Selamat Datang Di Tugas Kuliahku, jika butuh softcopy, Silahkan email ke jhonmiduk8@gmail.com. Mohon donasi pulsa ke 081210668660 Untuk Kemajuan Blog, Terimakasih. Sistem Pendidikan Di Finlandia | Tugas Kuliahku

Sistem Pendidikan Di Finlandia

           
              Di Finlandia, anggaran pendidikan mendapat prioritas utama, meskipun bukan yang tertinggi diantara Negara-negara Eropa lainnya. Pada tahun 2003, anggaran pendidikan Finlandia sebesar €5,9 Miliard (€1.100 perkapita). Leo Panhkin, konselor pendidikan dari Badan Pendidikan Nasional Finlandia, terus memacu mutu pendidikan di Finlandia yang dia pandang sebagai asset kemajuan bangsa. “kami menanam ivestasi yang besar dibidang pendidikan dan pelatihan agar bisa mencetak tenaga ahli dan terampil yang kelak menghasilkan inovasi,” ujarnya.

            Kegiatan sekolah di Finlandia rata-rata hanya 30 jam perminggu, berarti hanya 6 jam perharinya. Pelajar akan masuk sekolah pukul 08.00 dan akan pulan pukul 13.00. artinya, disana perilaku sekolah non-asrama, bukan full-day school. Ternyata, jumlah waktu untuk bertemu keluarga di rumah menjadi prioritas yang paling penting. Interaksi keluarga dianggap sebagai sebuah proses penting yang tidak akan pernah dijumpai disekolah.
            Untuk menjadi guru di Finlandia, harus membutuhkan kerja dan usaha yang sangat keras. Untuk dapat kuliah dijurusan pendidikan saja, seseorang harus bersaing sangat ketat. Fakultas Pendidikan  dikatakan sebagai Fakultas yang paling bergengi disbandingkan dengan fakultas lainnya. Rata-rata dari 7 orang peminat, hanya 1 yang akan diterima di fakultas Pendidikan. Tidak heran, fakultas tersebut begitu diminati karena gaji guru fi Finlandia rata-rata mencapai $2.311 perbulan. Negara dan rakyat Finlandia menempatkan guru sebagai profesi yang terhormat dan mereka yang menyandang profesi itu pun terasa mendapat sebuah prestise dan kebanggaan tersendiri. (ingat guyonan klasik kita, seorang calon mertua tidak akan menerima calon mantunya jika dia bekerja sebagai seorang guru)
            Guru-guru di Finlandia dibebaskan menyusun kurikulum dan silabus sesuai dengan visi dan misi sekolah. Dengan kreatif, mereka merancang buku teks yang aplikatif. Hamper semua guru menjadi penulis, minimal menulis buku pelajaran yang akan mereka gunakan dikelas. Mereka juga menggunakan strategi belajar-mengajar yang beragam dengan memperhatikan multiple Intelegences semua siswa. Guru juga menentukan model evaluasi dan penilaian setiap aktivitas belajar mengajar. Dan akhirnya, gurulah yang menjadi penilai terbaik bagi para siswanya. Dampak dari otonomi guru tersebut menjadikan guru-guru di Finlandia sangat bertanggungjawab terhadap keberhasilan pendidikan para siswanya. Bahkan moto guru di Finlandia “jika saya gagal dalam mengajar seorang siswa, itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya”.
            Kewibawaan guru demikian tinggi dimata para siswanya. Mereka sangat menghindari memberi kritik terhadap pekerjaan siswa, tetapi mereka mengajak para siswa untuk membandingkan dengan nilai sebelumnya yang pernah diraih (konsep Ipsative). Para guru menghindari memvonis siswa dengan mengatakan “kamu salah!” karena menganggap sebagai hal biasa jika siswa melakukan kesalahan, termasuk dalam mengerjakan soal-soal.
            Prose belajar-mengajar berjalan dua arah. Suasana sekolah boleh dibilang jadi lebih cair, fleksibel, dan menyenangkan. Dan efektif. Siswa di Finlandia juga diarahkan mampu mengevaluasi secara mandiri hasil belajar masing-masing. Hal itu diterapkan sejak dini/Pra-TK. Mereka didorong bekerja secara individual, tak peduli apapun hasilnya. “ini akan membantu siswa untuk belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri”, kata Sundstrom, seorang kepala sekolah dasar di Poikkilaakso, Finlandia.
            Sampsa Vourio, seorang guru di Torpparinmaki, menjelaskan bahwa sistem pendidikan dinegaranya yang dijalankan sangat demokratis. Penekanan belajar focus pada proses, bukan pada hasil belajar. Remedial tidak dianggap sebagai kegagalan, tetapi untuk perbaikan, dengankan Pekerjaan Rumah (PR) dan ujian tidak harus dikerjakan dengan sempurna-yang penting siswa menunjukkan adanya usaha. Ujian justru dipandang sebagai penghancur mental siswa. Tidak ada system peringkat (ranking) sehingga siswa merasa percaya diri dan nyaman terhadap dirinya. System peringkat dipandang hanya akan membuat guru terfokus pada murid-murid terbaik saja, bukan kepada seluruh murid.
            Kesimpulanya, Finlandia telah sukses menggabungkan kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi, dan komitmen dengan keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi.


Sumber : Chatib Munif. Gurunya Manusia. Kaifa. Jakarta. Bandung, 2012.