan serdadu, dengan penyerahan hasil bumi secara paksa, dengan penanaman hsil bumi secara paksa, dengan sewenang-wenang yang tiada batas.
Dibanyak wilayah, masyarakat-masyarat desa sangat direnggut dan dipaksa untuk menyusun kembali srukturnya karena tuntutan-tuntutan berat untuk menyediakan tenaga kerja oleh Jepang. Dipaksanya beribu-ribu pekerja desa yang paling terampil untuk masuk HeiHo, Peta dan sebagainya, berarti bahwa pola-pola kerja tradisional dan pembagian tanah harus diubah. Kekejaman Jepang, tuntutan-tuntutan mereka yang semena-mena untuk tenaga kerja dan hasil bumi, dan upah yang diterima begitu tidak berarti sehingga orang-orang hampir tidak dapat membeli apa-apa untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, seperti baju, alat-alat pertanian dan sebagainya, membangkitkan kebencian hebat terhadap Jepang dikalangan petani. Adalah merupakan kenyataan, bahwa inflansi uang besar-besaran yang berkembang selama dua tahub penduduk Jepang, hutang uang yang meluas dari kaum tani, mengurangi perbandingan nilai tanah mereka. Akan tetapi, akibat tidak disengaja dari pemerintahan Jepang tidak dapat dijadikan kesempatan oleh kebanyakan petani karena paksaan Jepang yang keras itu tidak membiarkan mereka memperbaiki hidupnya kecuali dengan membuat hutang baru kepada sumber kredit mereka yang lama, yaitu para pengelana Cina yang menjadi lintah darat. Dengan meningkatnya inflasi, maka menjelang tahun 1944, pada umumnya para lintah darat tidak mau lagi menerima syarat pembayaran kredit dalam bentuk barang. Sebagai gantinya, mereka setuju menerima pengembalian kredit semacam itu dengan persentase tertentu dari hasil panenan petani. Dengan demikian, keuntungan inflasi itu tidak dapat dinikmati kaum petani.
Sebagai reaksi dengan tujuan melawan beratnya tuntutan Jepang, kaum tani menjadi jauh lebih sadar secara politik dibandingkan sebelumnya. Hal ini, dan perasaan kaum tani terhadap Jepang dapat dibuktikan dengan pemberontakan-pemberontakan kaum tani setempat yang meluas dan sering terjadi, terutama selama tahun terakhir pendudukan Jepang. Indoktrinasi yang diberikan oleh gerakan-gerakan bawah tanah ditambah keahlian para pemimpin nasionalis dalam Poetra dan Hokokai, khususnya Soekarno dan Hatta, yang oleh Jepang diperbolehkan mengadakan hubungan tak terbatas dengan kaum tani lewat radio dan tampil secara pribadi, menyebabkan kebangkitan politik dan keluhan-keluhan di baliknya terungkapkan kebangkitan dalam suatu kesadaran politik dan keinginan untuk memperoleh kemerdekaan nasional yang belum pernah dimiliki sebelumnya oleh petani. Secara khusus hal ini disebabkan oleh pidato-pidato Soekarno yang disiarkan sebagaimana adanya ke seluruh desa besar di Jawa dan Madura. Kemampuannya untuk mengadakan kontak dengan petani memakai istilah-istilah dan konsep-konsep yang dapat dipahami mereka, menyebabkan Soekarno dapat membuat hubungan semacam itu dengan mereka, sehingga ketika revolusi pecah dialah yang pertama dianggap pemimpin oleh kaum tani.
Propaganda Jepang terus menerus berjuang mengembangkan dukungan populer untuk tujuan perang mereka dan mengusir Sekutu, jelas meningkatkan kebangkitan politik yang terhasut oleh aspek material dari pendudukan Jepang. Meskipun propaganda dengan aksi Jepang cukup efektif untuk meningkatkan perasaan penduduk melawan Belanda, usaha Jepang untuk membuat rakyat melawan negara Sekutu lainnya, terutama AS, hanya sedikit berhasil. Orang Jepang hampir sepenuhnya gagal dalam usaha mereka membuat orang Indonesia menyamakan kepentingan nasional Indonesia dengan kepentingan nasional Jepang. Usaha gerakan-gerakan bawah tanah Indonesia yang anti-Jepang untung menghalangi tujuan-tujuan Jepang ini dipermudah dan terangsang oleh kemenangan-kemenangan Amerika atas Jepang dan sikap anti penjajahan yang tampak menyertai orang Indonesia. Laporan laporan kemenangan-kemenangan dan sikap ini diterima lewat radio oleh organisasi bawah tanah dan disampaikan oleh mereka kepada rakyat, terutama kepada unit-unit Peta dan organisasi pemuda. Tuntutan proklamasi yang ditambahkan oleh Amerika kepada syarat-syarat Piagam Atlantik dan Piagam PBB dalam siaran-siaran seberang-lautan oleh Amerika Serikat yang diterima di Indonesia sehubungan dengan janji kemerdekaan yang diberikan kepada Filipina sesudah perang, memperkuat keyakinan banyak orang Indonesia, bahwa pada umumnya Amerika menentang Kolonialisme dan bahwa pertentangan ini meluas ke Indonesia.
Mungkin kaum muda Indonesia memperoleh kesan yang paling mendalam, terutama yang berusia antara 15 dan 21 tahun. Khususnya di kalangan mereka yang dulu memperoleh pendidikan rendah, dan ini merupakan mayoritas besar, propaganda Jepang yang dipaksakan dan terus menerus itu begitu membekas. Semua ini mempersempit dan memperbesar perasaan kebangsaan mereka. Sedikit yang memperkembangkan orientasi pro-Jepang, tetapi banyak mengembangkan nasionalisme yang sangat militan bercampur dengan prangsangka anti-Barat yang kuat dan emosional yang sering terwujud dalam kebencian yang mendalam dan sering mengembang menjadi antipati terhadap orang Indo-Belanda dan orang Tionghoa. Jumlah mereka yang nasionalismenya begitu sempit tidak perlu dibesar-besarkan. Apa pun masalahnya, kebanyakan mereka membuktikan mau mengikuti bimbinan dan teladan pemuda terpelajar dan para pemimpin nasionalis yang lebih matang dengan faham yang jauh lebih terbuka. Namun demikian, masih ada suatu minoritas menyolok yang pada awalnya revolusi tertarik untuk mendukung para pemimpin yang kurang cerah karirnya.      
Karena peranan dominan yang harus dimainkan oleh mereka yang relatif berpendidikan, terutama pelajar sekolah menengah dan mahasiswa, pada tahap pertama dan paling kritis revolusi itu, perlu dimengerti secara khusus pengaruh pendidikan Jepang atas mereka. Kebijakan Jepang memaksakan bahasanya kepada pelajar Indonesia (sangat ditekankan selama tahun pertama pendudukan Jepang) dibarengi dengan pengelolaan sekolah sekolah secara aristokratis dan keras, dengan sangat cepat menimbulkan kebencian kaum pelajar itu. Banyak dari mereka yang lebih bersemangat dipaksa keluar dari sekolah karena terang-terangan melawan pengurus sekolah Jepang atau keluar dari sekolah sebagai protes. Sejumlah yang lain tetap bersekolah hanya demi lebih menutupi kegiatan-kegiatan bawah-tanah anti-Jepang yang paling banyak menyita waktu mereka.
Sebagian besar tokoh pelajar datang dari luar kota besar, yang jumlahnya hanya sedikit itu, dimana terdapat sekolah-sekolah menengah dan perguruan-perguruan tinggi. Kebanyakan terpisah dari rumah mereka, dan bila mereka tidak menerima beasiswa dari pengusus sekolah Jepang yang bagi kebanyakan mereka dianggap haram, terpaksa mencari nafkah sendiri. Bagi kebanyakan mereka, keharusan menyongsong diri sendiri merupakan suatu pengalaman yang sama sekali baru. Kekurangan tenaga kerja yang relatif berpendidikan di bidang pemerintahan dan perdagangan sebagai akibat dari dipenjarakannya penduduk Belanda, menyebabkan masalah ini tidak sulit. Kemampuan menyokong diri sendiri memberikan suatu derajat kepercayaan diri yang belum pernah mereka miliki sebelumnya. Banyak yang merasa yakin, bahwa tanpa ini, mereka hampir tidak mampu memainkan peranan-peranan revolusioner yang harus segera mereka tangani.
Lebih-lebih lagi, mereka yang meninggalkan sekolah dan pulang kerumah, harus memanfaatkan waktu mereka yang bebas itu sebaik-baiknya. Hingga suatu taraf yang lebih rendah, masalah ini juga dialami oleh mereka yang sudah memperoleh pekerjaan sehingga sore hari mereka tidak perlu menghabiskan waktunya untuk mengulang pelajaran sekolah. Sejak permulaan, mereka menyaksikan peristiwa-peristiwa politik yang tidak lazim itu dan kebencian mereka kepada Jepang merangsang mereka untuk mempelajari pengetahuan sosial, yaitu mata pelajaran yang tidak mereka suka karena sempitnya kurikulum sekolah Jepang maupun sekolah yang diawasi Belanda. Banyak pelajar Indonesia mulai menggeluti tulisan para penulis politik Barat selama masa pengangguran terpaksa itu dan banyak diantara mereka yang sudah pernah membacanya punya kesempatan besar untuk menekuninya secara lebih mendalam. Dengan dibubarkannya Poetera pada akhir tahun 1943, kebanyakan pelajar sekolah menengah dan mahasiswa yang mendukungnya, membina kontak dengan salah satu atau lebih gerakan bawah tanah bila sebelumnya mereka belum punya kontak dengan gerakan semacam itu. Dalam gerakan-gerakan tersebut -- terutama di bawah bimbingan Sjahrir dan anggota-anggota kelompoknya seperti Djohan Sjaroezah, Roeslan Abdulani, Subadio, Dr. Subandrio dan Dr. Sudarsono -- mereka melanjutkan belajar politik dan pada waktu bersamaan terlibat dalam usaha gerakan bawah tanah itu.  Akhirnya harus diperhatikan bekas anti-Imperialis mendalam dan bekas perasaan anti-komunis tertinggal pada pelajar-pelajar yang masuk Sekolah-sekolah Asrama.
Dikalangan orang Indonesia terpelajar (sekitar 6-8 persen penduduk) perkembangan dan penyebaran bahasa Indonesia selama masa pendudukan Jepang berarti memperkuat kesadaran kebangsaan mereka dan membentuk kecenderungan keagamaan mereka yang mungkin sebaliknya telang dirangsang karena pembagian indonesia ke dalam tiga suasana pemerintahan itu. Semula, tujuan jangka panjang Jepang adalah mengganti bahasa Belanda dengan bahasa mereka sendiri sebagai bahasa di bidang pemerintahan dan bahasa pengantar di sekolah. Namun demikian, kelayakan jangka-pendek memaksa mereka untuk tergantung pada suatu bahasa yang bukan bahasa Belanda namun dikuasai oleh sejumlah sangat besar orang Indonesia diseluruh kepulauan itu. Bahasa tersebut adalah bahasa Melayu atau Bahasa Indonesia karena dialek yang umum dipakai di seluruh Indonesia sudah cukup dikenal. Di bawah Jepang, bahasa tersebut menjadi bahasa resmi dalam bidang pemerintahan dan semua bidang pendidikan di atas kelas tiga. Orang-orang Indonesia yang menduduki posisinya yang diizinkan bagi mereka selama pemerintahan Belanda dan yang asal saja omong Belanda, tetapi sedikit bahasa Indonesia, ditantang untuk mempelajari bahasa Indonesia dalam waktu singkat. Hal ini juga berlaku bagi guru-guru sekolah yang sarana instruksinya adalah bahasa Belanda atau mungkin Jawa, Sunda atau Madura. Menurut takdir Alisjahbana:
            " Demi menggalang kekuatan seluruh penduduk Indonesia untuk tujuan perangnya, orang Jepang menyusup masuk ke desa-desa yang terpencil di Nusantara, sambil memakai bahasa Indonesia.
Demikianlah maka bahasa itu berkembang dan bagi kebanyakan penduduk mengihalmi suatu perasaan baru. Makin mereka belajar memakai bahasa Indonesia dengan bebas, mereka makin menyadari adanya suatu ikatan umum. Bahasa Indonesia menjadi suatu lambang kesatuan kebangsaan yang berlawanan dengan usaha-usaha Jepang itu, sepenuhnya menyuburkan bahasa dan kebudayaan mereka sendiri. Oleh karena itu, menjelang Jepang menyerah, posisi bahasa indonesia sudah sangat baik, baik dalam kekuatannya maupun martabatnya tidak hanya jika dibandingkan dengan bahasa Belanda, tetapi juga dengan berbagai bahasa daerah dikepulauan itu yang tidak punya kesempatan berkembang selama masa pendudukan Jepang. "     
      Konsekuensi lain dari zaman pendudukan Jepang yang sangat penting dalam mengembangkan perasaan kebangsaan di kalangan orang Indonesia dan khususnya kemauan mereka untuk merdeka secara politik, merupakan akibat peningkatan besar-besaran dalam rasa percaya pada diri-sendiri orang Indonesia pada umumnya, dan dalam rasa percaya diri-sendiri masing-masing kebanyakan orang Indonesia terpelajar. Seperti sudah kita lihat, hal ini muncul dari kebutuhan Jepang mempekerjakan orang-orang Indonesia dalam hampir semua bidang pemerintahan dan teknis, yang dulunya diduduki orang-orang Eropa yang sudah mereka singkirkan. Sistem perkeretaapian di bawah pengelolaan orang Indonesia mungkin tidak berjalan seefisien di bawah Belanda dulu, tetapi tetap berjalan. Tiba-tiba tampak jelas bahwa apa yang disebut ketrampilan esoterik, hanya dimiliki oleh orang tertentu saja, dari "orang Belanda yang superior" itu, tidak hanya dapat, tetapi dalam banyak hal juga sudah dikuasai orang-orang Indonesia. Ini menimbulkan suatu kesan yang hebat pada setiap orang. Bagi orang-orang Indonesia yang melaksanakan tugas-tugas ini, dan bertalian dengan sejumlah aktivitas oleh masyarakat Indonesia secara keseluruhan, hal ini sering tampak jika ada seorang Jepang mengambil alih salah satu pekerjaan dalam bidang pemerintahan atau teknis, maka tingkat hasil kerjanya jauh lebih rendah daripada yang dicapai oleh orang Indonesia. Menurut pendapat banyak orang Indonesia, "memang, orang Jepang dengan mudah menindas Belanda, dan kami dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan itu lebih baik daripada orang Jepang. Oleh karena itu, jelas kami bukan rakyat yang bermartabat lebih rendah. Kenapa kami harus dikuasai oleh orang lain dan tidak oleh kami sendiri? "
Akan tetapi, lepas dari ini menimbulkan rasa percaya diri sendiri yang kuat, penempatan orang-orang Indonesia pada posisi-posisi yang dulunya diduduki orang Eropa, dalam cara lain yang lebih penting,  telah memperkuat kemauan orang Indonesia untuk merdeka. Bagi banyak orang Indonesia yang sudah merasakan keuntungan dari ini, pergerakan sosial-ekonomi revolusioner yang meningkat punya cengkeraman yang kuat dalam mempertahankan perubahan-perubahan ini. Bagi mereka itu berarti membendung kembalinya pendudukan Belanda. Mereka yakin bahwa kembalinya Belanda dapat berarti mereka akan turun ke pangkatnya yang dulu sebaliknya, kemerdekaan dibayangkan sebagai suatu harapan kejenjang pangkat yang bahkan lebih tinggi daripada yang sudah mereka capai. Pencapaian posisi mereka yang baru belumlah  memuaskan, tetapi rasa percaya diri yang dipertinggi oleh kemampuan mereka menangani pekerjan-pekerjaan ini hanyalah menambah nafsu untuk mencapai posisi lebih tinggi yang tetap dipegang oleh seorang Jepang atau menduduki jabatan mereka yang baru itu sepenuhnya tanpa pengawasan seorang "pengawas" bangsa Jepang.
Revolusi sosial yang harus diciptakan Jepang sebagai sesuatu kelayakan, bahwa menguntungkan orang-orang Indonesia yang dulu lebih diperhatikan oleh Belanda karena termasuk golongan bangsawan asli kuno dan telah menduduki posisi-posisinya yang relatif tinggi di bawah pemerintahan Belanda. Dalam hampir semua hal posisi-posisinya ini sudah cukup tinggi untuk membuat mereka merasa berkepentingan membantu mempertahankan quo penjajah Belanda. Namun demikiam, di bawah pemerintahan Jepang, banyak orang semacam itu terpaksa menduduki posisi-posisi yang tidak pernah mereka harapkan pada masa pemerintahan rezim lain. Dalam hal-hal ini, juga lahir keyakinan bahwa mereka dapat menangani posisi-posisi yang lebih tinggi daripada yang dibolehkan mendudukinya oleh Belanda dulu, bahwa mereka berhak menduduki posisi-posisi semacam itu, dan bahwa ada jaminan mereka akan memperolehnya dalam negara Indonesia yang merdeka. Demkianlah, maka rusaklah beberapa alat pemerintahan Belanda yang paling efektif dan dapat diandalkan.













BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Ketika jaman pendudukan Jepang, organisasi pergerakan nasional Indonesia mendapat pembatasan agar mereka tidak mampu melepaskan diri dari Jepang. Baru setelah pemerintah Jepang memberikan kesempatan para nasionalis diajak bekerjasama maka mereka menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya guna menggalang kesatuan dan semangat nasionalis. Pada pertengahan tahun 1942 Seokarno dibebaskan dari penjara dan sudah barang tentu pemerintah Jepang akan menggunakan keppuleran dan kepemimpinan Soekarno untuk tujuan propaganda yaitu agar seluruh bangsa Indonesia dengan mudah dikerahkan untuk membantu perang yang sedang dihadapi Jepang. Empat serangkai diberi kepercayaan untuk memimpin gerakan Pusat Tenaga Rakyat (Putra) yang dibentuk 9 Maret 1943, atas usul Ir. Soekarno. Tujuan Putra ialah mempersatukan rakyat Jawa untuk menghadapi serangan Sekutu yang semakin dekat dengan Indonesia (Jawa). Tugas Putra menggerakan tenaga dan kekuatan rakyat untuk memberi bantuan kepada usaha-usaha untuk mencapai kemenangan akhir dalam perang Asia Timur Raya.



Daftar Pustaka
Anderson, Ben. 1988. Revoloesi Pemoeda “Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946”. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan
Kahin, George McTurnan. 1995. Refleksi Pergumulan Lahirnya RepublikNasionalisme dan Revolusi di Indonesia”. Sebelas Maret University Press : Pustaka Sinar Harapan.