Konsep Dasar Pembelajaran Tematik
![]() |
Ilustrasi Pembelajaran Tematik. Sumber : minurulhidayah |
Meskipun masyarakat banyak yang mengasumsikan
bawah setiap ganti menteri mesti ganti kurikulum, sebagai seorang guru yang professional
sudah seharusnya cepat merespon perubahan kurikulum. Perubahan kurikulum yang
terjadi merupakan hal yang biasa dan merupakan suatu keniscayaan dalam rangka
mengikuti perkembangan masyarakat yang begitu cepat. (Kunandar, 2007;207).
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan mulai tahu ajaran 2013 yang baru akan menerapkan kurikulum baru
disemua jenjang pendidikan sekolah. Dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK
mulai tahun ajaran 2013-2014 menerapkan kurikulum yang baru, terutama dijenjang
sekolah SD/MI mendapatkan perubahan yang sangat banyak. Salah satu ciri
perubahan pada kurikulum tersebut adalah bersifat tematik integrative pada
level pendidikan dasar (SD).
Pembelajaran Tematik
1. Konsep Dasar
Pembelajaran
tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema tertentu untuk
mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapagt memberikan pengalaman
bermakna kepada siswa atau murid. Tema adalah pokok pemikiran atau gagasan
pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983).
Pembelajaran
tematik merupakan salah satu model pembelajaran terpadu (integrated instruction) yang merupakan suatu sistem pembelajaran
yang memungkinkan siswa, baik secara individu maupun kelompok untuk aktif
menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistyik,
bermakna, dan otentik.
Penetapan
pendekatan tematik dalam pembelajaran kelas rendah oleh Badan Standar Nasional
Pendidikan (BSNP) tidak lepas dari perkembangan akan konsep dari pendekatan
terpadu di Indonesia, pada saat ini model pembelajaran yang dipelajari dan
berkembang adalh model pembelajaran terpadu yang dikemukakan oleh Fogarty
(1990). Model pembelajaran terpadu yang dikemukakan oleh Fogarty ini berawal
dari konsep pendekatan interdisipliner yang dikembangkan oleh Jacob (1989).
Dalam
bukunya, interdisciplinary Curriculum :
Design and Implementation, Jacob (1989) menjelaskan bahwa tumbuh kembangnya
minat dan kebutuhan atas kurikulum terpadu (integrative
curriculum) dipicu oleh sejumlah hal berikut ini.
a. Perkembangan pengetahuan
Kurikulum sekolah selalu ketinggalan
dengan pertumbuhkembangan pengetahuan yang sangat pesat dalam berbagai bidang.
Kemajuan pengetahuan itu tidak serta merta dapat diadopsi dalam kurikulum.
Akibatnya, apa yang sedang dan telah dipelajari siswa kerap basi dan using
karena telah tertinggal jauh oleh perkembangan yang terjadi.
b. Fragmentasi jadwal pembelajaran
(fragmented schedule)
Merancang dan melaksanakan
pembelajaran disekolah dibentengi oleh satuan waktu yang disebut menit. Karena
waktunya sudah habis, kegiatan belajar yang sedang berlangsung terpaksa harus
diputus karena harus segera berpindah ke pelajaran yang baru. Para siswa
belajar dengan terpenggal-penggal dan perputus-putus tanpa mempedulikan ketuntasan
dan keutuhan.
c. Relevansi kurikulum
Kegiatan pembelajaran yang dialami
anak menjadi membosankan dan tidak berguna, ketika mereka tidak mengerti untuk
apa mempelajari Matematika, Sejarah, IPA, IPS dan sebagainya. Pembelajaran
hanya dilakukan demi pelajaran itu sendiri, atau sekedar menghadapi tes dan
ujian. Padahal, ketika bangun di pagi hari atau begitu menamatkan sekolah, anak
akan dihadapkan pada segudang kehidupan nyata yang memerlukan pemecahan secara
baik dan dari berbagai sudut pandang. Persoalan ini pulalah yang kerap memicu
perdebatan tentang apa tujuan pendidikan sekolah, apa yang harus dialami dan
dipelajari anak, dan bagaimana semestinya pendidikan itu dilaksanak. Kurikulum
menjadi relevan dan bermakna ketika pelajaran-pelajaran yang harus dikuasai
siswa terkait satu sama lain.
d. Respons masyarakat terhadap
fragmentasi pembelajaran
Ketika seolah calon dokter dididik
menjadi dokter, ia tidak hanya diajar tentang hal-hal yang bersifat fisik,
biologis, dan media, ia pun diajari tentang filosofi manusia, psikologi, etika,
dan komunikasi yang dapat membekalinya dengan penyikapan terhadap manusia
secara utuh. Spesialisasi memang penting, tetapi pendulum akan tetap bergerak
dan mengarah pada keseimbangan. Karena itu pula, interdisiplin akan membantu siswa
untuk dapat lebih baik dalam mengintegraasikan pengetahuan dan strategi
belajarnya guna menghadapi kompleksitas dunia.
Menurut Jacob (1989),
keempat hal itu merupakan pemicu merebaknya wacana dan penerapa pendekatan interdisipliner disekolah-sekolah.
Berdasarkan pengalamannya selama lima belas tahun berkutat dengan pendekatan
tersebut, Jacob menemukan berbagai corak atau model penerapan pendekatan interdisipliner. Perbedaan
ini disebabkan oleh pemahaman, kepercayaan diri, dan kreativitas dalam
menerapkan pendekatan interdisipliner.
Untuk itu pula, Jacob memandang perlu mendefenisikan berbagai istilah yang
digunakan dan dikaitkan dengan pendekatan
interdisipliner.
a.
Discipline
field : A Specific body of teacheable knowledge with its own background of
education, training, procedures, methods and content areas.
b.
Interdisciplinary
: A knowledge view and curriculum opproach that consciously applies methodology
and language from more than one discipline to examine a central theme, issues
problem, topic or experience.
Jadi,
pendekatan interdisipliner menekankan
pada keterkaitan (linkages) dan keterhubungan (relationship) antar-disiplin. Sifat keterhubungan antardisiplin
ittu pada kenyataannya melahirkan sejumlah variasi yang memiliki makna yang
tidak persis sama (Jacob, Ed.,1989 dan Pitts, dkk., 1991), diantaranya adalah
sebagai berikut.
1.
Paralel
disiplin : pembelajaran yang mengurutkan suatu
pelajaran dengan pelajaran lain berkenaan dengan suatu isu atau konsep yang
sama.
2.
Lintas
disiplin atau crossdisciplinasry : pembelajaran yang memandang satu bidang studi
dari perspektif bidang studi lain.
3.
Pluridisiplin
: pembelajaran
yang menghubungkan antar dua bidang studi yang berbeda dengan menggunakan
sebuah tema.
4.
Multidisiplin
: pembelajaran yang bertolak dari suatu tema dengan mengususng satu bidang
studi inti, dan menyertakan pula bidang studi lain. tak ada upaya untuk
menghubungkan antarbidang studi.
5.
Interdisiplin
: pembelajaran yang secara sadar menghubungka tujuan, isi, dan kegiatan belajar
dari berbagai bidang studi yang berbeda untuk menggali sebuah tema.
6.
Keterpaduan
hari atau integrated-day : program pembelajaran sehari (full-day program) yang didasarkan atas
tema utama dan masalah yang muncul dari dunia anak. Penekanannya pada suatu
pendekatan organic terhadap kehidupan kelas yang berfokus pada kurikulum yang
digali dari pertanyaan dan minat anak.
7.
Program
lengkap dan complete program :
pembelajaran
yang bertolak dari kurikulum yang bersumber dari kehidupan sehari-hari siswa.
Ini adalah bentuk terekstrem dari interdisiplin dan program integrative yang
total karena kehidupan siswa sama dengan sekolah.
Dari
berbagai istilah tersebut, Jacob lebih menyukai istilah interdisiplin sebagai
payung karena memandang pengetahuan dan pendekatan kurikulum yang menerapkan secara
sadar metodologi dan bahasa lebih dari satu disiplin untuk menguji relevansi
dan kebermaknaan tema sentral, isu, masalah, topic, atau pengalaman.
Pembelajaran
terpadu berawal dari pengembangan skema pengetahuan yang ada di dalam diri
siswa. Hal tersebut merupakan salah satu pengembangan filsafat konstruktivisme.
Salah satu pandangan tentang proses konstruktivisme dalam pembelajaran adalah
bahwa dalam proses belajar (perolehan pengetahuan) diawali dengan terjadinya
konflik kognitif ini hanya dapat diatasi melalui pengetahuan diri (self-regulation). Pada akhir proses
belajar, pengetahuan akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalamannya dari
hasil interaksi dengan lingkungannya (Bell, 1993 : 24)
Pada
dasarnya, pembelajaran terpadu dikembangkan untuk menciptakan pembelajaran yang
didalamnya siswa sendiri aktif secara mental membangun pengetahuannya yang
dilandasi oleh struktur kognitif yang telah dimilikinya. Pendidik lebih
berperan sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran. Penekanan tentang belajar
dan mengajar lebih berfokus pada suksesnya siswa mengorganisasi pengalaman
mereka, bukan ketepatan siswa dalam melakukan replikasi atas apa yang dilakukan
pendidik.
Pendukung
gaya belajar dengan pendekatan terintegrasi berakar dari tradisi pendidikan
progresif, inspirasi dari tokoh filsafat yaitu Friedrich Froebel, Yohanes
Dewey, Piaget Jean, dan Rudolf Steiner (Compton, 2000). Menurut aliran
progresif, anak merupakan suatu kesatuan yang utuh, perkembangan emosi dan
sosial sama pentingnya dengan perkembangan intelektual. Dewey mengungkapkan
bahwa education is growth, development,
and life. Hal ini berarti bahwa proses pendidikan itu tidak mempunyai
tujuan di luar dirinya, tetapi terdapat dalam pendidikan itu sendiri. Proses
pendidikan juga bersifat kontinu dan merupakan reorganisasi, rekonstruksi, dan
pengubahan pengalaman hidup dan juga perubahan pengalamn hidup. (Sukmadinata,
2002).
Pembelajaran
terpadu sebagai suatu konsep dapat dikatakan sebagai pendekata belajar-mengajar
yang melibatkan beberapa bidnag studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna
kepada anak. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran terpadu, anak akan
memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu melalui pengalaman langsung dan
menghubungkannya dengan konsep lain yang sudha mereka pahami. Kegiatan
pembelajaran terpadu memadukan materi beberapa mata pelajaran dalam satu tema.
Dengan demikian, paling tidak pelaksanaan belajar mengajar dengan cara ini
dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, materi beberapa mata pelajaran
disajikan dalam tiap pertemuan sedangkan cara yang kedua, tiap kali pertemuan
hanya menyajikan satu jenis mata pelajaran. Pada cara kedua ini, keterpaduannya
diikat dengan tema satu persatu.
Pengembangan
pembelajaran terpadu disekolah dasar didasari beberapa hal, yaitu :
·
Sesuai dengan penghayatan dunia kehidupan
anak yang bersifat holistic.
·
Sesuai dengan potensi pengaitan mata
pelajaran disekolah dasar sehingga mampu membuahkan penguasaan isi pembelajaran
secara utuh.
·
Idealisasi pelaksanaan kurikulum yang
selayaknya dikembangkan secara integrative (Depdikbud, 1995 : 3).
2. Pengertian
Konsep
pembelajaran tematik merupakan pengembangan dari pemikiran dua orang tokoh
pendidikan yakni Jacob tahun 1989
dengan konsep pembelajaran interdisipliner
dan Fogarty pada tahun 1991
dengan konsep pembelajaran terpadu. Pembelajaran
tematik merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja
mengaitkan beberapa aspek baik dalam intramata pelajaran maupun antar mata
pelajaran. Dengan adanya pemaduan itu peserta didik akan memperoleh pengetahuan
dan keterampilan secara utauh sehingga pembelajaran jadi bermakna bagi peserta
didik.
Bermakna
artinya bahwa pada pembelajaran tematik peserta didik akan dapat memahami
konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalamn langsung dan nyata yang
menghubungkan antar kosep dalam intra maupuun antar mata pelajaran. Jika
dibandingkan dengan pendekatan konvensional, pembelajaran tematik tampak lebih
menekankan pada keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran sehingga
peserta didik aktif terlibat dalam proses pembelajaran untuk pembuatan
keputusan.
BNSP (2006:35)
menyatakan bahwa pengalam belajar peserta didik menempati posisi penting dalam
usaha meningkatkan kualitas lulusan. Untuk itu, pendidik dituntut harus mampu
merancang dan melaksanakan pengalaman belajar yang tepat. Setiap peserta didik
memerlukan bekal pengetahuan dan kecakapan agar dapat hidup di masyarakat, dan
bekal ini diharapkan diperoleh melalui pengalaman belajar disekolah. Oleh sebab
itu, pengalaman belajar disekolah sedapat mungkin memberkan bekal bagi peserta
didik dalam mencapai kecakapan untuk berkarya. Kecakapan ini disebut dengan
kecakapan hidup yang cakupannya lebih luas dibandingkan hanya sekedar
keterampilan.
Kurikulum
2013 SD/MI menggunakan pendekatan pembelajaran tematik integrative dari kelas I
sampai kelas VI. Pembelajaran tematik integrative merupakan pendekatan
pembelajaran yang mengintegrasikann berbagai kompetensi dari berbagai mata
pelajaran kedalam berbagai tema.
Kata
tema berasal dari kata Yunani tithenai yang
berarti menemptakan atau meletakkan dan kemudia kata ittu mengalami
perkembangan sehingga tithenai berubah
menjadi tema. Menurut arti katanya, tema berarti “sesuatu yang telah diuraikan”
dan “sesuatu yang telah ditempatkan” (Gorys Keraf, 2001 : 107).
Pengertian
secara luas, tema merupakan alat atau wadah untuk mengenalkan berbagai konsep
kepada anak didik secara utuh. Dalam pembelajaran, tema diberikan dengan maksud
menyatukan isi kurikulum dalam satu kesatuan yang utuh, memperkarya
perbendaharaan bahasa anak didik dan membuat pembelajaran lebih bermakna, penggunaan
tema dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan
jelas. Pembelajaran tematik merupakan suatu strategi pembelajaran yang
melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna
kepada siswa. Keterpaduan pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses dan
waktu, aspek kurikulum, dan aspek belajar-mengajar. Jadi, pembelajaran tematik
adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema sebagai pemersatu materi
dalam beberapa mata pelajaran sekaligus dalam satu kali pertemuan.
Pengertian
pembelajaran tematik dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Pembelajaran
yang berangkat dari suatu tema tertentu sebagai pusat yang digunakan untuk
memahami gejala-gejala, konsep-konsep, baik yang berasal dari bidang studi yang
bersangkutan maupun dari bidang studi lainnya.
2. Suatu
pendekatan pembelajaran yang menghubungkan berbagai bidang studi yang
mencermintak dunia riil disekeliling dan dalam rentang kemamuan dan
perkembangan anak.
3. Suatu
cara untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak secara simultan.
4. Menggabungkan
suatu konsep dalam beberapa bidang studi yang berbeda dengan harapan anak akan
belajar lebih baik dan bermakna.
Berdasarkan
uraian diatas, dapat dipahami bahwa pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang
dirancang berdasarkan tema-tema tertentu. Dalam pembahasannya tema itu ditinjau
dari berbagai mata pelajaran. Sebagai contoh, tema “Air” dapat ditinjau dari
mata belajaran Fisika, Kimia, Biologi, dan Matematika. Lebih luas lagi, tema
itu dapat ditinjau dari bidang studi lain seperti IPS, Bahasa, Agama, dan Seni.
Pembelajaran tematik menyediaka keluasan dan kedalaman implementasi kurikulum,
menawarkan kesempatan yang sangat banyak pada peserta didik untuk memunculkan
dinamika dalam proses pembelajaran. Unit yang tematik adalah epitome dari seluruh bahasa pembelajaran
yang memfaasilitasi peserta didik untuk secara produktif menjawab pertanyaan
yang dimunculkan sendiri dan memuaskan rasa ingin tahu dengan penghayatan
secara alamiah tentang dunia disekitar mereka.
3. Landasan Pembelajaran Tematik
Landasan
Pembelajaran Tematik mencakup :
a. Landasan
Filosofis
Dalam pembelajaran tematik sangat
dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu : progresivisme, konstruktivisme,
dan humanism. Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu
ditekankan pada pembentukan kreativitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana
yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa. Aliran konstruktivisme
melihat pengalaman langsung siswa (direct
experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini,
pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia manusia
mengonstruksi pengetahuannya melalui interaksi denagn objek, fenomena,
pengalaman, dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja
dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh
masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu
proses yang berkembang secara terus menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan
oleh rasa ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya.
Aliran humanism melihat siswa dari sehi keunikan/kekhasannya, potensinya dan
motivasi yang dimilikinya.
b. Landasan
Psikologis
Pembelajaran tematik terutama
berkaitan dengan psikologi pekembangan peserta didik dan psikologi belajar.
Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi materi
pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluluasaan dan
kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Psikologi belajar
memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran tematik
tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus
mempelajarinya.
c. Landasan
Yuridis
Dalam pembelajaran tematik berkaitan
dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan
pembelajaran atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di
sekolah dasar. Landasan yuridis tersebut adalah UU No. 23 Tahun 2002 tentang
perlindungan anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh
pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat
kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatya (pasal 9). UU No. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada
setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan
pendidikan sesuai bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V pasal 1-b).
4. Prinsip Pembelajaran Tematik
Integratif
Beberapa
prinsip yang berkenaan dengan pembelajaran tematik integratif adalah sebagai
berikut :
a. Pembelajaran
tematik integrative memiliki satu tema yang aktual, dekat dengan dunia siswa
dan ada dalam kehidupan sehari-hari. Tema ini menjadi alat pemersatu materi
yang beragam dari beberapa mata pelajaran.
b. Pembelajaran
tematik integratif perlu memilih materi beberapa mata pelajaran yang mungkin
saling terkait. Dengan demikian, materi-materi yang dipilih dapat mengungkapkan
tema secara bermakna. Mungkin terjadi, ada materi pengayaan horizontal dalam
bentuk contoh aplikasi yang tidak termuat dalam standar isi. Namun ingat,
penyajian materi mengayaan seperti ini perlu dibatasi dengan mengacu kepada
tujuan pembelajaran.
c. Pembelajaran
tematik integrative tidak boleh bertentangan dengan tujuan kurikulum yang
berlaku tetapi sebaliknya pembelajaran tematik integrative harus mendukung
pencapaian tujuan utuh kegiatan pembelajaran yang termuat dalam kurikulum.
d. Materi
pembelajaran yang dapat diadukan dalam satu tema selalu mempertimbangkan
karakteristik siswa seperti minat, kemampuan, kebutuhan, dan pengetahuan awal.
e. Materi
pelajaran yang dipadukan tidak terlalu dipaksakan. Artinya, materi yang tidak
mungkin dipadukan tidak usah dipadukan.
5. Karakteristik Pembelajaran Tematik
Sebagai
suatu model pembelajaran disekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki
karakteristik sebagai berikut :
a. Berpusat
pada siswa
Pembelajaran tematik berpusat pada
siswa (student centered). Hal ini
sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa
sebagai subjek belajar, sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai
fasilitator yang memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan
aktivitas belajar.
b. Memberikan
pengalaman langsung
Pembelajaran tematik dapat
memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa
dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkret) sebagai dasar untuk memahami
hal-hal yang lebih abstrak.
c. Pemisahan
mata pelajaran tidak begitu jelas
Dalam pembelajaran tematik,
pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran
diarahkan kepada pembatasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan
kehidupan siswa.
d. Menyajikan
konsep dari berbagai mata pelajaran
Pembelajaran tematik menyajikan
konsep-konsep dari berbagai mata pekajaran dalam suatu proses pembelajaran.
Dengan demikian, ssiwa mampu memahami konsep-konsep secara utuh. Hal itu
diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi
dalam kehidupan sehari-hari.
e. Bersifat
fleksibel
Pembelajaran tematik bersifat luwes
(fleksibel) dimana guru dapat
mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya,
bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana
sekolah dan siswa berada.
f. Menggunakan
prinsip belajar sambil bermain menyenangkan.
Adapun
karakteristik dari pembelajaran tematik ini menurut TIM pengembangan PGSD, 1997
(Hesty, 2008) adalah :
a. Holistik. Holistik
merupakan suatu geala atau peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam
pembelajaran tematik diamati dan dikaji dari beberapa bidang studi sekaligus,
tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak.
b. Bermakna. Merupakan
pengkajiann suatu fenomena dari berbagai macamm aspek, memungkinkan
terbentuknya semacam jalinan antar skemata yang dimiliki oleh siswa, yang pada
gilirannya nanti
c.
Otentik
d.
Aktif
6. Kekuatan dan Keterbatasan
Pembelajaran Tematik
Pembelajaran
terpadu memiliki kelebihan dibandingkan pendekatan konvensional, yaitu sebagai
berikut :
1. Pengalaman
dan kegiatan belajar peserta didik akan selalu relevan dengan tingkat
perkembangan anak.
2. Kegiatan
yang dipilih dapat disesuaikan dengan minat dan kebutuhan peserta didik.
3. Seluruh
kegiatan belajar lebih bermakna bagi peserta didik sehingga hasil belajar akan
dapat bertahan lebih lama.
4. Pembelajaran
terpadu menumbuhkembangkan keterampilan berpikir dan sosial peserta didik.
5. Pembelajaran
terpadu menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatif. Dengan permasalahan yang
sering ditemui dalam kehidupan/lingkungan riil peserta didik.
6. Jika
pembelajaran terpadu dirancang bersama dapat meningkatkan kerjasama antar guru
bidang kajian terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta
didik, peserta didik/guru dengan narasumber sehingga belajar lebih
menyenangkan, belajar dalam situasi nyata, dan dalam konteks yang lebih
bermakna.
Selain
itu, pembelajaran tematik memiliki kelebihan dan arti penting, yakni sebagai
berikut :
1. Menyenangkan
karena berangkat dari minat dan kebutuhan anak didik.
2. Memberi
pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan tingkat
perkembangan dan kebutuhan anak didik.
3. Hasil
belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna
4. Mengembangkan
keterampilan berpikir anak didik sesuai dengan persoalan yang dihadapi
5. Menumbuhkan
keterampilan sosial melalui kerjasama
6. Memiliki
sikap toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
7. Menyajikan
kegiatan yang bersifat nyata sesuai dengan persoalan yang dihadapi dalam
lingkungan anak didik.
Disamping
kelebihan, pembelajaran terpadu memiliki keterbatasan terutama dalam
pelaksanaannya, yaitu pada perancangan dan pelaksanaan evaluasi yang lebih
banyak menuntut guru untuk melakukan evaluasi proses, dan tidak hanya evaluasi
dampak pembelajaran langsung saja. Puskur, Balitbang, DIknas (tt:9)
mengindentifikasi beberapa aspek keterbatasan pembelajaran terpadu, yaitu
sebagai berikut :
1. Aspek Guru
Guru harus berwawasan luas, memiliki
kreativitas tinggi, keterampilan metodologis yang handal, rasa percaya diri
yang tinggi, dan berani mengemas dan mengembangkan materi. Secara akademik,
guru dituntut untuk terus menggali informasi ilmu pengetahuan yang berkaitan
dengan materi yang akan diajarkan dan banyak membaca buku agar penguasaan bahan
ajar tidak terfokus pada bidang kajian tertentu saja. Tanpa kondisi ini,
pembelajaran terpadu akan sulit terwujud.
2. Aspek Peserta Didik
Pembelajaran terpadu menuntut
kemampuan belajar peserta didik yang relatif “baik” dalam kemampuan akademik
maupun kreativitasnya. Hal ini terjadi karena model pembelajaran terpadu
menekankan pada kemampuan analitis (mengurai), kemampuan asosiatif (
menghubungkan), kemampuan eksploratif dan elaborative (menemukan dan menggali).
Jika kondisi ini tidak dimiliki, penerapan model pembelajaran terpadu saat ini
sangat sulit dilaksanakan.
3. Aspek sarana dan sumber pembelajaran
Pembelajaran terpadu memerlukan
bahan bacaan atau sumber informasi yang cuku banyak dan bervariasi, mungkin
juga fasilitas internet. Semua ini akan menunjang, mempekaya, dan mempermudah
pengembangan wawasan. Jika sarana ini tidak dipenuhi, penerapa pembelajaran
terpadu juga akan terhambat.
4. Aspek kurikulum
Kurikulum harus luwes, berorientasi
pada pencapaian ketuntasan pemahaman peserta didik (bukan pada pencapaian
target penyampaian materi). Guru perlu diberi kewenangan dalam mengembangkan
materi, metode, penilaian keberhasilan pembelajaran peserta didik.
5. Aspek penilaian
Pembelajaran terpadu membutuhkan
cara penilaian yang menyeluruh (komprehensif), yaitu menetapkan keberhasilan
belajar peserta didik dari beberapa bidang kajian terkait yang dipadukan. Dalam
kaitan ini, guru selain dituntut untuk menyediakan teknik dan prosedur
pelaksanaan penilaian dan pengukuran yang komprehensif, juga dituntut untuk
berkoordinasi dengan guru yang lain jika materi pelajaran berasal dari guru
yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Bundu, Patta. (2006). Pengembangan Keterampilan Proses Sains dan
Sikap Ilmiah. Bandung : Alfabeta.
Depdiknas, tt, Panduan Pengembangan Pembelajaran IPA
Terpadu, Jakarta : Puskur, Balitbang Diknas.
Depdiknas. (2006). Model Pembelajaran Tematik. Jakarta :
Puskur.
Drake, S. (1993). Planning Integrated Curriculum : The Call To
Adventure. Alexandria, VA : Association for Supervision and Curriculum
Development.
Majid Abdul (2014). Pembelajaran Tematik Terpadu, Bandung :
PT. Remaja Rosdakarya.
If you're trying to lose kilograms then you need to jump on this brand new tailor-made keto meal plan.
BalasHapusTo create this keto diet, certified nutritionists, fitness trainers, and top chefs joined together to develop keto meal plans that are useful, suitable, price-efficient, and enjoyable.
From their first launch in January 2019, 1000's of clients have already transformed their figure and well-being with the benefits a proper keto meal plan can give.
Speaking of benefits: in this link, you'll discover eight scientifically-tested ones provided by the keto meal plan.
Also check the elizabeth court house
BalasHapus