Selamat Datang Di Tugas Kuliahku, jika butuh softcopy, Silahkan email ke jhonmiduk8@gmail.com. Mohon donasi pulsa ke 081210668660 Untuk Kemajuan Blog, Terimakasih. Salah Nalar dalam Karya Ilmiah | Tugas Kuliahku

Salah Nalar dalam Karya Ilmiah

karya ilmiah
Untuk mengurangi salah nalar,
seseorang perlu belajar lebih banyak
Salah nalar adalah kekeliruan dalam proses berpikir karena keliru menafsirkan atau menarik kesimpulan. Kekeliruan ini terjadi karena faktor emosional., kecerobohan atau ketidaktahuan.
1.      Macam-macam salah nalar
Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang tepat pada sasarannya. Oleh karena itu dalam berkomunikasi perlu diperhatikan kalimat dalam berbahasa Indonesia secara cermat. Sehingga salah nalr dapat dimiimalisirkan. Salah nalar dapat terjadi karena kekeliruan induktif, deduktif, penafsiran relevansi, dan penggunaan otoritas yang berlebihan. Kesalahan yang diuraikan disini ialah kesalahan yang berhubungan dengan proses bernalar/berpikir, yaitu kesalahan dalam berbahasa atau kesalahan informal dan kesalahan penalaran atau kesalahan formal.
1)      Kesalahan informal
Kesalahan informal dikelompokkan dalam kesalahan relevasi karena premisnya tidak mempunyai hubungan dengan kesimpulan, yang termasuk kesalahan jenis ini adalah sebagai berikut:

a.       Argumentum ad Hominem
Secara harafiah kesalahan itu berarti “argumentasi ditujukan kepada diri orang”. Kesalahan itu terjadi bila seseorang mengambil keputusan atau kesimpulan tidak berdasarkan penalaran melainkan untuk kepentingan dirinya, dengan mengemukakan alasan yang tidak logis sebenarnya.
Contoh : seorang menolak pemerataan dengan alasan bahwa pemerataan itu merupakan yang dituntut orang komunis, sedangkan komunisme adalah aliran yang dilarang di sini (Alasan yang sebenarnya ialah karena pemerataan itu merugikan dirinya).



b.       Argumentum ad Baculum
Baculum berarti “tongkat” Yang dimaksud di sini ialah suatu kesalahan yang terjadi apabila suatu keputusan diterima atau ditolak karena adanya ancaman hukuman atau tindak kekerasan.
Contoh : Misalnya jika seorang mengakui kesalahan yang dituduhkan kepadanya (yang sebenarnya tidak dilakukan) karena ia diancam dengan kekerasan.
c.       Argumentum ad Verucundiam atau Argumentum Adictoritatis
Kesalahan ini terjadi bila seseorang menerima pendapat atau keputusan bukan dengan alasan penalaran melainkan karena yang menyatukan pendapat atau keputusan itu adalah yang memiliki kekuasaan.
d.      Argumentum ad Populum
Arti harafiahnya ialah “argumentasi ditujukan kepada rakyat”. Argumentasi yang dikemukakan tidak mementingkan kelogisan yang penting agar orang banyak tergugah. Hal ini sering dilakukan dalam propaganda.
e.       Argumentum ad Misericordiam
Argumentasi dikemukakan untuk membangkitkan belas kasihan. Biasanya argumentasi semacam ini dikemukakan bila seseorang ingin agar kesalahannya dimaafkan.
Contoh : seorang siswa yang mendapat nilai buruk mengatakan bahwa ia tidak mempunyai cukup waktu untuk belajar karena membantu orang tua mencari nafkah.
f.       Kesalahan Non-Causa Pro-Causa
Kesalahan ini terjadi jika seseorang mengemukakan suatu sebab yang sebenarnya bukan merupakan sebab atau bukan sebab yang lengkap.
Contoh : seorang laki-laki dinyatakan meninggal akibat jatuh dari tangga. Akan tetapi, pemeriksaan dokter menyatakan bahwa orang itu meninggal bukan karena jatuh. Ia mendapat serangan jantung ketika sedang menuruni tangga.


g.      Kesalahan Aksidensi
Kesalahan aksidensi ialah kesalahan terjadi akibat penerapan prinsip umum terhadap keadaan yang bersifat aksidental, yaitu suatu keadaan atau kondisi kebetulan, yang tudak seharusnya, atau mutlak yang tidak cocok.
Contoh :susu adalah minuman sehat. Tetapi, jika seorang ibu yang memberikan susu kepada anaknya yang alergi terhadap lemak hewani karena ia menganggap bahwa susu adalah minuman yang menyehatkan ia telah melakukan kesalahan aksidensi. Keadaan umum bahwa susu itu sehat tidak cocok dengan kondisi aksidental bahwa anak alergi terhadap lemak hewani.
h.      Petitio Principii
Kesalahan ini terjadi jika argumen yang diberikan telah tercantum di dalam premisnya.
Contoh : Ular itu mengandung racun karena ia berbisa; kedua hal itu sama saja, karena tidak berbeda”
i.        Kesalahan Komposisi dan Divisi
Kesalahan komposisi terjadi jika kita menerapkan predikat individu kepada kelompoknya.
Contoh : Oni adalah mahasiswa, ia suka berdansa. Jadi mahasiswa suka berdansa. Sebaliknya jika predikat yang benar bagi kelompok kemudian dikenakan kepada individu anggotanya, maka akan terjadi kesalahan divisi. Misalnya saja pada mobil yang besar, baut-baut yang digunakan besar-besar juga. Jika sebuah sekolah dinilai baik maka setiap gurunya dinilai baik.
j.        Kesalahan karena Pertanyaan yang Kompleks
Pertanyaan yang kompleks di sini bukan hanya yang dinyatakan dengan kalimat kompleks saja, melainkan juga yang dapat menimbulkan banyak jawaban.
Misalnya pertanyaan, “Apakah benda itu?” akan menghasilkan berbagai jawaban tergantung pada visi yang menjawab.


k.       Non Secuitur (kesalahan konsekuen)
Kesalahan ini terjadi jika dalam suatu proposisi kondisional terjadi pertukaran antara anteseden dan konsekuen.
Contoh : Jika anda seorang pencuri, maka anda bekerja pada malam hari”, disamakan dengan “Jika anda bekerja pada malam hari, anda seorang pencuri.
l.        Ignoratio Elenchi
Kesalahan karena tidak ada relevansi dalam isi argumentasi.
Contoh : seorang ketua RT mengemukakan kepada warganya bahwa RT perlu memungut iuran untuk petugas kebersihan. Untuk mendukung gagasan itu ia menjelaskan peranan kebersihan dalam menciptakan kesehatan dan keindahan lingkungan; padahal yang harus dibuktikan ialah bahwa iuran itu harus dibayarkan, bukan segala teori tentang kebersihan.

2)   Kesalahan Formal
a.       Generalisasi yang terlalu luas, terjadi karena kurangnya data yang dijadikan dasar generalisasi, sikap menggampangkan, malas mengumpulkan dan menguji data secara memadai, atau ingin segera meyakinkan orang lain dengan bahan yag terbatas.
·         Generalisasi sepintas, kesalahan terjadi karena penulis membuat generalisasi berdasarkan data atau evidensi yang sangat sedikit.
Contoh: “Semua anak yang jenius akan sukses dalam belajar.”
Pernyataan tersebut tidaklah benar, karena kejeniusan atau tingkat intelegensi yang tinggi bukan satu-satunya faktor penentu kesuksesan belajar anak. Karena masih banyak faktor penentu lain yang teribat seperti: motivasi belajar, sarana prasarana belajar, keadaan lingkungan belajar, dan sebagainya.
·         Generalisasi apriori, salah nalar ini terjadi ketika seorang penulis melakukan generalisasi atas gejala atau peristiwa yang belum diuji kebenaran atau kesalahannya. Kesalahan corak penalaran ini sering ditimbulkan oleh prasangka. Karena suatu anggota dari suatu suatu kelompok, keluarga, ras atau suku, agama, negara, organisasi, dan pekerjaan atau profesi, melakukan satu atau beberapa kesalahan, maka semua anggota kelompok itu disimpulkan sama.
Contoh: Semua pejabat pemerintah korup; Para remaja sekarang rusak moralnya; Zaman sekarang, tidak ada orang berbuat tanpa pamrih; dan sebagainya.
b.      Kerancuan analogi
Kerancuan analogi disebabkan karena penggunaan analogi yang tidak tepat.
Contoh: “Negara adalah kapal yang berlayar menuju tanah harapan. Jika nahkoda setiap kali harus meminta anak buahnya dalam menentukan arah berlayar, maka kapal itu tidak akan kunjung sampai. Karena itu demokrasi pemerintahan tidak diperlukan, karena menghambat.”
c.       Kekeliruan kasualitas (sebab – akibat)
Kekeliruan kasualitas terjadi karena kekeliruan menentukan sebab dari suatu peristiwa atau  hasil dari kejadian.Contoh:
·         Saya tidak bisa berenang, karena tidak ada satupun keluarga saya   yang dapat berenang.
·         Saya tidak dapat mengerjakan ujian karena lupa tidak sarapan
d.      Kesalahan relevansi
Kesalahan relevansi akan terjadi apabila bukti yang diajukan tidak berhubungan atau tidak menunjang sebuah kesimpulan. Corak kesalahan ini dapat dirinci menjadi 3 (tiga) macam:
·         Pengabaian persoalan (ignoring the question), disebabkan oeh pengaihan suatu isu atau permasalahn dan menggantikannya dengan isu atau permasalahan lain yang tidak berkaitan Contoh: “Korupsi di Indonesia tidak bisa diberantas, karena pemerintah     tidak memiliki undang-undang khusus tentang hal itu”.
·         Penyembunyian persoalan, terjadi jika seseorang hanya memberikan satu pendapat atau alasan ats sebuah permasalahan yang kompleks atau rumit. Contoh: “Tidak ada jalan lain untuk memberantas korupsi kecuali pemerintah menaikkan gaji pegawai negeri”.
·         Kurang memahami persoalan, salah nalar ini terjadi karena penulis mengemukakan pendapat tanpa memahami persoalan yang dihadapi dengan baik. Sehingga pendapat yang disampaikan tidak mengena atau berputar-putar dan tidak menjawab secara benar atau persoalan yang terjadi.
e.       Penyandaran terhadap prestise seseorang
Salah nalar disini terjadi karena penulis menyandarkan pada pendapat seseorang yang hanya karena orang tersebut terkenal atau sebagai tokoh masyarakat namun bukan ahlinya. Agar tidak terjadi salah nalar karena faktor penyebab ini, maka perlu di patuhi rambu-rambu sebagai berikut:
·         Orang itu diakui keahliannya oleh orang lain
·         Pernyataan yang dibuat berkenaan dengan keahliannya, dan relevan dengan persoalan yang dibahas.
·         Hasil pemikirannya dapat diuji kebenarannya
f.       Pemilihan Terbatas pada Dua Alternatif
Salah nalar ini dilandasi oleh penalaran alternatif yang tidak tepat dengan pemilihan jawaban yang ada. Contohnya adalah sebagai berikut:
·         Orang itu membakar rumahnya agar kejahatan yang dilakukan tidak diketahui orang lain.
·         Petani harus bersekolah supaya terampil.
g.      Penyebab yang Salah Nalar
Salah nalar ini disebabkan oleh kesalahan menilai sesuatu sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran maksud. Contohnya adalah sebagai berikut:
·         Hendra mendapat kenaikan jabatan setelah ia memperhatikan dan mengurusi makam leluhurnya.
·         Anak wanita dilarang duduk di depan pintu agar tidak susah jodohnya.
h.      Analogi yang Salah
Salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang lain. Contohnya adalah sebagai berikut:
·         Anto walaupun lulusan Akademi Amanah tidak dapat mengerjakan tugasnya dengan baik.
·         Pada hari senin Patriana kuliah mengendarai sepeda motor. Pada hari selasa Patriana kuliah juga mengendarai sepeda motor. Pada hari rabu patriana kuliah pasti mengendarai sepeda motor.
·         Rektor harus memimpin universitas seperti jenderal memimpin divisi.
i.        Argumentasi Bidik Orang
Salah nalar jenis ini disebabkan oleh sikap menghubungkan sifat seseorang dengan tugas yang diembannya. Contohnya adalah sebagai berikut:
·         Kusdi kesulitan membuat tugas makalah bahasa Indonesia karena tidak mempunyai materi bahasa Indonesia.
·         Deliana tidak bias menikah lagi karena ia sudah janda.
j.        Meniru-niru yang Sudah Ada
Salah nalar jenis ini berhubungan dengan anggapan bahwa sesuatu itu dapat kita lakukan kalau orang lain melakukan hal itu. Contohnya adalah sebagai berikut:
·         Kita bisa melakukan korupsi karena pejabat pemerintah melakukannya.
·         Saat Ujian Akhir Semester mata kuliah Bahasa Indonesia Slamet mencotek, karena pada mata kuliah Statistik Fitriawati juga mencontek.
k.      Penyamarataan Para Ahli
Salah nalar ini disebabkan oleh anggapan orang tentang berbagai ilmu dengan pandangan yang sama. Hal ini akan mengakibatkan kekeliruan mengambil kesimpulan. Contohnya adalah sebagai berikut:
·         Dosen mata kuliah Bahasa Indonesia adalah Diska, Sarjanah Ekonomi.

·         Sarifah pandai membuat kue, ia adalah lulusan SMEA.