Selamat Datang Di Tugas Kuliahku, jika butuh softcopy, Silahkan email ke jhonmiduk8@gmail.com. Mohon donasi pulsa ke 081210668660 Untuk Kemajuan Blog, Terimakasih. Makalah Islam Tradisional | Tugas Kuliahku

Makalah Islam Tradisional

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Gerakan islam di Hindia sudah ada sejak islam  masuk ke Nusantara. Namun ada perbedaan pemikiran setelah banyaknya orang islam di Hindia pulang berhaji dari Mekkah. Orang – orang yang dari Mekkah itu membawa pemikiran – pemikiran baru yaitu pembaharuan islam, yang kemudian memunculkan golongan islam modern. Maka ada dua golongan islam di Hindia yaitu, islam tradisional dan islam modern .
Gerakan islam tradisional adalah gerakan Islam yang mempertahankan tradisi Islam sebagai suatu relitas spiritual ditengah modernisme. Gerakan Islam tradisional memiliki peranan dalam pergerakan nasional terutama dalam bidang pendidikan, yaitu pesantren . Terjadi persaingan antar islam tradisional dan modern dalam menarik masa untuk mengikuti pemikirannya . Islam modern lebih memusatkan perhatiannya dalam wilayah tingkat perkotaan , sedangkan islam tradisional merasa cukup penyebarkan pemikirannya dilingkup wilayah daerah atau desa-desa .

I.2 Rumusan Masalah
            Dari uraian diatas maka masalah  yang akan dibahas didalam makalah ini adalah :
a.       Bagaimana asal usul islam tradisional  ?
b.      Bagaimana peranan islam tradisional dalam pergerakan nasional ?

3.1  Tujuan
Dari rumusan masalah diatas maka tujuan makalah ini adalah :
a.       Untuk mengetahui asal usul Islam tradisional.
b.      Untuk mengetahui bagaimana peranan Islam dalam Nusantara



BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Asal usul islam tradisional
Pada akhir abad ke XIX terjadi kebangkitan Islam di Hindia, dilihat dari banyaknya jama’ah haji yang pulang dari Mekkah selain pergi haji mereka disana juga belajar tentang Islam dan sekembalinya ke Hindia mereka menyebarkan ajaran baru. Ajaran yang berkembang di Mekkah pada masa itu adalah Wahabi.
Terdapat dua arus yang berada di Hindia setelah kembalinya orang-orang Hindia dari Mekkah.
Yang pertama adalah yang ingin melepaskan diri dari empat mazhab besar yang dijunjung oleh mayoritas muslim di Hindia , kedua mereka juga berusaha meningkatkan peranan dan pemikiran islam tanpa harus meninggalkan keterikatannya pada empat mazhab besar tadi, yang pertama melahirkan islam modern dan yang kedua melahirkan islam tradisional.
 Golongan Islam tradisional lebih banyak menghiraukan soal-soal agama. Namun dak berarti mereka senang dengan penjajahan. Mereka tidak mempersiapkan menyerang penjajahan secara sistematis namun lebih berdiam di pesantren. Pada awalnya, golongan tradisi pada umumnya tidakterlibat pada masalah politik. Bidang ini mereka serahkan pada kalangan adat dan priyayi.
Islam tradisional muncul merupakan reaksi dari munculnya Islam moedern yang berkembang di Hindia yang terdapat perbedaan pemikiran dikeduannya. Ketika kongres Al-Islam di Bandung, yang mendominasi forum adalah pemimpin gerakan Islam modern, sehingga usul-usul yang diberikan pimpinan islam tradisional diabaikan karena perbedaan pemikiran diantara mereka, usulan tersebut mengenai praktek-praktek keagamaan tradisional. Hasyim Asyari merupakan dari Islam tradisional melontarkan kritik pedas pada forum yang dikuasai oleh kaum Islam modern.
Pada permulaan tahun 1926 Hasyim mendirikan dan memimpin Nahdatul Ulama dengan kota Surabaya sebagai pusat pergerakan. Setelah Nahdatul Ulama tumbuh dan berkembang, gerakan tradisional ini mengembangkannya ke daerah-daerah pedesaaan Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur, Islam modern mengembangkannya di daerah perkotaan.  Sehingga terjadinya persaingan antara Islam modern dan tradisional, tetapi akhirnya mereka menyadari bahwa perbedaan mereka terletak dalam soal furu. Oleh sebab itu pada tahun 1935 mereka mulai berseru tentang perlunya persatuan, dengan mengemukakan perlunya toleransi, serta tekanan bahwa mereka tergolong sama, sesama umat Muhammad. Setelah itu persatuan keduanya lebih terlihat lagi setelah terbentuknya  MUAI (Majelis Islam  A’laIndonesia).

2.2  Peranan Gerakan Islam Tradisional terhadap pergerakan nasional
Peranan pergerakan Islam tradisional pada awalnya berupa memberikan pendidikan kepada masyarakat-masyarakat pribumi di desa-desa. Dalam pendidikan tersebut mereka menyadarkan masyarakat pribumi yang terbelakang tentang keadaan mereka yang sedang terjajah. Kemudian hal ini menimbulkan rasa anti kolonialisme dan nasionalisme dikalangan pribumi.
Kegiatan yang dilakukan oleh salah satu tokoh Islam tradisionalis adalah memberikan pendidikan kepada kaum pribumi, dengan mendirikan pesantren salah satunya oleh Hasyim Asyariyang ia dirikan bernama pesantren Tebu Ireng.
Pendirian pesantren mengalami rintangan dari pihak Belanda. Rintangannya berupa tekanan-tekanan dari pihak Belanda, karena adanya pendidikan di desa-desa, pemerintah kolonial Belanda takut, dengan pendidikan yang diberikan, kaum pribumi sudah tidak terbelakang,yang akan mengakibatkan kaum pribumi tidak akan patuh dan cenderung mengabaikan pemerintah kolonialmaupun pemerintah lokal yang ditunjuk oleh Belanda. , Menurut Hasyim Asyarie, pembodohan yang dilakukan oleh pemerintah Belanda ini harus dihentikan oleh bangsa pribumi. KH. Hasyim Asyhari pernah mengatakan: “Bangsa tidak akan jaya apabila warganya bodoh. Hanya dengan ilmu suatu bangsa menjadi baik.” Karenanya ia lebih berkonsentrasi di jalur yang telah dijalani ayahanda dan kakek-kaket buyutnya dalam menjalankan sebuah pesantren. Kaum pribumi cenderung lebih patuh kepada Kyai yang dianggap sebagai pemimpinnya.
Usaha yang pihak kolonial untuk menjegal berkembangnya pendidikan di kalangan kaum pribumi salah satunya dengan menjegal Hasyim Asyari, namun tidak berhasil. Kemudian pemerintah kolonial mengirimkan pasukan bersenjata untuk menduduki pesantren Tebu Ireng dan menghancurkan segala sesuatu yang ada didalamnya. Pemerintah kolonial Belanda juga bermaksud untuk menculik dan membunuh Hasyim Asyari namun hal itu tidak berhasil. Karena, adanya perlawanan yang dilakukan oleh santri-santri pesantren Tebu Ireng untuk melindungi Kyainya. Untuk membenarkan aksinya itu pemerintah kolonial berdalih para santri adalah pemberontak yang harus ditumpas, dan pesantren adalah tempat berkembangnya para pemberontak.
Peristiwa tersebut bukan meredupkan usaha yang dilakukan oleh Hasyim Asyari justru menjadi penyemangat untuk terus berjuang dan meneruskan cita-citanya, ia mengirimkan para santri untuk menjadi utusan pergi ke berbagai kota dan pulau di Hindia. Para utusan tersebut berhasil mengumpulkan dukungan baik berupa moral dan materil. Dengan hal ini orang Islam di Hindia merasa peristiwa tersebut bukan hanya perusakan pesantren tetapi juga menginjak-injak kaum muslim secara umum.
Setelah terbentuknya NU yang merupakan organisasi yang berlandaskan pada gerakan Islam tradisional. Organisasi ini berhasil mengembangkan kekuatannya dibeberapa wilayah Jawa, khususnya Jawa Timur dan Jawa Tengah. Setahun setelah berdirinya, Nahdatul Ulama (NU) merumuskan anggaran dasarnya. Organisasi ini bertujuan memperkuat kesetiaan kaum Muslimin pada salah satu dari empat mazhab yang ada serta melakukan kegiatan-kegiatan yang menguntungkan dalam ajaran Islam.
Kegiatan-kegiatan Nahdatul Ulama (NU) antara lain:
1.      Memperkuat persatuan antara sesama ulama yang masih setia pada empat mazhab;
2.      Memberi bimbingan tentang kitab-kitab yang diajarkan pada lembaga pendidikan Islam;
3.      Menyebarkan ajaran-ajaran Islam; 
4.      Menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang sesuai dengan tuntutan empat mazhab;
5.      Memperluas jumlah madrasah dan membantu organisasinya; 
6.      Membantu pembangunan masjid, langgar dan pondok pesantran; 
7.      Membantu anak-anak yatim piatu dan fakir miskin serta mendirikan badan-badan usaha untuk memajukan kehidupan ekonomi anggota
Setelah terbentuknya MIAI mereka sering mengadakan kongres dan rapat-rapat namun mereka mulai menyadari campur tangan Belanda dalam bidang agama.Kaum tradisionalis yang pada awalnya bersikap pasif mereka mulai mengadakan perubahan di kalangan mereka. Mereka sudah mulai sejalan dengan sikap kalangan Islam modern.
Didalam MIAI mereka tidak hanya sekedar berbicara urusan agama saja, tetapi mereka juga membicarakan masalah yang bersifat politik. Karena situasi politik Indonesia dan tuntutan-tuntutan yang semakin bertambah dari pergerekan kemerdekaan Indonesia.
Sikap pemerintah Belanda terhadap kalangan tradisi lebih lunak dibandingkan dengan sikap pemerintah kolonial terhadap golongan modern Islam. Karena memang kalangan tradisional itu lebih banyak memperhatikan masalah agama. Dan kepemimpinan kalangan tradisional lebih disukai pihak pihak pemerintah Belanda, karena dilihat bahwa golongan tradisional ini lebih bisa menerima status quo politik yang ada.

















BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Gerakan Islam di nusantara terbagi menjadi dua golongan, yaitu golongan tradisionalis dan golongan modern. Golongan Islam tradisionalis lebih memusatkan perhatian penyebaran pemikirannya di pedesaan, sedangkan golongan Islam modern lebih memilih didaerah perkotaan.

            Gerakan Islam tradisional lebih berfokus pada kegiatan pendidikan bagi kaum pribumi di desa-desa. Perannya dalam pergerakan nasional, kaum tradisionalis berusaha menyadarkan kaum pribumi tentang kondisi mereka yang sedang terjajah. Walaupun pergerakannya sering dianggap tidak terlihat, tetapi pemerintah Belanda merasa terancam dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh kaum tradisionalis khususnya dalam bidang pendidikan (pusantren).