Selamat Datang Di Tugas Kuliahku, jika butuh softcopy, Silahkan email ke jhonmiduk8@gmail.com. Mohon donasi pulsa ke 081210668660 Untuk Kemajuan Blog, Terimakasih. Penyebab Kegagalan Kurikulum 2013 | Tugas Kuliahku

Penyebab Kegagalan Kurikulum 2013

         Belum genap 1 tahun berjalan, Kementerian Kebudayaan Pendidikan Dasar dan Menengah sudah menghentikan operasional atau pelaksanaan kurikulm 2013 pada bulan Desember 2014. Tentu ini adalah sebuah kejutan sekaligus ujian yang amat berat bagi dunia pendidikan Indonesia ditengah carut marut situasi politik, ekonomi, dan pendidikan yang tidak menentu. 

            Kurikulum pada dasarnya merupakan salah satu perangkat pendidikan untuk mencapai tujuan dari pendidikan yang telah diselengarakan oleh Negara. Pendidikan kita telah beberapa kali berganti kurikulum karena memang harus disesuaikan dengan kebutuhan zaman serta situasi dan kondisi yang mendukung. Kurikulum 2013 dari awalnya memang sudah kelihatan seperti akan menemui ajalnya karena lambatnya sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah kepada para guru, orang tua, dan siswa itu sendiri. Kelemahan itu semakin jelas terlihat ketika memasuki tahun ajaran baru, system dan metode belajar yang digunakan masih sangat jauh dari harapan. Berikut ini beberapa penyebab utama kegagalan pelaksanaan kurikulum 2013 yaitu:
1.      Bertentangan dengan UU Nomor 20 Tahun 2003
UU no.20 Tahun 2003 tentang system pendidikan Nasional berbeda haluan dengan kurikulum 2013 karena penekanan pengembangan kurikulum hanya didasarkan pada orientasi pragmatis. Selain itu, kurikulum 2013 tidak didasarkan pada evaluasi dari pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 sehingga dalam pelaksanaannya bisa membingungkan guru dan pemangku pendidikan.
2.      Kurangnya Keterlibatan Guru oleh Pemerintah
Dalam kurikulum 2013, keterlibatan guru sangat kurang dalam mengembangkan kurikulum sehingga apa yang disalurkan dari pusat, itu yang dilaksanakan secara sepenuhnya di sekolah masing-masing. Pemerintah juga seolah melihat semua guru dan siswa memiliki kapasitas yang sama dalam kurikulum 2013.
3.      Ketidakseimbangan Orientasi
Orientasi dan hasil kurikulum 2013 sangat tidak seimbang, dimana kurikulum ini dititikberatkan pada peranan siswa apalagi ditambah dengan pembelakuan Ujian Nasional (UN) yang masih diterapkan. UN hanya mendorong orientasi pendidikan pada hasil dan sama sekali tidak memperhatikan proses pembelajaran yang telah dilalui.
4.      Integrasi Mata Pelajaran IPA dan IPS dalam bahasa Indonesia
Pengintegrasian Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk jenjang pendidikan dasar atau lebih sering disebut tematik. Menggabung semua mata pelajaran dalam suatu topic akan semakin menyulitkan guru dan siswa dalam melakukan proses belajar mengajar. Bayangkan, mata pelajaran yang dipisah saja susah dimengerti, apalagi semua mata pelajaran disatukan.
5.      Sosialisasi
Mungkin ini adalah penyebab terbesar mengapa kurikulum 2013 gagal sedemikian rupa. Negara Indonesia yang terdiri dari ribuah pulau, tidak cukup waktu satu tahun untuk melakukan sosialisasi kurikulum yang baru. Minimal diperlukan waktu 3 tahun agar benar-benar matang dan bisa dilaksankaan secara serentak, sehingga tidak ada lagi kesenjangan kurikulum yang terjadi antar sekolah, maupun wilayah tertentu. Sosialisasi yang dilakukan juga tidak hanya sekedar menyampaikan apa itu kurikulum 2013, tetapi benar-benar melakukan uji coba dan melihat hasil untuk dijadikan bahan evaluasi untuk dijadikan bahan pedoman pelaksanaan kurikulum.


            Ibarat sebuah anggota tubuh yang digunakan untuk melengkapi anggota tubuh lain yang cacat, hal itu belum tentu menjadi sebuah kepastian untuk menopang tubuh tersebut, begitu juga dengan kurikulum. Kegagalan hanyalah sebuah  jalan untuk mencapai sebuah kepastian dalam pendidikan. Evaluasi dari kegagalan ini suatu saat nanti akan menjadi pembelajaran yang berharga bagi kita semuanya. 
          Diperlukan upaya persiapan yang matang dan maksimal dalam pembaharuan kurikulum agar tidak kembali menemui kegagalan yang serupa. Apalagi Negara Indonesia bukan hanya 1 wilayah daratan yang mudah dijangkau saja, melainkan terdiri dari daratan yang dipisahkan oleh bermil-mil lautan yang membentang luas, ditambah lagi dengan sarana dan fasilitas belajar yang belum merata di semua wilayah. Semoga kurikulum selanjutnya menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.