Selamat Datang Di Tugas Kuliahku, jika butuh softcopy, Silahkan email ke jhonmiduk8@gmail.com. Mohon donasi pulsa ke 081210668660 Untuk Kemajuan Blog, Terimakasih. Revolusi Industri | Tugas Kuliahku

Revolusi Industri

A. PENGERTIAN REVOLUSI INDUSTRI
Pengertian revolusi industri mengacu pada dua hal. Pertama, adalah perubahan cepat dalam teknologi pembuatan barang-barang. Kedua, adalah perubahan dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat dunia. Pada pengertian pertama dapat dikatakan bahwa revolusi industry telah merubah proses dan cara kerja manusia dalam menghasilkan suatu barang. Sebelumnya pembuatan barang-barang dilakukan secara manual dengan hanya menggunakan tangan dan kaki manusia, sedangkan pasca revolusi industry pembuatan barang-barang menggunakan bantuan alat-alat mekanik dan otomatis. Pembuatan barang-barang yang pada awalnya hanya mengandalkan kecepatan tangan dan kaki mengalami perubahan pasca revolusi industri. Tenaga manusiahanya sedikit diperlukan karena proses pengerjaan lebih banyak dilakukan oleh alat-alat yang bekerja secara otomatis dan digerakkan oleh tenaga mesin. Hasilnya pun akan sangat berbeda. Secara manual hanya dihasilkan barang dalam jumlah sedikit dan lama, sedangkan dengan bantuan mesin, barangbarang yang dihasilkan pun akan lebih banyak dan prosesnya cepat. Pengertian kedua yaitu perubahan dalam bidang sosial dan ekonomi berkaitan dengan terjadinya perubahan yang besar dan cepat dari pola ekonomi agraris menjadi pola ekonomi industri. Pada masa sebelum berkembangnya revolusi industri, mata pencaharian yang umumnya berkembang di masyarakat adalah pertanian. Tentu saja hal ini akan menghasilkan budaya masyarakat pertanian. Pasca revolusi industri, mata pencaharian masyarakat semakin beragam dan lebih banyak berada pada sektor industri. Kegiatan produksi yang dilakukan pada masa sebelum dikenalnya revolusi industri lebih bersifat industri rumahan. Di Eropa dikenal dengan istilah gilda yang merujuk pada suatu bengkel kerja atau tempat usaha pembuatan barang-barang. Umumnya barang-barang yang dibuat di gilda tersebut adalah alat-alat pertanian dan rumah tangga. Setiap gildahanya membuat satu jenis barang saja, sehingga dikenal berbagai macam gilda, misalnya gilda tas, gilda sepatu, gilda kursi, dan sebagainya. Gilda baru akan bekerja bila ada pemesanan dari masyarakat. Biasanya pemesannya adalah kelompok masyarakat kelas atas, sebab harga-hargabarang yang dijual gilda sangat mahal sehingga tidak terjangkau oleh masyarakat banyak.
Istilah revolusi industri diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh FriedrichEngels dan Louis-Auguste Blanqui pada pertengahan abad ke-19. Tidak jelas penanggalan secara pasti tentang kapan dimulainya revolusi industri. Tetapi T.S. Ashton mencatat permulaan revolusi industri terjadi kira-kira antara tahun 1760-1830. Revolusi ini kemudian terus berkembang dan mengalami puncaknya pada pertengahan abad ke-19 , sekitar tahun 1850, ketika kemajuan teknologi dan ekonomi mendapatkan momentum dengan perkembangan mesin tenaga-uap, rel, dan kemudian di akhir abad tersebut berkembang mesin kombusi dalam serta mesin pembangkit tenaga listrik.
B. INGGRIS SEBAGAI NEGARA PELOPOR REVOLUSI INDUSTRI
Revolusi industri tidak terjadi secara tibatiba dan kebetulan, melainkan melalui suatu proses yang cukup panjang yang akhirnya mengantarkan pada terjadinya revolusi industri. Awal terjadinya revolusi industri ini adalah di Inggris. Mengapa di Inggris? Untuk menjawab hal tersebut mari kita perhatikan dengan seksama uraian berikut ini. Inggris memiliki kondisi-kondisi yang memungkinkan untuk terjadinya revolusi Industri. Kondisi-kondisi tersebut di antaranya sebagai berikut.


1. Revolusi agraria yang telah dijalankan sejak abad ke-16
Revolusi agraria merupakan suatu pondasi yang sangat penting dibangun dalam menunjang berlangsungnya revolusi industri. Hal ini sudah dijalankan oleh Inggris sejak abad ke-16. Sebab pada saat itu telah dilakukan perubahan yang cepat dalam sistem penataan tanah pertanian. Dikembangkan system pemagaran tanah (enclosured), yaitu berupa penertiban kepemilikan tanahtanah pertanian di bawah penguasaan pemilik tanah yang berasal dari golongan aristokrasi (bangsawan). Hal ini kemudian diikuti dengan pengembangan metode baru dalam sistem pertanian yang mengarah pada intensifikasi. Teknologi dalam pertanian dikembangkan dengan cara memperbaiki sistem irigasi dan peningkatan mutu hasil pertanian melalui proses pemupukan. Dengan demikian, hasil produksi semakin meningkat, baik secara kualitas maupun kantitas.
Revolusi agraria ini pada akhirnya mendorong munculnya pengusaha pengusaha di bidang pertanian. Tanah-tanah yang dimiliki oleh golongan aristocrat umumnya diolah dengan cara disewakan. Para petani penyewa tanah ini memiliki sifat bekerja keras dan inovator di bidang teknologi pertanian, sehingga mampu mengembangkan pertanian lebih baik lagi melalui proses intensifikasi. Pada perkembangan berikutnya, golongan petani ini berubah statusnya menjadi pengusaha pertanian yang mampu membuka kesempatan kerja bagi golongan petani lainnya yang umumnya tidak lagi memiliki tanah garapan. Pengusaha pertanian inilah yang akhirnya menjadi pelopor sistem ekonomi pasar yang memiliki orientasi untuk mendapatkan keuntungan dengan cara meningkatkan produksi dengan menggunakan tenaga kerja buruh tani.
2. Perkembangan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi
Sejak abad ke-16, di Eropa telah terjadi revolusi keilmuan yang muncul sebagai pengaruh dari terjadinya abad pencerahan (aufklarung). Pada masa ini muncul para pemikir dan ilmuwan yang telah melahirkan pemikiran dan temuan-temuan baru yang sangat berguna bagi peningkatan kehidupan manusia.
Hasil pemikiran para ilmuwan tersebut telah membuka cakrawala baru untuk berpikir secara kritis dan ilmiah yang sebelumnya dibatasi oleh dogma-dogma yang sebelumnya bersifat mistis dan menyesatkan. Para ilmuwan tersebut di antaranyaGalileo Galilei, Francis Bacon, Rene Descartes, Nicolai Copernicus, Johannes Keppler, Sir Isaac Newton, dan sebagainya. Silahkan kamu cari hasil-hasil pemikiran para ilmuwan di atas. Pencerahan dalam bidang ilmu pengetahuan tersebut mendorong lahirnya para pemikir-pemikir baru yang berusaha mengembangkan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Di Inggris kondisi ini sangat memungkinkan dengan terbentuknya lembaga riset seperti The Royal for Improving NaturalKnowledge serta The Royal Society of England. Lembaga riset ini merupakan wadah bagi para ilmuwan dan peneliti untuk dapat menghasilkan penemuanpenemuan baru yang akan digunakan untuk meningkatkan taraf hidup manusia. Melalui lembaga riset tersebut, pada akhirnya di Inggris dapat dihasilkan alat-alat teknologi baru yang menunjang perindustrian. Mesin pintal yang ditemukan oleh James Hargreaves pada tahun 1795 serta model mesin pintal lain yang ditemukan oleh Richard Arkwrightpada tahun 1769 mampu meningkatkan produksi tekstil lebih banyak bila dibandingkan dengan penggunaan teknologi secara manual. Apalagi setelah teknologi mesin pintal tersebut semakin mendapat penyempurnaan oleh Edmund Cartwright(1785) dan Samuel Crompton (1790) menjadikan mesin pintal yang sepenuhnya digerakkan oleh tenaga mesin itu dapat menghasilkan produk tekstil lebih banyak lagi. Penemuan paling revolusioner pada saat itu adalah mesin uap yang dikembangkan olehJames Watt pada tahun 1796. Penemuan mesin uap ini pada akhirnya mendorong peningkatan hasil industri lebih banyak lagi dan mendorong pengembangan temuan-temuan lainnya untuk menunjang industri. Hasil penemuan Watt ini kemudian digunakan oleh sebagian besar industri baru di bidang tekstil, pengolahan gula serta pengolahan gandum. Mesin uap hasil penemuan James Watt Pengembangan mesin uap memiliki peran sangat besar bagi dimulainya revolusi industri di Britania Raya.
Revolusi industri di Inggris mengalami percepatan pada awal abad ke-19 setelah ditemukannya teknologi baru dalam bidang transportasi darat. Penemuan tersebut berupa lokomotif yang dihasilkan oleh seorang penemu yang bernamaGeorge Stephenson pada tahun 1825. Segera penemuan ini diwujudkan dengan membangun jaringan kereta api pertama yang menghubungkan antara Kota Liverpool dan Manchester pada tahun 1830. Penemuan ini sangat
berarti bagi peningkatan industri Inggris, terutama percepatan pendistribusian barang-barang hasil industri. Sebelum ditemukannya lokomotif, terdapat kesulitan dalam memasarkan hasil industri karena tidak tersedianya angkutan yang cukup memadai, sehingga proses pendistribusian menjadi lambat. Dengan ditemukannya lokomotif, kemudian dapat dibangun jaringan transportasi darat berupa jalur kereta api, sehingga lebih mempercepat proses pemasaran hasil industri. Adapun yang menarik adalah bahwa terdapat suatu kerja sama yang cukup baik antara para pengusaha dan para penemu (inovator), sehingga memperlancar dan mempercepat proses revolusi industri. Hasil-hasil penemuan dimanfaatkan oleh para pengusaha untuk membangun industri dengan menggunakan mesin-mesin hasil penemuan tersebut sebagai alat produksi yang sangat penting dalam sistem industri tersebut. Bahkan ada beberapa dari penemu tersebut yang kemudian berkembang menjadi pengusaha di mana setelah dia berhasil menciptakan suatu mesin maka kemudian dia mendirikan suatu industri dengan memanfaatkan mesin hasil temuannya tersebut. Golongan pengusaha inilah yang pada perkembangan berikutnya berkembang menjadi kaum kapitalis.
3. Struktur masyarakat terbuka yang berorientasi pada perdagangan
Struktur masyarakat Inggris pada saat itu menciptakan suatu kondisi yang mendukung bagi berlangsungnya revolusi industri. Golongan aristrokrasi memiliki pandangan yang lebih maju dan terbuka, sehingga memungkinkan mereka lebih berorientasi pada perdagangan. Sementara itu, komposisi masyarakat golongan menengah di Inggris lebih banyak bila dibandingkan dengan negara Eropa lainnya. Hal ini menciptakan suatu kondisi masyarakat yang lebih terbuka dan siap dalam menerima perubahan-perubahan.
4. Stabilitas politik yang mantap
Dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya, Inggris memiliki kestabilan politik yang lebih mantap. Di negara-negara Eropa lainnya pada waktu yang sama terjadi pergolakan politik dengan terjadinya revolusi yang menumbangkan kekuasaan pemerintah lama. Kondisi demikian, tidak terjadi di Inggris. Pemerintahan monarki mampu menyesuaikan diri dengan tuntutantuntutan perubahan masyarakat dengan cara membangun suatu pemerintahan monarki parlementer. Hal ini dapat membendung gejolak perubahan dalam masyarakat, sehingga Inggris mampu untuk menciptakan kondisi politik dalam negeri yang cukup stabil. Kondisi inilah yang akan sangat menunjang bagi berlangsungnya revolusi industri.
5. Kekayaan sumber alam yang dimiliki oleh Inggris
Inggris memiliki sumber daya alam yang sangat dibutuhkan oleh proses industri. Bahan tambang seperti batu bara serta bijih besi sangat diperlukan dalam proses industri pada saat itu. Bahan-bahan tambang tersebut dimilikioleh Inggris. Dengan demikian, dapat memudahkan berlangsungnya revolusi industri.
6. Berkembangnya paham ekonomi liberal
Berkembangnya paham liberal sejak abad pencerahan memberikan dampak bagi berkembangnya paham ekonomi liberal. Salah seorang pengembang paham ini adalah Adam Smith (1723-1790) yang mengembangkan pemikiran tentang perlunya dibangun konsep laissez-faire di dalam sistem perekonomian. Konsep ini menginginkan tidak adanya campur tangan yang besar dari pemerintah, ekonomi dengan sendirinya akan dibangun oleh pasar bebas. Paham ini mendorong bagi lahirnya para pengusaha-pengusaha yang menginginkan adanya kebebasan
di bidang ekonomi.
7. Luasnya tanah jajahan yang dimiliki Inggris
Kondisi pendukung bagi kelancaran industrialisasi adalah tersedianya bahan baku industri serta tersedianya daerah yang akan menampung atau menggunakan hasil-hasil industri tersebut. Faktor-faktor ini dimiliki oleh Inggris karena Inggris memiliki banyak tanah jajahan. Tanah jajahan tersebut dijadikan oleh Inggris sebagai daerah yang akan menyediakan bahan baku industri dan juga dijadikan daerah pemasaran hasil industri. Selain itu, Inggris juga memiliki koloni-koloni di benua Amerika dan Australia. Koloni-koloni tersebut masih berhubungan erat dengan Inggris, termasuk dalam hal perdagangan. Selama ini Inggris telah melakukan kegiatan ekspor-impor yang cukup besar dengan koloni-koloninya tersebut. Para koloni masih banyak yang menggantungkan pada barang-barang hasil industri Inggris. Kondisi ini menjadi pemicu dan pendukung bagi berlangsungnya revolusi industri. Untuk memenuhi permintaan para koloni maka Inggris perlu menghasilkan barang lebih cepat dan lebih banyak. Dengan demikian, revolusi industri dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Oleh karena itu, Inggris dapat menjalankan revolusi industri dengan dukungan tersedianya bahan baku industri serta daerah pemasaran yang diberikan oleh tanah jajahan serta koloni-koloni yang
dimiliki oleh Inggris.

B. PENGARUH REVOLUSI INDUSTRI TERHADAP INDONESIA
1.    Proses Industrialisasi Pada Masa Kolonial
Berkembangnya sistem liberal dan terbukanya Indonesia dari para penguasa swasta dan para pemilik modal, menyebabkan Indonesia dijadikan tempat berkembangnya berbagai bentuk usaha untuk memperoleh keuntungan dalam jumlah yang besar. Terlebih lagi tujuan dilaksanakannya politik liberal di Indonesia adalah untuk memajukan usaha swasta. Untuk mencapai tujuan itu ditempuh beberapa cara yaitu:
o   Menghapuskan sistem tanam paksa dan perbudakan.
o   Memperluas penanaman modal pengusaha swasta Belanda.
o   Mengeluarkan undang-undang Agraria tahun 1870.
Dengan keluarnya Undang-undang agraria tahun 1870 ditetapkan bahwa perusahaan perkebunan dapat melakukan penyewaan tanah dengan jangka waktu mencapai 75 tahun. Aturan lainnya adalah penduduk dilarang menjual tanahnya kepada orang asing. Undang-undang tersebut telah menarik pengusaha-pengusaha asing ke Indonesia. Sehingga perusaan-perusaan perkebunan semakin banyak mengembangkan usahanya di Indonesia seperti perkebunan tebu di Jawa Timur dan Jawa Tengah, perkebunan tembakau di daerah Surakarta, Yogyakarta, Jawa Timur, dan juga di daerah Deli Serdang (Sumatera Utara), perkebunan teh di Jawa Barat, perkebunan karet di Sumatera Utara, Jambi dan Palembang, perkebunan kina di Jawa Barat serta perkebunan kelapa sawit di daerah Sumatera Utara.
            Perkebunan-perkebunan besar itu memproduksi hasil-hasil perkebunan dalam jumlah yang sangat besar. Untuk mengolah hasil perkebunan itu, pada pusat-pusat perkebunan didatangkan mesin-mesin industrI dan didirikan pabrik-pabrik yang digunakan untuk mengolah hasil-hasil perkebunan menjadi barang yang siap dikonsumsi. Barang-barang yang siap dikonsumsi itulah yang kemudian dikirim ke Eropa untuk dipasarkan.
            Proses industrialisasi pada pusat-pusat perkebunan itu sangat besar manfaatnya dalam kegiatan perekonomiaan dari pemerintahan kolonial Belanda dI Indonesia maupun bagi bangsa Indonesia. Dalam kegiatan perindustrian itu, para pengusaha perkebunan memperoleh tenaga perkebunan atau tenaga industrI dari rakyat denagn sistem bayar upah. Sedangkan bagi bangsa Indonesia mulai diperkenalkan teknologi maju berupa mesin-mesin industri. Namun dalam pelaksanaan kegiatan industri ini, rakyat Indonesia tetap saja menjadi korban. Sistem upah yang diberlakukan para pengusaha kurang sesuai dengan prinsip keadilan. Para pengusaha dengan sesuka hatinya memberikan upah-upah kepada para pekerja. Upah yang diterima oleh masyarakat jauh dari jangkauan mencukupi. Para pekerja juga tidak dapat mengelak dari kenyataan itu karena para pekerja itu merupakan pekerja-pekerja yang telah dikontrak oleh suatu pengusaha perkebunan. Para pekerja tidak dapat lari dari pekerjaannya meski menerima upah yang rendah, karena para pekerja akan dikenakan sanksi (poenale sanctie).
            Walaupun kenyataan kehidupan masyarakat Indonesia semakin menderita akibat perkembangannya perkebunan-perkebunan besar di Indonesia, namun para pengusaha ataupun pemilik perkebunan itu telah berhasil memperkenalkan teknologi modern kepada rakyat Indonesia. Teknologi modern itu berupa perangkat-perangkat mesin industry untuk mengolah hasil-hasil perkebunan seperti pabrik gula, pabrik rokok, pabrik teh, pabrik kina, pabrik karet, pabrik minyak.
            Dengan potensi kekayaan alam Indonesia yang besar, para pengusaha swasta juga menanamkan modalnya pada industri-industri pertambangan minyak bumi di daerah Plaju dan Sungai Gerong (Sumatera Utara), Bunyu dan Tarakan (Kalimantan Timur). Industry pertambangan batubara di daerah Ombilin (Sumatera Barat), industry pertambangan timah di Pulau Bangka, Belitung, dan Singkep juga ikut berkembang.
            Selain pembangunan pusat-pusat perkebunan, pusat-pusat perindustrian maupun pusat-pusat pertambangan, dan juga dibangun sarana-sarana perhubungan dari pusat-pusat perkebunan, industri maupun industri pertambangan sampai Bandar-bandar maupun pelabuhan-pelabuhan untuk menunjang kelancaran aktivitas ekonomi. Oleh karena itu, baik di Pulau Jawa maupun di Pulau Sumatera dibangun sarana-sarana perhubungan seperti jalan raya, jalan kereta api, jembatan-jembatan, pelabuhan-pelabuhan baru, dan sarana perhubungan lainnya. Untuk pengangkutan hasil-hasil bumi dan industri di Indonesia ke Eropa dibangun armada pelayaran yang kuat dan tangguh, sehingga dapat menjaga dan menciptakan keamanan  dalam berbagai aktivitas kehidupan masyarakat padamasa itu.

2.    Transportasi dalam Aktivitas Perdagangan dan Integrasi Ekonomi
Dengan dibukanya perkebunan-perkebunan diwilayah Indonesia diikuti pula dengan pembangunan sarana trasportasi dari pusat-pusat perkebunan menuju ke Bandar-bandar perdagangan atau pelabuhan-pelabuhan. Pembangunan jalan-jalan itu juga memberikan keuntungan kepada bangsa Indonesia, sehingga bangsa Indonesia juga ada yang terjun dalam ekonomi perdagangan.
Selain pembanguna transportasi darat, pemerintah kolonial Belanda juga membangun transportasi laut, untuk menghubungkan satu pulau dengan pulau lainnya di wilayah Indonesia. Seperti transportasi laut yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda dari kepulauan Maluku ke wilayah Indonesia bagian barat. Pada masa itu pemerintah kolonial Belanda memiliki pusat perdagangan di Ambon dan Batavia. Ambon menjadi pusat perdagangan pemerintahan kolonial Belanda di daerah Indonesia bagian Timur, yaitu untuk memperoleh rempah-rempah. Rempah-rempah yang diperoleh di kepulauan Maluku di bawa ke Batavia dan selanjutnya dari Batavia dikirim ke negeri Belanda.
             Transportasi darat dan laut menjadi sarana perdagangan pemerintahan kolonial Belanda pada abad ke-19 yang sangat penting  untuk menunjang roda perekonomian Belanda. Sarana transportasi itu sangat berkembang dengan pesat yang memberikan sumbangan yang sangat besar bagi pemerintah kolonial Belanda. Dilain pihak, Bangsa Indonesia mempergunakan sarana transportasi darat maupun laut bukan sebagai pelaku dalam bidang perekonomian, tetapi sebagai tenaga kerja paksa yang mengangkut hasil hasil perkebunan milik pemerintah kolonial Belanda atau sebagai pengayuh yang menjalankan perahu-perahu milik pemerintah kolonial Belanda. Kemajuan transportasi itu tidak pernah dirasakan dengan baik oleh rakyat Indonesia.
            Walaupun demikian transportasi yang diusahakan oleh pemerintah kolonial Belanda baru dapat dinikmati manfaatnya oleh rakyat Indonesia setelah Indonesia merdeka. Jalan-jalan raya atau jalan-jalan kereta api yang di bangun Belanda sangat besar manfaatnya setelah Indonesia merdeka. Demikian pula pelabuhan-pelabuhan yang dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda karena pelabuhan-pelabuhan itu menjadi salah satu sarana tempat penyeberangan dari satu pulau ke pulau lainnya dalam segala aktivitas kehidupan masyarakat Indonesia.

3.    Pertumbuhan, Mobilitas, dan Persebaran Penduduk di Berbagai Daerah.
Perkembangan sarana transportasi darat dan laut membawa perubahan yang berarti dalam kehidupan rakyat Indonesia dan juga pemerintahan kolonial Belanda. Alat pengangkutan hasil-hasil bumi dan tenaga kerja semakin mudah. Kemajuan alat pengangkutan ini memicu pergerakan dan perpindahan orang dan juga hasil bumi dari satu tempat ketempat lain semakin terwujud. Dari sinilah kemudian timbul mobilitas sosial. Mulailah terjadi persebaran penduduk yang didorong oleh adanya kebutuhan permintaan akan tenaga kerja di suatu pulau. Penduduk tidak lagi hanya terkonsentrasi dipulau Jawa atau Sumatera saja tetapi sudah mulai menyebar keberbagai daerah.
A)   Mobilitas Sosial
Kata “mobitas” berarti bergerak dari temapt yang satu ke tempat yang lainnya, dan kata “sosial” menunjuk pada masyarakat. Jadi, secara sederhana mobilitas soSial dapat diartikan sebagai pergerakan masyarakat atau perpindahan masyarakat dari satu daerah ke daerah lainnya. Mobilitas sosial pernah dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Hal itu terjadi ketika dibukanya perkebunan-perkebunan besar di wilayah Indonesia.
            Perkembangan perkebunan-perkebunan besar yang dibuka diwilayah Indonesia memberikan keuntungan yang sangat besar kepada perusahaan-perusahaan swasta Belanda dan pemerintah kolonial Belanda. Kekayaan bumi Indonesia berupa hasil-hasil perkebunan dan industri pertambangan mengalir ke negeri Belanda sehingga negeri Belanda menjadi pusat perdagangan hasil produksi dari tanah jajahan. Tetapi di pihak lain, kesejahteraan hidup penduduk pribumi  mengalami kemunduran sementara itu pertumbuhan penduduk melampaui pertumbuhan jumlah bahan makanan. Bahkan krisis yang dialami pihak perkebunan tahun 1885 telah membawa akibat buruk pada penduduk, pemungutan uang sewa tanah, upah kerja di pabrik dan di perkebunan menurun dengan drastis. Hasil usaha-usaha kerajinan menurun akibat banyaknya barang-barang dari luar negeri yang di impor. Penghasilan pengangkutan gerobak menurun setelah adanya jalan kereta api.
            Sementara itu, perkebunan-perkebunan swasta semakin bertambah banyak baik di daerah-daerah Jawa maupun di luar daerah Jawa. Akibatnya timbul masalah ketenagakerjaan. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja pada perkebunan-perkebunan tersebut, pemerintah kolonial melakukan mobilitas sosial, yaitu dengan mendatangkan para pekerja dari daerah-daerah lainnya ke pusat-pusat perkebunan. Para pekerja itu dikontrak dalam jangka waktu tertentu dan mereka disebut dengna para kuli kontrak. Praktik-praktik sistem kerja kontrak itu telah membawa kehidupan yang lebih buruk bagi para pekerja, ditambah lagi dengan tindakan-tindakan pemerasan dan penekanan-penekanan yang dilakukan oleh para mandor dan pengusaha tersebut.
            Kebijakan pemerintah kolonial yang liberal telah banyak membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Perubahan itu sangat terasa, yaitu dengan meresapnya ekonomi uang dalam kehidupan sehari-hari dilingkungan masyarakat pedesaan. Di samping itu, kerja upahan yang diperkenalkan pada perkebunan-perkebunan dan perusahaan-perusahaan menyebabkan banyak orang mulai mengantungkan kehidupannya pada upah pekerjaan di perkebunan-perkebunan maupun perusahaan-perusahaan. Dampak yang dirasakan adalah masyarakat pedesaan mulai meninggalkan pekerjaannya sebagai petani dan kemudian mencari pekerjaan pada perusahaan-perusahaan (pabrik-pabrik) maupun perkebunan-perkebunan sebagai buruh. Dengan demikian, lahirlah golongan buruh di lingkungan penduduk Indonesia. Perkembangan itu membawa pertumbuhan dan munculnya kota-kota baru di sekitar perusahaan maupun perkebunan. Ini disebabkan karena adanya mobilitas social atau terjadinya perpindahan penduduk dalam usaha untuk mendapatkan pekerjaan maupun membuka usaha sendiri secara kecil-kecilan.

B)   Perubahan Demografi dan Mobilitas Sosial
Pelaksanann sistem tanam paksa pada masa pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia menyebabkan terjadinya perubahan demografi dan proses mobilitas social di seluruh wilayah Indonesia. Tanah-tanah yang semula merupakan tanah pertanian rakyat, selanjutnya menjadi tanah-tanah perkebunan milik pemerintah yang ditanami tanaman yang laku dipasar Eropa.  Juga tanah-tanah perkebunan pemerintahan kolonial Belanda digarap oleh masyarakat pribumi secara paksa. Peralihan kepemilikan tanah dari milik pribumi menjadi tanah pemerintah kolonial dan penguasa swasta asing berdampak luas kepada penduduk pribumi yang sesungguhnya merupakan pemilik sah tanah tersebut.

Pembukaan wilayah Indonesia menjadi tempat penanaman modal swasta asing menjadikan semakin banyak bermunculan perkebunan-perkebunan besar swasta. Keadaan ini mempengeruhi keadaan demografis dari wilayah Indonesia. Para pengusaha perkebunan tersebut mengusahakan untuk menanam tanaman yang dapat menguntungkannya. Bahkan perkebunan-perkebunan itu dijadikan sebagai tempat tujuan untuk bekerja menambah upah. Akibat perkembangan yang pesat pada perkebunan-perkebunan tersebut dan terjadi mobilitas sosial. Pada pusat-pusat perkebunan itu muncul kota-kota yang berfungsi sebagai tempat perkembangan perekonomian penduduk.