Selamat Datang Di Tugas Kuliahku, jika butuh softcopy, Silahkan email ke jhonmiduk8@gmail.com. Mohon donasi pulsa ke 081210668660 Untuk Kemajuan Blog, Terimakasih. Jenis-Jenis Manusia Purba di Indonesia | Tugas Kuliahku

Jenis-Jenis Manusia Purba di Indonesia

Dari hasil penelitian dan penemuan fosil oleh para ahli purbakala, banyak jenis manusia purba yang pernah hidup di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Diantaranya lembah Begawan Solo (Jawa Tengah) dan di lembah sungai Brantas (Jawa Timur). Di daerah-daerah tersebut banyak ditemukan fosil manusia purba. Jenis-jenis manusia purba, diantaranya Meganthropus Paleojavanicus, Pithecanthropus Erectus, dan Homo (Manusia Purba Modern).

A.    Megantrhropus Paleojavanicus
Meganthropus Paleojavanicus artinya manusia purba yang besar dan tertua di jawa. Manusia purba ini memiliki ciri tubuh yang kekar. Diperkirakan sebagai manusia purba yang paling tua diantara manusia purba lainnya. Fosil Meganthropus Paleojavanicus ditemukan oleh Von Koeningswald di Sangiran, Lembah Begawa Solo pada tahun 1936-1941. Fosil tersebut berasal dari lapisan Plesitosen bawah. Meganthropus memiliki badan yang tegap dan rahang yang besar dan kuat. Mereka hidup dengan cara mengumpulkan makanan (Food gathering). Makanan utama mereka berasal dari tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan. Sebagian ahli menganggap bahwa Meganthropus sebenarnya merupakan Pithecanthropus dengan badan yang besar. Fosil ini pertama kali ditemukan oleh G.H.R Von Koeningswald pada tahun 1936 dan berakhir pada tahun 1941, berupa rahang atas dan rahang bawah.
B.     Pithecanthropus
·         Pithecanthropus Erectus
Pithecanthropus erectus artinya manusia kera yang berjalan tegak. Manusia purba ini memiliki ciri-ciri berbadan tegak, dan memiliki tinggi badan antara 165-180 cm. Pithecanthropus erectus merupakan fosil manusia purba yang paling banyak ditemukan di Indonesia diantaranya di Mojokerto, Kedungtrubus, Trinil, Sangiran, Sambungmacam, dan Ngadong. Pertama kali ditemukan oleh Eugene Dubois di Trinil dekat Begawan Solo tahun 1891. Pithecanthropus erectus memiliki alat pengunyah yang kuat, dengan volume otak mencapai 900 cc. Volume otak manusia modern lebih dari 1000 cc, sedangkan volume otak kera hanya mencapai 600 cc.
·         Pithecanthropus mojokertensis
Pithecanthropus mojokertensis ditemukan pada tahun 1936, Tjokrohandoyo yang bekerja dibawah pimpinan ahli purbakala Duyfjes menemukan fosil tengkorak anak-anak di Kepuh Klagen sebelah utara Perning (Mojokerto). Fosil tersebut ditemukan pada lapisan Pucangan (Pleitosen Bawah) dan dinamakan Pithecanthropus mojokertensis.  Manusia purba ini tergolong jenis Pithecanthropus yang paling tua. Jenis Pithecanthropus mempunyai ciri-ciri antara lain sebagai berikut :
a.       Berbadan tegap, tetapi tidak seperti Meganthropus
b.      Tinggi badannya 165-180 cm
c.       Tulang rahang dan geraham kuat serta bagian kening menonjol
d.      Tidak mempunyai dagu
e.       Volume otak belum sempurna seperti jenis homo, yaitu 750-1.300 cc
f.       Tulang atap tengkorak tebal
g.      Alat pengunyah berbentuk lonjong dan otok tengkuk sudah mengecil.

C.     Manusia Purba (Homo)
Manusia purba dari genus Homo adalah jenis manusia purba yang berumur paling muda. Fosil manusia purba jenis ini diperkirakan berasal dari 15.000-40.000 tahun SM. Dari volume otaknya yang sudah menyerupai manusia modern, dapat diketahui bahwa manusia purba ini sudah merupakan jenis manusia (homo) dan bukan lagi manusia kera (Pithecathropus). Ada tiga jenis homo yang fosilnya ditemukan di Indonesia, yaitu homo Soloensis, Homo Wajakensis, dan Homo Floresiensis. Manusia purba jenis ini memiliki ciri yang lebih sempurna dibandingkan dengan meghanthropus Paleojavanicus dan Pithechantropus.
1.      Homo Soloensis
Homo Soloensis, ditemukan oleh Von Koeningswald dan Weidenrich antara tahun 1931-1934 di sekitar Begawan Solo. Fosil yang ditemukan berupa tulang tengkorak. Ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh manusia purba jenis ini, antara lain volume otak antara 1000-1300 cc, tinggi badan antara 130-210 cm, muka tidak menonjol kedepan, serta berjalan tegap secara bipedal (dua kaki). Homo Soloensis diperkirakan pernah hidup antara 900.000 samapi 300.000 tahun yang lalu.
2.      Homo Wajakensis
Homo Wajakensis, ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1889 di Wajak, Jawa Timur. Fosil yang ditemukan berupa rahang bawah, tulang tengkorang, dan beberapa ruas tulang leher. Ciri-ciri homo wajakensis, antara lain memiliki muka lebar dan datar, hidungnya lebar dan bagian mulutnya menonjol, tulang tengkorak sudah membulat, serta memiliki tonjolan yang agak mencolok di dahi. Homo Wajakensis diperkirakan hidup antara tahun 40.000 sampai 25.000 tahun lalu.
3.      Homo Florosiensis

Homo Florosiensi ditemukan saat penggalian di Liang Bua, Flores oleh tim arkeologi gabungan dari Puslitbang Arkeologi Nasional Indonesia dan university of New England  Australia pada tahun 2003. Saat dilakukan penggalian pada kedalaman lima meter, ditemukan kerangkan mirip manusia yang belum membantu (belum menjadi fosil) dengan ukurannya yang sangat kerdil. Manusia kerdil dari Flores ini diperkirakan hidup antara 94.000dan 13.000 tahun SM. Ciri-ciri Homo Floroensis, antara lain tinggi badan kurnag dari 1 meter, berbadan tegap, berjalan secara bipedal, volume otak sekitar 417 cc, serta tidak memiliki dagu.