Selamat Datang Di Tugas Kuliahku, jika butuh softcopy, Silahkan email ke jhonmiduk8@gmail.com. Mohon donasi pulsa ke 081210668660 Untuk Kemajuan Blog, Terimakasih. Sampah ditabur, Banjir dituai | Tugas Kuliahku

Sampah ditabur, Banjir dituai

          

           Saya pernah mendengar pepatah “Apa yang anda tabur, Itu juga yang akan anda tuai”. Anda menabur padi, maka yang tuai juga adalah padi. Pepatah ini sepenuhnya benar dalam berbagai aspek kehidupan apapun, termasuk bencana yang terjadi sekarang ini Banjir yang sedang melanda Ibukota Negara Republik Indonesia yang kita cintai ini. Kita tentu tidak ingin kebanjiran, sama seperti saya merasakan begitu susahnya untuk beraktivitas ketika hujan sudah turun lebih dari 1 jam di Jakarta ini. Banjir Tahunan ini sepertinya bukan menjadi sebuah bencana lagi, tetapi sudah merupakan hal yang biasa karena musiman (pasti akan datang sekali setahun). Bagi orang-orang yang berdomisili di Jakarta hal ini merupakan sebuah keharusan, “bersedia menanggung banjir jika ingin tinggal di Jakarta”. Tetapi bagi orang yang berada di luar pulau Jawa, ini benar-benar sebuah bencana yang mengerikan.
Sayangnya, tidak semua mampu menyikapi dilema ini dengan bijak. Bagi mereka yang tinggal di pinggiran/bantaran kali, mereka terkadang tidak terima jika harus di relokasi padahal tujuannya adalah untuk kegiatan normalisasi kali. Sungguh tidak terbayangkan jika pemukiman penduduk di sepanjang kali Ciliwung tidak direlokasi hingga kini, korban nyawa sudah menjadi sebuah kepastian. Separuh kampung Melayu sudah dipastikan tenggelam. Tetapi pemerintah Provinsi DKI Jakarta memilih untuk memindahkan mereka yang berada di bantaran kali, melakukan negosiasi dengan baik-baik, memberikan santunan, hingga menyediakan rumah susun  (rusun) bagi mereka yang bersedia tinggal di Rusun.
Bagi mereka yang memiliki pandangan politik berbeda dengan pemerintahan yang ada sekarang ini, mereka biasanya menghujat dan mengkritik kinerja pemerintah yang sedang berjalan. Serangan protes sana sini seakan-akan membabi buta tanpa kenal ampun. Beruntung, pemerintah menyikapinya dengan lunak.
Saya sering melewati beberapa kali besar yang ada di daerah Jakarta, bukan air yang saya lihat mengalir dengan tenang, tetapi “timbunan sampah” yang menggunung dan bahkan menutupi sepanjang daerah aliran sungai. Tak pelak, aliran sungai berhenti, air menjadi hitam, bau busuk yang tak sedap, dan air tersebut sangat tidak layak untuk dimanfaatkan kembali.
Saya bahkan sudah ratusan kali melihat ibu-ibu rumah tangga dengan sengaja membuang limbah rumah tangga setumpuk keranjang sampah ke kali ciliwung. Mungkin jika yang melakukan hanya satu orang dan satu kali saja, sampah tersebut masih bisa di netralisir oleh aliran kali. Tetapi, bukan hanya satu yang membuang sampah disana, 1 orang yang membuang sampah disana hanyalah awal dari ribuan orang yang memuntahkan tumpukan sampah rumah tangga yang menggunung di kali tersebut.
Saya pernah menegur mereka dengan sopan, sembari memberikan apa efek/dampak  dari tindakan seperti itu, tetapi mereka justru bertindak sinis dan mengganggap “siapa loe?”. Saya berpaling dan menadah kepada yang lain, semuanya merespon sama. Mungkin kebiasaan seperti ini telah menjadi membudaya “membuang sampah dikali”.
Secara langsung, mereka memang tidak merasakan efeknya, tetapi disaat tahun baru mulai menyambut, mereka mulai merintih dan menjerit. Tak sedikit dari jeritan mereka bernada kasar dan tidak manusiawi untuk ukuran manusia yang seharusnya. Mereka menyalahkan pemerintah yang tidak bisa menghapuskan banjir dari Ibu Kota. Mereka berkoar-koar menagih janji sang Presiden dan Gubernur, apalagi dibantu oleh media yang kotra pemerintahan yang berlansung.
Saya menganggap ini wajar saja, tetapi ada suatu hal yang mereka lupakan, ada satu hal yang mereka tidak sadari, mereka lupa apa yang mereka tanam dihari kemarin telah berbuah dan buahnya itu begitu besar. Mereka lupa buah yang mereka tanam itu adalah buah keangkuhan. Saking besar buahnya tidak mampu dimakan oleh masyarakat Jakarta. Buahnya bahkan memakan mereka-mereka yang telah mengabaikan keindahan badan kota Jakarta yang dikaruniakan oleh sang Pencipta. Mereka lupa memupuk pohon yang telah dititipkan oleh Tuhan kepada rakyat Jakarta. Ibarat memerah sapi tanpa memberi makan dan minum.
Semoga kita menjadi sadar bahwa begitu besar anugerah Tuhan yang kita dapatkan, dan memang seharusnya kita lestarikan bersama. Alam itu akan marah kepada kita jika kita tidak tahu berterimakasih kepada alam itu sendiri. Mungkin alam itu tidak akan marah setiap hari, dia hanya marah sekali-sekali, tetapi percayalah anda tidak akan bisa lari dari murkanya. Semoga menjadi pelajaran kepada kita semua, Jakarta semakin bebas dari sampah. 1 sampah yang anda buang ditempatnya sama dengan membuang air banjir dari Jakarta. Mari lakukan langkah kecil dengan turut menjadi pelopor membuah sampah ditempatnya dimanapun dan kapanpun anda berada. Biarkan bumi kita kembali tersenyum, cukuplah dia menangis 1 kali ini saja.

Penulis adalah seorang Mahasiswa yang merupakan penulis dan blogger
Ikuti akun fb saya di : Jhon Miduk
Twitter        : @JhonMiduk