Selamat Datang Di Tugas Kuliahku, jika butuh softcopy, Silahkan email ke jhonmiduk8@gmail.com. Mohon donasi pulsa ke 081210668660 Untuk Kemajuan Blog, Terimakasih. Makalah Quantum Learning | Tugas Kuliahku

Makalah Quantum Learning

BAB I
PENDAHULUAN

1.1            Latar Belakang
Usaha peningkatan mutu negara di bidang pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas melalui pendidikan, merupakan upaya sungguh-sungguh dan terus-menerus dilakukan untuk mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya. Sumber daya yang berkualitas akan menentukan mutu kehidupan pribadi, masyarakat, dan bangsa dalam rangka mengantisipasi, mengatasi persoalan-persoalan, dan tantangan-tantangan yang terjadi dalam masyarakat pada kini dan masa depan.  

Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan Nasional, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualitas guru, penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang memadai.
Upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia tidak pernah berhenti. Berbagai terobosan baru terus dilakukan oleh pemerintah melalui Depdiknas. Upaya itu antara lain dalam pengelolaan sekolah, peningkatan sumber daya tenaga pendidikan, pengembangan/penulisan materi ajar, serta pengembangan paradigma baru dengan metodologi pengajaran.
Mengajar bukan semata persoalan menceritakan. Belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari perenungan informasi ke dalam benak siswa. Belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang langgeng. Yang bisa membuahkan hasil belajar yang langgeng hanyalah kegiatan belajar aktif.
Apa yang menjadikan belajar aktif? Agar belajar menjadi aktif siswa harus mengerjakan banyak sekali tugas. Mereka harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar akif harus gesit, menyenangkan, bersemangat dan penuh gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduk mereka, bergerak leluasa dan berfikir keras (moving about dan thinking aloud).
Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengar, melihat, mengajukan pertanyaan tentangnya, dan membahasnya dengan orang lain. Bukan Cuma itu, siswa perlu mengerjakannya, yakni menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, menunjukkan contohnya, mencoba mempraktekkan keterampilan, dan mengerjakan tugas yang menuntut pengetahuan yang telah atau harus mereka dapatkan.
Pengembangan metode pembelajaran bagi siswa terus dilakukan. Selain bertujuan agar siswa dapat lebih cepat menangkap dan mengingat mata pelajaran yang diberikan oleh guru, metode pembelajaran juga terus dikembangakan agar siswa lebih tertarik dengan mata pelajaran tersebut.
Pembelajaran merupakan proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru beserta siswa. Proses pembelajaran merupakan suatu aspek yag sangat penting karena merupakan sarana utama dimana para siswa mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang dibutuhkan. Proses pembelajaran tidak hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sekolah namun dapat pula dilakukan dalam lingkungan dan kondisi yang bermacam-macam. Proses pembelajaran dapat dilakukan dalam lingkungan dan kondisi yang bermacam-macam disebabkan karena banyaknya metode pembelajaran yang ada.
Dapat dilihat bahwa metode pembelajaran yang paling banyak digunakan yaitu metode ceramah dalam kelas. Metode ceramah paling sering digunakan karena metode ini tidak memerlukan banyak biaya dalam penyediaan fasilitas, selain itu metode ini juga sangat sederhana dalam pelaksanaannya. Padahal dengan berkembangnya ilmu dan pengetahuan manusia, berbagai metode pembelajaran telah terus dikembangkan untuk mendukung tercapainya tujuan belajar dari para murid. Salah satunya yaitu metode pembelajaran Kuantum, Kompetensi, dan juga metode pembelajaran Kontekstual. Ketiga metode tersebut dapat digunakan dan menghasilkan output yang menjadi tujuan dalam proses pembelajaran.

1.2            Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan pembelajaran kauntum?
2.      Bagaimana karakteristik pembelajaran kuantum?
3.      Apa tujuan dilaksanakannya pembelajaran kuantum?
4.      Apa saja keunggulan dan kelemahan pembelajaran kuantum?
5.      Apa yang dimaksud dengan pembelajaran kompetensi?
6.      Bagaimana karakteristik pembelajaran kompetensi?
7.      Apa yang dimaksud dengan pembelajaran kontekstual?
8.      Apa tujuan dilaksanakannya pembelajaran kontekstual?
9.      Apa saja komponen-komponen pembelajaran kontekstual?
10.  Apa keunggulan dan kelemahan dari pembelajaran kontekstual?

1.3            Tujuan Penulisan
a.       Mengetahui pengertian dari pembelajaran kuantum
b.      Memahami asas pembelajaran kuantum
c.       Mengetahui karakteristik pembelajaran kuantum
d.      Mengetahui tujuan pembelajaran kuantum
e.       Memahami apa saja keunggulan dan kelemahan pembelajaran kuantum
f.       Mengetahui prinsip, manfaat dan langkah-langkah pembelajaran kuantum
g.      Mengerti apa itu pembelajaran kompetensi
h.      Memahami komponen utama dan prisip-prinsip dalam pembelajaran kompetensi
i.        Memahami karakteristik dan pengelolaan dari pembelajaran kompetensi
j.        Mengetahui pengertian dari pembelajaran kontekstual
k.      Mengetahui landasan filosofi pembelajaran kontekstual
l.        Memahami tujuan dan strategi yang digunakan dalam pembelajaran kontekstual
m.    Mengetahui komponen dan langkah-langkah dalam melaksanakan pembelajaran kontekstual
n.      Mengetahui keunggulan dan kelemahan pembelajaran kontekstual
o.      Mampu memberikan contoh pelaksanaan pembelajaran kontekstual



BAB II
KAJIAN MATERI

2.1 Pembelajaran Kuantum
2.1.1 Pengertian Pembelajaran Kuantum
Pembelajaran kuantum merupakan terjemahan dari bahasa asing yaitu quantum learning. “Quantum Learning  adalah kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat” (Bobbi DePorter & Mike Hernacki, 2011:16 ).
Dengan demikian, pembelajaran kuantum dapat dikatakan sebagai model pembelajaran yang menekankan untuk memberikan manfaat yang bermakna dan juga menekankan pada tingkat kesenangan dari peserta didik atau siswa.

2.1.2 Asas Pembelajaran Kuantum
Asas utama pembelajaran kuantum adalah membawa dunia siswa ke dalam dunia guru, dan mengantarkan dunia guru ke dunia siswa. Subjek belajar adalah siswa. Guru hanya sebagai fasilitator, sehingga guru harus memahami potensi siswa terlebih dahulu. Salah satu cara yang dapat digunakan dalam hal ini adalah mengaitkan apa yang akan diajarkan dengan peristiwa- peristiwa, pikiran atau perasaan, tindakan yang diperoleh siswa dalam kehidupan baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan masyarakat. Apabila seorang guru telah memahami dunia siswa, maka siswa telah merasa diperlakukan sebagaimana mestinya.



2.1.3 Karakteristik Pembelajaran Kuantum
Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:30) mengungkapkan mengenai karakterisitik dari pembelajaran kuantum (quantum learning) yaitu sebagai berikut:
1.      Pembelajaran kuantum berpangkal pada psikologi kognitif. Oleh karena itu, pandangan tentang pembelajaran, belajar, dan pembelajar diturunkan, ditransformasikan, dan dikembangkan dari berbagai teori psikologi kognitif. Dapat dikatakan di sini bahwa pembelajaran kuantum berkaitan erat dengan analogi beberapa konsep kuantum. Hal ini membuatnya lebih bersifat kognitif daripada fisis.
2.      Pembelajaran kuantum lebih bersifat humanistis, bukan positivistis-empiris, “hewan-istis”, dan atau nativistis. Manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatiannya. Potensi diri, kemampuan pikiran, daya motivasi, dan sebagainya dari pembelajar diyakini dapat berkembang secara maksimal atau optimal. Hadiah dan hukuman dipandang tidak ada karena semua usaha yang dilakukan manusia patut dihargai. Kesalahan dipandang sebagai gejala manusiawi. Ini semua menunjukkan bahwa keseluruhan yang ada pada manusia dilihat dalam perspektif humanistis.
3.      Pembelajaran kuantum lebih bersifat konstruktivis(tis), bukan positivistis-empiris, behavioristis, dan atau maturasionistis. Karena itu, menurut hemat penulis, nuansa konstruktivisme dalam pembelajaran kuantum relatif kuat. Malah dapat dikatakan di sini bahwa pembelajaran kuantum merupakan salah satu cerminan filsafat konstruktivisme kognitif, bukan konstruktivisme sosial. Meskipun demikian, berbeda dengan konstruktivisme kognitif lainnya yang kurang begitu mengedepankan atau mengutamakan lingkungan, pembelajaran kuantum justru menekankan pentingnya peranan lingkungan dalam mewujudkan pembelajaran yang efektif dan optimal dan memudahkan keberhasilan tujuan pembelajaran.
4.      Pembelajaran kuantum berupaya memadukan (mengintegrasikan), menyinergikan, dan mengolaborasikan faktor potensi-diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran. Atau lebih tepat dikatakan di sini bahwa pembelajaran kuantum tidak memisahkan dan tidak membedakan antara res cogitans dan res extenza, antara apa yang di dalam dan apa yang di luar. Dalam pandangan pembelajaran kuantum, lingkungan fisikal-mental dan kemampuan pikiran atau diri manusia sama-sama pentingnya dan saling mendukung. Karena itu, baik lingkungan maupun kemampuan pikiran atau potensi diri manusia harus diperlakukan sama dan memperoleh stimulan yang seimbang agar pembelajaran berhasil baik.
5.      Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekadar transaksi makna. Dapat dikatakan bahwa interaksi telah menjadi kata kunci dan konsep sentral dalam pembelajaran kuantum. Karena itu, pembelajaran kuantum memberikan tekanan pada pentingnya interaksi, frekuensi dan akumulasi interaksi yang bermutu dan bermakna. Di sini proses pembelajaran dipandang sebagai penciptaan interaksi-interaksi bermutu dan bermakna yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran dan bakat alamiah pembelajar menjadi cahaya-cahaya yang bermanfaat bagi keberhasilan pembelajar. Interaksi yang tidak mampu mengubah energi menjadi cahaya harus dihindari, kalau perlu dibuang jauh dalam proses pembelajaran. Dalam kaitan inilah komunikasi menjadi sangat penting dalam pembelajaran kuantum.
6.      Pembelajaran kuantum sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi. Di sini pemercepatan pembelajaran diandaikan sebagai lompatan kuantum. Pendeknya, menurut pembelajaran kuantum, proses pembelajaran harus berlangsung cepat dengan keberhasilan tinggi. Untuk itu, segala hambatan dan halangan yang dapat melambatkan proses pembelajaran harus disingkirkan, dihilangkan, atau dieliminasi. Di sini pelbagai kiat, cara, dan teknik dapat dipergunakan, misalnya pencahayaan, iringan musik, suasana yang menyegarkan, lingkungan yang nyaman, penataan tempat duduk yang rileks, dan sebagainya. Jadi, segala sesuatu yang menghalangi pemercepatan pembelajaran harus dihilangkan pada satu sisi dan pada sisi lain segala sesuatu yang mendukung pemercepatan pembelajaran harus diciptakan dan dikelola sebaik-baiknya.
7.      Pembelajaran kuantum sangat menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang dibuat-buat. Kealamiahan dan kewajaran menimbulkan suasana nyaman, segar, sehat, rileks, santai, dan menyenangkan, sedang keartifisialan dan kepura-puraan menimbulkan suasana tegang, kaku, dan membosankan. Karena itu, pembelajaran harus dirancang, disajikan, dikelola, dan difasilitasi sedemikian rupa sehingga dapat diciptakan atau diwujudkan proses pembelajaran yang alamiah dan wajar. Di sinilah para perancang dan pelaksana pembelajaran harus bekerja secara proaktif dan suportif untuk menciptakan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran.
8.      Pembelajaran kuantum sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang tidak bermakna dan tidak bermutu membuahkan kegagalan, dalam arti tujuan pembelajaran tidak tercapai. Sebab itu, segala upaya yang memungkinkan terwujudnya kebermaknaan dan kebermutuan pembelajaran harus dilakukan oleh pengajar atau fasilitator. Dalam hubungan inilah perlu dihadirkan pengalaman yang dapat dimengerti dan berarti bagi pembelajar, terutama pengalaman pembelajar perlu diakomodasi secara memadai. Pengalaman yang asing bagi pembelajar tidak perlu dihadirkan karena hal ini hanya membuahkan kehampaan proses pembelajaran. Untuk itu, dapat dilakukan upaya membawa dunia pembelajar ke dalam dunia pengajar pada satu pihak dan pada pihak lain mengantarkan dunia pengajar ke dalam dunia pembelajar. Hal ini perlu dilakukan secara seimbang.
9.      Pembelajaran kuantum memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang menggairahkan atau mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis. Isi pembelajaran meliputi penyajian yang prima, pemfasilitasan yang lentur, keterampilan belajar-untuk-belajar, dan keterampilan hidup. Konteks dan isi ini tidak terpisahkan, saling mendukung, bagaikan sebuah orkestra yang memainkan simfoni. Pemisahan keduanya hanya akan membuahkan kegagalan pembelajaran. Kepaduan dan kesesuaian keduanya secara fungsional akan membuahkan keberhasilan pembelajaran yang tinggi; ibaratnya permainan simfoni yang sempurna yang dimainkan dalam sebuah orkestra.
10.  Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis, keterampilan [dalam] hidup, dan prestasi fisikal atau material. Ketiganya harus diperhatikan, diperlakukan, dan dikelola secara seimbang dan relatif sama dalam proses pembelajaran; tidak bisa hanya salah satu di antaranya. Dikatakan demikian karena pembelajaran yang berhasil bukan hanya terbentuknya keterampilan akademis dan prestasi fisikal pembelajar, namun lebih penting lagi adalah terbentuknya keterampilan hidup pembelajar. Untuk itu, kurikulum harus disusun sedemikian rupa sehingga dapat terwujud kombinasi harmonis antara keterampilan akademis, keterampilan hidup, dan prestasi fisikal.
11.  Pembelajaran kuantum menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran. Tanpa nilai dan keyakinan tertentu, proses pembelajaran kurang bermakna. Untuk itu, pembelajar harus memiliki nilai dan keyakinan tertentu yang positif dalam proses pembelajaran. Di samping itu, proses pembelajaran hendaknya menanamkan nilai dan keyakinan positif dalam diri pembelajar. Nilai dan keyakinan negatif akan membuahkan kegagalan proses pembelajaran. Misalnya, pembelajar perlu memiliki keyakinan bahwa kesalahan atau kegagalan merupakan tanda telah belajar; kesalahan atau kegagalan bukan tanda bodoh atau akhir segalanya. Dalam proses pembelajaran dikembangkan nilai dan keyakinan bahwa hukuman dan hadiah (punishment dan reward) tidak diperlukan karena setiap usaha harus diakui dan dihargai. Nilai dan keyakinan positif seperti ini perlu terus-menerus dikembangkan dan dimantapkan. Makin kuat dan mantap nilai dan keyakinan positif yang dimiliki oleh pembelajar, kemungkinan berhasil dalam pembelajaran akan makin tinggi. Dikatakan demikian sebab “Nilai-nilai ini menjadi kacamata yang dengannya kita memandang dunia. Kita mengevaluasi, menetapkan prioritas, menilai, dan bertingkah laku berdasarkan cara kita memandang kehidupan melalui kacamata ini”, ungkap DePorter dalam Quantum Business (2000:54).
12.  Pembelajaran kuantum mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban. Keberagaman dan kebebasan dapat dikatakan sebagai kata kunci selain interaksi. Karena itu, dalam pembelajaran kuantum berkembang ucapan: Selamat datang keberagaman dan kebebasan, selamat tinggal keseragaman dan ketertiban!. Di sinilah perlunya diakui keragaman gaya belajar siswa atau pembelajar, dikembangkannya aktivitas-aktivitas pembelajar yang beragam, dan digunakannya bermacam-macam kiat dan metode pembelajaran. Pada sisi lain perlu disingkirkan penyeragaman gaya belajar pembelajar, aktivitas pembelajaran di kelas, dan penggunaan kiat dan metode pembelajaran.
13.  Pembelajaran kuantum mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran. Aktivitas total antara tubuh dan pikiran membuat pembelajaran bisa berlangsung lebih nyaman dan hasilnya lebih optimal.

2.1.4 Tujuan Pembelajaran Kuantum
Menurut Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:12) adapun tujuan dari pembelajaran kuantum (quantum learning) adalah sebagai berikut:
a.       Untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif.
b.      Untuk menciptakan proses belajar yang menyenangkan.
c.       Untuk menyesuaikan kemampuan otak dengan apa yang dibutuhkan oleh otak.
d.      Untuk membantu meningkatkan keberhasilan hidup dan karir.
e.       Untuk membantu mempercepat dalam pembelajaran.
Tujuan di atas, mengindikasikan bahwa pembelajaran kuantum mengharapkan perubahan dari berbagai bidang mulai dari lingkungan belajar yaitu kelas, materi pembelajaran yang menyenangkan, menyeimbangkan kemampuan otak kiri dan otak kanan, serta mengefisienkan waktu pembelajaran.
Menurut Kompasiana (2010) Lingkungan belajar dalam pembelajaran kuantum terdiri dari lingkungan mikro dan lingkungan makro. Lingkungan mikro adalah tempat siswa melakukan proses belajar, bekerja, dan berkreasi. Lebih khusus lagi perhatian pada penataan meja, kursi, dan belajar yang teratur. Lingkungan makro yaitu dunia luas, artinya siswa diminta untuk menciptakan kondisi ruang belajar di masyarakat. Mereka diminta berinteraksi sosial ke lingkungan masyarakat yang diminatinya, sehingga kelak dapat berhubungan secara aktif dengan masyarakat.
Selain itu, Bobbi DePorter,et al., (2004:14) menyatakan mengenai lingkungan dalam konteks panggung belajar. “Lingkungan yaitu cara guru dalam menata ruang kelas, pencahayaan warna, pengaturan meja dan kursi, tanaman, musik, dan semua hal yang mendukung proses belajar”.
Jadi, dapat dikatakan bahwa pembelajaran kuantum sangat memperhatikan pengkondisian suatu kelas sebagai lingkungan belajar dari peserta didik mengingat model pembelajaran kuantum merupakan adaptasi dari model pembelajaran yang diterapkan di luar negeri.

2.1.5 Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Kuantum
Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:18-19) dalam bukunya yang berjudul ”Quantum Learning” juga menjelaskan mengenai keunggulan dan kelemahan dari pembelajaran kauntum (quantum learning) yaitu sebagai berikut:
1.      Keunggulan
a.       Pembelajaran kuantum berpangkal pada psikologi kognitif, bukan fisika kuantum meskipun serba sedikit istilah dan konsep kuantum dipakai.
b.      Pembelajaran kuantum lebih bersifat humanistis, bukan positivistis-empiris, “hewan-istis”, dan atau nativistis.
c.       Pembelajaran kuantum lebih konstruktivis(tis), bukan positivistis-empiris, behavioristis.
d.      Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekedar transaksi makna.
e.       Pembelajaran kuantum sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.
f.       Pembelajaran kuantum sangat menentukan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang dibuat-buat.
g.      Pembelajaran kuantum sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran.
h.      Pembelajaran kuantum memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran.
i.        Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis, keterampilan (dalam) hidup, dan prestasi fisikal atau material.
j.        Pembelajaran kuantum menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran.
k.      Pembelajaran kuantum mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban.
l.        Pembelajaran kuantum mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran.
2.      Kelemahan
a.       Membutuhkan pengalaman yang nyata.
b.      Waktu yang cukup lama untuk menumbuhkan motivasi dalam belajar.
c.       Kesulitan mengidentifikasi keterampilan siswa.
Berdasarkan pemaparan keunggulan dan kelemahan pembelajaran kuantum, pembelajaran kauntum sangat memperhatikan keaktifan serta kreatifitas yang dapat dicapai oleh peserta didik. Pembelajaran kuantum mengarahkan seorang guru menjadi guru yang “baik”. baik dalam arti bahwa guru memiliki ide-ide kreatif dalam memberikan proses pembelajaran, mengetahui dengan baik tingkat kemampuan siswa.

2.1.6  Prinsip Pembelajaran Kuantum
Adapun prinsip-prinsip pembelajaran kuantum (quantum learning) adalah sebagai berikut:
1.      Prinsip utama pembelajaran kuantum berbunyi: Bawalah Dunia Mereka (Pembelajar) ke dalam Dunia Kita (Pengajar), dan Antarkan Dunia Kita (Pengajar) ke dalam Dunia Mereka (Pembelajar).
2.      Dalam pembelajaran kuantum juga berlaku prinsip bahwa proses pembelajaran merupakan permainan orchestra simfoni.
3.      Prinsip dasar pembelajaran kuantum adalah sebagai berikut:
a.       Ketahuilah bahwa segalanya berbicara: Dalam pembelajaran kuantum, segala sesuatu mulai lingkungan pembelajaran sampai dengan bahasa tubuh pengajar, penataan ruang sampai guru, mulai kertas yang dibagikan oleh pengajar sampai dengan rancangan pembelajaran, semuanya mengirim pesan tentang pembelajaran.
b.      Ketahuilah bahwa segalanya bertujuan: Semua yang terjadi dalam proses pengubahan energy menjadi cahaya mempunyai tujuan.
c.       Sadarilah bahwa pengalaman mendahului penamaan: Poses pembelajaran paling baik terjadi ketika pembelajar telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh makna untuk apa yang mereka pelajari.
d.      Akuilah setiap usaha yang dilakukan dalam pembelajaran: Pembelajaran atau belajar selalu mengandung risiko besar.
e.       Sadarilah bahwa sesuatu yang layak dipelajari layak pula dirayakan: Segala sesuatu dipelajari sudah pasti layak pula dirayakan keberhasilannya.
4.      Dalam pembelajaran kuantum juga berlaku prinsip bahwa pembelajaran lurus berdampak bagi terbentuknya keunggulan.Dengan kata lain pembelajaran perlu diartikan sebagai pembentukan keunggulan. Oleh karena itu, keunggulan ini bahkan telah dipandangan sebagai jantung fondasi pembelajaran kuantum. Ada 7 prinsip keunggulan, yang juga disebut 7 kunci keunggulan yang diyakini dalam pembelajaran kuantum, yaitu:
a.       Teraplah Hidup dalam Integritas: Dalam pembelajaran, bersikaplah apa adanya, tulus, dan menyeluruh yang lahir ketika nilai-nilai dan perilaku kita menyatu.
b.      Akuilah Kegagalan Dapat Membawa Kesuksesan: Dalam pembelajaran, kita harus mengerti dan mengakui bahwa kesalahan atau kegagalan dapat memberikan informasi kepada kita yang diperlukan untuk belajar lebih lanjut sehingga kita dapat berhasil.
c.       Berbicaralah dengan Niat Baik: Dalam pembelajan, perlu dikembangkan ketrampilan berbicara dalam arti positif dan bertanggung jawab atas komunikasi yang jujur dan langsung.
d.      Tegaskanlah Komitmen: Dalam pembelajaran, baik pengajar maupun pembelajar harus mengikuti visi-misi tanpa ragu-ragu, tetap pada rel yang telah ditetapkan.
e.       Jadilah Pemilik: Dalam pembelajaran harus ada tanggung jawab. Tanpa tanggung jawab tidak mungkin terjadi pembelajaran yang bermakna dan bermutu.
f.       Tetaplah Lentur: Dalm pembelajaran, pertahanan kemampuan untuk mengubah yang sedang dilakukan untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Pembelajar lebih-lebih , harus pandai-pandai membaca lingkungan dan suasana, dan harus pandai-pandai mengubah lingkungan dan suasana bilamana diperlukan.
g.      Pertahankanlah Keseimbangan: Dalam pembelajaran, pertahanan jiwa, tubuh, emosi, dan semangat dalam satu kesatuan dan kesejajaran agar proses dan hasil pembelajaran efektif dan optimal.

2.1.7  Manfaat Pembelajaran Kuantum
Manfaat yang dapat diperoleh dari pembelajaran kuantum (quantum learning) menurut Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:13) diantaranya:
1.      Sikap positif
2.      Motivasi
3.      Keterampilan belajar seumur hidup
4.      Kepercayaan diri
5.      Sukses

2.1.8  Langkah Pembelajaran Kuantum
Langkah model pembelajaran kuantum (quantum learning) yang dikenal dengan sebutan TANDUR Bobbi DePorter,et al.,(2004:10) adalah sebagai berikut :
a.       Tumbuhkan
Tumbuhkan minat dengan memuaskan “Apakah Manfaatnya BagiKu” (AMBAK), dan manfaatkan kehidupan belajar.
b.      Alami
Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar. 
c.       Namai
Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi, sebuah “masukan”.
d.      Demonstrasikan
Sediakan kesempatan bagi pelajar untuk “menunjukkan bahwa mereka tahu”.
e.       Ulangi
Tunjukkan pelajar cara-cara mengulang materi dan menegaskan, “Aku tahu bahwa aku memang tahu ini”.
f.       Rayakan
Pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan.Perayaan dalam pembelajaran kuantum sangat diutamakan atau sangat penting. Perayaan dapat membangun keinginan untuk sukses dalam pembelajaran. Menurut Bobbi DePorter,et al., (2004:31-34), terdapat beberapa bentuk perayaan menyenangkan yang biasa digunakan yaitu:
·         Tepuk Tangan
Teknik ini terbukti tidak pernahh gagal memberikan inspirasi.
·         Hore! Hore! Hore!
Cara ini sangat mengasyikkan jika dilakukan “bergelombang” ke seluruh ruangan. Caranya adalah guru memberikan aba-aba, semua orang atau siswa melompat berdiri dan berteriak senyaring mungkin, “Hore, Hore, Hore!” sambil mengayunkan tangan ke depan dank e atas.
·         Wussss
Jika diberi aba-aba, semua orang bertepuk tangan tiga kali secara serentak, lalu mengirimkan segenap energi positif mereka kepada orang yang dituju. Cara melakukannya adalah setelah bertepuk, tangan mendorong kea rah orang tersebut sambil berteriak “Wusssss”.
·         Jentikan Jari
Jika guru atau pengajar memerlukan pengakuan yang tenang, daripada tepuk tangan, gunakan jentikan jari berkesiinambungan.
·         Poster Umum
Mengakui individu atau seluruh kelas, misalnya “Kelas Enam The Best!.
·         Catatan Pribadi
Sampaikan kepada siswa secara perseorangan untuk mengakui usaha keras, sumbangan pada kelas, perilaku atau tindakan yang baik hati.
·         Persekongkolan
Mengakui seseorang secara tak terduga. Misalnya seluruh kelas dapat bersekongkol untuk mengakui kelas lain dengan cara memasang poster positif (atau surat) misterius yang bertuliskan hal-hal seperti “Kelas VI hebat lho!” atau “Semangat Menempuh Ujian hari Ini!”.
·         Kejutan
Kejutan harus terjadi secara acak. Kejutan bukan merupakan hadiah yang diharapkan oleh siswa. Jadikan kejutan tetap sebagai kejutan!.
·         Pengakuan Kekuatan
Lakukan jika menginginkan orang mendapatkan pengakuan, setelah mereka saling mengenal dengan baik. Cara melakukan adalah atur siswa untuk duduk membentuk tapak kuda, dengan satu kursi (kursi jempol) di bagian terbuka tapal. Setiap orang bergiliran menduduki kursi jempol. Siswa pada kursi jempol tersebut duduk diam sambil mendengarkan dan memperhatikan. Setiap siswa dalam tapal mengakui kekuatan istimewa atau sifat-sifat baik dari siswa yang duduk di kursi jempol. Guru dapat memberikan contoh hingga murid-murid tahu cara melanjutkannya.
Berdasarkann uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa kesenangan peserta didik sangat diperhatikan baik dari cara memberikan penguatan ataupun dari bentuk variasi lingkungan belajar.

2.2            Pembelajaran Kompetensi
2.2.1 Pengertian Pembelajaran Kompetensi
Kompetensi dapat diartikan sebagai kemampuan dasar yang dapat dilakukan oleh para siswa pada tahap pengetahuan, keterampilan, dan bersikap. Kemampuan dasar ini akan dijadikan sebagai landasan melakukan proses pembelajaran dan penilaian siswa. Kompetensi merupakan target, sasaran, standar sebagaimana yang telah di jelaskan oleh benyamin S. Bloom (1964) dan gagne (1979) dalam berbagai teorinya.
Kata pembelajaran adalah terjemahan dari instruction yang banyak dipakai dalam dunia pendidikandi negeri Pamansam sana, yang menempatkan siswa sebagai sumber darikegiatan.
Dalam pembelajaran kompetensi, siswa sebagai subjek belajar yang memegangperanan utama, sehingga dalam setting proses belajar mengajar siswa dituntut kreativitas secara penuh bahkan secara individual mempelajari bahan pelajaran. Dengan demikian peranan guru di sini sebagai fasilitator, memanage berbagai sumber dan fasilitas untuk dipelajari siswa. Terdapat karakteristik penting dari pembelajaran kompetensi, seperti kegiatan proses belajar mengajar dalam KBK tidak hanya sekadar menyampaikan materi saja, akan tetapi diselenggarakan untuk membentuk watak, peradaban, dan mutu kehidupan peserta didik.
Pembelajaran perlu memberdayakan semua potensi peserta didikuntuk menguasai kompetensi yang diharapkan. Pemberdayaan diarahkan untukmendorong pencapaian kompetensi dan prilaku khusus supaya setiap individu mampumenjadi pembelajar sepanjang hayat dan mewujudkan masyarakat belajar(Depdiknas,2002).
Dalam implementasi KBK, pembelajaran tidak dimaksudkan menghilangkan peranan guru sebagai pengajar, sebab secara konseptual istilah mengajar juga bermakna membelajarkan siswa. Mengajar belajar dua istilah yang tidak dapat dipisahkan, mengajarmenitikberatkan perbuatan guru yang menyebabkan siswa belajar. Dengan demikian,dalam istilah mengajar juga terkandung proses belajar siswa, inilah makna pembelajaran.Pembelajaran menunjukan pada usaha siswa mempelajari bahan pelajaran sebagai akibatperlakuan guru. Proses pembelajaran yang dilakukan siswa tidak mungkin terjadi tanpaperlakuan guru, yang membedakannya terletak pada peranannya saja. Kompetensi bukanlah merupakan temuan yang baru, akan tetapi istilah kompetensi sudah lahir sejak pendidikan yang berkembang di lembaga-lembagapendidikan. Sementara sebagian orang yang telah mendapat informasitentang kompetensi mencoba mentransfer kepada orang lain dengan mempergunakan petunjuk yang masih samar-samar, seperti kompetensi suatu mata pelajaran yang disampaikan kepada siswa harus ada keseimbangan teoritik dan praktek, pola pengajarandiberi porsi keseimbangan 50% teori dan 50% praktek. Dengan demikian setiap guru yang memhami pengertian kompetensi secara parsial berusaha menterjemahkan secara sendiri-sendiri, seperti praktek itu akan dilakukan di laboratorium, sementara sekolahsekolahdi lingkungan kita mengajar belum memiliki sarana prasarana yang memadai danlengkap. Anggapan seperti itu memang ada benarnya, akan tetapi tidaklah semua materi pelajaran harus praktek di laboratorium di sekolah yang tersedia, umpamanya mata pelajaran PMP, guru memberikan materi terhadap siswa dan siswa mampu melaksanakan praktek di laboratorium di masyarakat, kehidupan bermasyarakat dan kehidupanberbangsa serta bernegara.
Pembelajaran kompetensi memiliki sembilan kompetensi yang bersifat strategis(Martinis Yamin, 2005), sebagai berikut:
a.       Menyadari bahwa setiap orang merupakan mahluk Tuhan Yang Maha Esa dan memiliki keyakinan sesuai dengan agama yang dianutnya.
b.      Menggunakan bahasa untuk memahami, mengembangkan, dan mengkomunikasikan gagasan dan informasi, serta untuk berinteraksi dengan orang lain.
c.       Memilih, memadukan, dan menerapkan konsep-konsep numerik dan spesial, serta mampu mencari dan menyusun pola, struktur dan hubungan.
d.      Menerapkan teknologi dan informasi yang diperlukan, ditemukan dan diperoleh dari berbagai sumber dalam kehidupan serta mampu menilai kebermanfaatan.
e.       Memahami dan menghargai dunia fisik, mahluk hidup dan teknologi, dan menggunakan pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai untuk mengambil keputusan yang tepat.
f.       Memahami kontek budaya geografi, sejarah, dan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan, serta berinteraksi dan berkontribusi dalam masyarakat dan budaya global.
g.      Berpartisipasi dalam kegiatan kreatif dan lingkungan untuk saling menghargai karya artistik, budaya, dan intelektual serta menerapkan nilai-nilai luhur untuk meningkatkan kematangan pribadi menuju masyarakat beradab.
h.      Menunjukkan kemampuan berfikir konsekuen, berfikir literal, berfikir kritis, memperhitungkan peluang dan potensi, serta siap untuk menghadapi berbagai kemungkinan.
i.        Menunjukkan motivasi dan percaya diridalam belajar, mampu bekerja mandiri, dan mampu bekerja sama dengan orang lain.

2.2.2 Komponen Utama Pembelajaran Kompetensi
Penyusunan materi pembelajaran kompetensi mencakup tiga komponen utama yang harus dikuasai siswa, yaitu:
1.      Kompetensi dasar atau kemampuan dasar merupakan tujuan pembelajaran dari materi yang akan diberikan kepada siswa sesuai dengan taksonomi Bloom menggunakan kata-kata operasional yang bersifat umum yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan dasar mulai tingkat pengetahuan rendah, menengah dan tinggi seperti pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Tiapkemampuan dasar dapat dijabarkan menjadi dua sampai lima indikator.
2.      Materi pokok adalah materi pelajaran yang disajikan kepada siswa berupa penjabaran sub pokok bahasan dari awal semester sampai akhir semester secara terstruktur, hal ini dapat kita lihat pada silabus masing-masing mata pelajaran, yang dikembangkan oleh masing-masing guru bidang studi.
3.      Indikator dikembangkan dari kemampuan dasar sesuai dengan materi pembelajaran yang ditetapkan, menggunakan kata kerja operasional khusus yang disesuaikan dengan tingkat berfikir siswa. Setiap indikator harus dapat dibuatkan soal sebanyaktiga sampai lima butir. Kriteria indikator yang memenuhi syarat adalah:
·         Memuat ciri-ciri tujuan yang hendak diukur.
·         Memuat suatu kata kerja operasional yang dapat diukur
·         Berkaitan erat dengan materi yang diajarkan
·         Dapat dibuatkan soalnya tiga sampai lima butir setiap indicator.

2.2.3 Prinsip Pembelajaran Kompetensi
Prinsip pembelajaran merupakan hal-hal yang mendasari dan menjadi sebab-sebabterjadinya belajar. Dengan perkataan lain apabila suatu prinsip tidak nampak dalamkegiatan pembelajaran, maka proses belajar itu tidak akan terjadi secara efektif danberhasil sesuai dengan harapan. Efektivitas belajar berkaitan dengan suasana belajar yangmenyenangkan seperti ciptakan kondisi terbaik untuk belajar, bentuk presentasi yangmelibatkan seluruh indera, berfikir kreatif dan kritis untuk membantu proses internalisasidan beri rangsangan dalam mengakses materi pelajaran (Gordon and Vos, 2000).Ada beberapa prinsip penting dalam pembelajaran kompetensi, antara lain:
1.      Proses pembelajaran kompetensi membentuk kreasi lingkungan yang dapat membentuk atau mengubah struktur kognitif siswa. Tujuan pengaturan lingkungan dimaksudkan untuk menyediakan pengalaman belajar yang memberi latihan-latihanpenggunaan fakta-fakta. Struktur kognitif akan tumbuh dan berkembang manakalasiswa memiliki pengalaman belajar. Oleh karena itu dalam pembelajaran kompetensi menuntut aktivitas siswa secara penuh untuk mencari dan menemukan sendiri.
2.      Berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan yang harus dipelajari, ada tipe pengetahuan fisis, sosial dan logika (Bruce Weil, l980). Pengetahuan fisis adalah pengetahuan akan sifat-sifat fisis dari suatu objek atau kejadian seperti bentuk, besar,kecil, serta bagaimana objek itu berinteraksi satu dengan yang lainnya. Pengetahuanfisis diperoleh melalui pengalaman indera secara langsung. Misalkan anak memeganglogam yang bersifat keras dan memegang kain sutra yang bersifat halus. Pengetahuan sosial berhubungan dengan perilaku individu dalam suatu sistem sosial atau hubunganantar manusia yang dapat mempengaruhi interaksi sosial, contohnya pengetahuantentang aturan, hukum, moral, nilai, bahasa dan lain sebagainya. Pengetahuan logikaberhubungan dengan berfikir matematis yaitu pengetahuan yang dibentuk berdasarkan pengalaman dengan suatu objek dan kejadian tertentu.
3.      Pembelajaran melalui KBK diarahkan agar siswa mampu mengatasi setiap tantangan dan rintangan dalam kehidupan yang cepat berubah, melalui sejumlah kompetensi yang harus dimiliki yang meliputi kompetensi akademik, kompetensi okupasional, kompetensi kultural, dan kompetensi temporal. Itu sebabnya makna pembelajaran KBK bukan hanya mendorong anak agar mampu menguasai sejumlah materi pelajaran, akan tetapi bagaimana agar anak itu memiliki sejumlah kompetensi untuk mampu menghadapi rintangan yang muncul sesuai dengan perubahan pola kehidupan masyarakat (Sanjaya, 2005).
Adapun beberapa prinsip pembelajaran yang dikembangkan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi dalam rangka menunjang hasil belajar yang efektif dan efesien, menurut Puskur (Balibang Depdiknas, 2002) rambu-rambunya sebagai berikut:
1.      Kesempatan untuk belajar, kegiatan pembelajaran perlu menjamin pengalaman siswa untuk secara langsung mengamati dan mengalami proses, produk, keterampilan dan nilai yang diharapkan.
2.      Pengetahuan awal siswa, kegiatan pembelajaran perlu mengaitkan pengalaman belajar yang dikaitkan dengan pengetahuan awal siswa serta disesuaikan dengan keterampilan dan nilai yang dimiliki siswa sambil memperluas dan menunjukkan keterbukaan cara pandang dan cara tindak sehari-hari.
3.      Refleksi, kegiatan mengajar perlu menyediakanpengalaman belajar yang bermakna yang mampu mendorong tindakan dan renungan (refleksi) pada setiap siswa.
4.      Memotivasi, kegiatan pembelajaran harus mampu menyediakan pengalaman belajar yang memberi motivasi dan kejelasan tujuan.
5.      Keragaman individu, kegiatan pembelajaran perlu menyediakan pengalaman pembelajaran yang mampu membedakan kemampuan individu yang satu dengan yang lain sehingga variasi metode mengajar mutlak diperlukan.
6.      Kemandirian dan kerjasama, kegiatan pembelajaran perlu menyediakan pengalaman belajar yang mendorong siswa untuk belajar mandiri maupun melakukan kerjasama.
7.      Suasana yang mendukung, sekolah dan kelas perlu diatur lebih aman dan lebih kondusif untuk menciptakan situasi agar siswa belajar secara efektif.
8.      Belajar untuk kebersamaan, kegiatan pembelajaran menyediakan pengalaman belajar yang mendorong siswa untuk memiliki simpati, empati, dan toleransi bagi orang lain.
9.      Siswa sebagai pembangun gagasan, kegiatan pembelajaran menyediakan pengalaman belajar yang mengakomodasikan pandangan bahwa pembangunan gagasan adalah siswa, sedangkan guru hanya sebagai menyediakan kondisi supaya peristiwa belajar tetap berlangsung.
10.  Rasa ingin tahu, kreativitas dan ketuhanan, kegiatan pembelajaran menyediakanpengalaman belajar yang memupuk rasa ingin tahu, mendorong kreativitas, dan selalumengagungkankebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
11.  Menyenangkan, kegiatan pembelajaran perlu menyediakan pengalaman belajar yangmenyenangkan siswa, seperti pembelajaran kuantum.
12.  Interaksi dan komunikasi, kegiatan pembelajaran perlu menyediakan pengalamanbelajar yang meyakinkan siswa terlibat secara aktif baik mental, fisik maupun sosial.
13.  Belajar cara belajar, kegiatan pembelajaran kompetensi memerlukan pengalamanbelajar yang memuat keterampilan belajar, sehingga siswa menjadi terampil belajarbagaimana cara belajar.
Pembelajaran kompetensi dapat terlaksana secara optimal, dalam arti mencapaisasaran kompetensi standar dalam implementasi dan pengembangan jika memperhatikanprinsip-prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Prinsip-prinsip pembelajaran kompetensi menurut Sukmadinata (2004) harus memperhatikan beberapa prinsip sebagaiberikut:
a.       Agar setiap siswa dapat menguasai kompetensi standar perlu disediakan waktu yangcukup dengan program pembelajaran yang berkualitas.
b.      Setiap siswa memiliki kemampuan untuk menguasai kompetensi yang dituntut, tanpamemperhatikan latar belakang pendidikan dan pengalaman mereka. Denganpenyelenggaraan program pembelajaran yang baik dan waktu yang cukup maka setiapsiswa dapat mencapai hasil yang ditargetkan.
c.       Perbedaan individual dalam penguasaan kompetensi diantara siswa, bukan sajadisebabkan karena faktor-faktor diri siswa tetapi karena ada kelemahan dalamlingkungan pembelajaran.
d.      Setiap siswa mendapatkan peluang yang sama untuk memiliki kemampuan yangdiharapkan, asal disesuaikan dengan kecepatan belajar masing-masing. Setiap siswadapat menguasai kompetensi yang diharapkan asalkan rancangan dan pelaksanaanprogram pembelajaran sedekat mungkin diarahkan pada pencapaian sasaranpembelajaran.
e.       Apa yang paling berharga dalam pembelajaran adalah berharga dalam belajar.Pembelajaran dirancang dan dilaksanakan agar para siswa terjadi belajar secaraoptimal. Jika ada siswa yang gagal dalam belajar disebabkan kesalahan rencana danpelaksana pendidikan, perlu dicari penyebab dan terus disempurnakan.

2.2.4 Karakteristik Pembelajaran Kompetensi
Proses pembelajaran kompetensi merupakan kegiatan interaksi antar dua unsure manusiawi yakni siswa sebagai pihak yang belajar dan guru sebagai pihak yang mengajar dengan siswa sebagai subjek pokok. Proses tersebut dalam pembelajaran kompetensimemiliki karakteristik khusus, yaitu:
1.      Proses pembelajaran memiliki tujuan yaitu membantu anak didik dalam suatu perkembangan tertentu.
2.      Adanya suatu prosedur yang direncanakan, dirancang sedemikian rupa untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
3.      Adanya kegiatan penggarapan materi tertentu secara khusus, sehingga dapat mencapai tujuan.
4.      Adanya aktivitas siswa sebagai syarat mutlak bagi berlangsungnya proses pembelajaran.
5.      Guru berperan sebagai pembimbing yang berusaha menghidupkan dan memberikn motivasi belajar kepada siswa dalam proses interkasi yang kondusif.
6.      Membutuhkan adanya komitmen terhadap kedisiplinan sebagai pola tingkah laku yang diatur menurut ketentuan yang ditaati oleh semua pihak.
7.      Adanya batasan waktu, untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan.
   Sedangkan Sukmadinata (2004), menjelaskan tentang karakteristik pembelajaran berbasis kompetensi sebagai berikut:
a.       Isi program didasarkan pada kecakapan atau keterampilan yang dibutuhkan untukmemecahkan suatu masalah atau mengerjakan suatu pekerjaan.
b.      Tujuan pembelajaran ditulis untuk setiap rumusan kompetensi.
c.       Pengukuran kecakapan atau keterampilan didasarkan atas kemampuan yangdiperlihatkan.
d.      Performansi siswa diukur dengan menggunakan acuan patokan.
e.       Record lengkap kompetensi-kompetensi yang dikuasai dibuat untuk setiap siswa.
f.       Bahan pembelajaran berupa modul, handout, buku kerja, dan program pembelajaranmenggunakan media cetak atau program komputer dan media lain yang disediakanbagi setiap peserta didik.
g.      Waktu belajar cukup fleksibel, tiap peserta dapat menyesuaikan kecepatan belajarnyadengan kemampuan masing-masing.
h.      Kegiatan belajar memanfaatkan umpan balik.
Karakteristik pembelajaran kompetensi dengan bukan kompetensi dalamperencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dapat di lihat pada tabel berikut ini:
Karakteristik
Pembelajaran Kompetensi
Pembelajaran Bukan Kompetensi
Apa yang dipelajari
Kompetensi yang menunjukkan sasaran-sasaran belajar yang sudah Bahan ajar berupa materi pengetahuan, konsep, prinsip, dirumuskan secara spesifik, yang memenuhi standar sesuai dengan tuntutan lapangan
Bahan ajar berupa materi
pengetahuan, konsep, prinsip,
dirumuskan secara spesifik, yangmemenuhi standar sesuai dengantuntutan lapangan
prosedur yang dimuat dalam buku,handout atau silabus
Proses
pembelajaran
Program pembelajaran yang disusunsecara seksama, berpusat padasiswa, memuat pengalaman belajar,media dan bahan yang diarahkanpada penguasaan kompetensi.Program pembelajarandirancanguntuk melayani kebutuhan, minatdankemampuan peserta didik.
Umpan balik digunakan untuk
memberikan perbaikan belajar
Menggunakan pendekatan dan
metode pembelajaran yang bersifatekspositori seperti ceramah, diskusidandemonstrasi. Anak didik kurang
dapat mengatur caea dankecepatanbelajar sendiri. Umpan balikpunjarangdiberikan.
Waktu Belajar
Disediakan waktu yang cukup untuk menguasai kompetensi, sebelumpindah mempelajari kompetensiberikutnya.
Sekelompok siswa dalamperiodewaktu yang sama mempelajari unit /topik pembelajaran tertentu.Kelompok tersebut dapatpindah keunit/topik berikut setelah waktuyang disediakan habis.
Kemajuan
Individu
Tiap siswa dituntut menguasai setiap formasi atau tugas sesuai denganstandar lapangan, sebelum dapatmenyicil untuk menyelesaikanfermansi/tugas tersebut.
Penguasaan didasarkan atas hasilujian tertulis, tingkatpenguasaanmenggunakan acuan norma. Peserta
diperbolehkan pindah ke bahan
berikutnya walaupun tingkat
penguasaannya masih minimal.
Makna
pembelajaran
Mempersiapkan anak didikmemilikidaya antisipasi dan aklimasi dalam menghadapi kehidupan yang penuhtantangan, persaingan, dankompleksitas di era globalisasi.
Mempersiapkan anak didik agar
memiliki kecerdasan, sikap dan
kepatuhan dapat menyelesaikan
tugas dan pekerjaan dan hidup
berkelayakan

2.2.5 Pengelolaan Pembelajaran Kompetensi
Berkenaan dengan kemampuan guru untuk mengelola berbagai komponen pembelajaran sehingga mampu menciptakan kondisi pembelajaran yang efektif dan efesien, maka dalam pengelolaan pembelajaran kompetensi ada beberapa hal yang perlu diperhatiakan diantaranya:
1.      Aspek-aspek pengelolaan pembelajaran kompetensi
Secara garis besar aspek-aspek yang perlu diperhatikan guru dalam merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran meliputi: pengelolaan ruang belajar, pengelolaan siswa dan pengelolaan kegiatan (Puskur Balitbang Depdiknas, 2002).
a.       Pengelolaan ruang belajar (kelas)
Ruang belajar merupakan temapat berlangsungnya kegiatan pembelajaranberbentuk ruang kelas. Selama berjam-jam siswa berada di ruang kelas, selama itu pulaterjadi interaksi guru dan siswa. Ruang tersebut harus ditata sedemikian rupa sehinggasecara layak dapat melangsungkan kegiatan pembelajaran.
b.      Pengelolaan siswa
Siswa dalam suatu kelompok kelas biasanya memiliki kemampuan yang beragam, terutama dalam menerima sejumlah pengalaman belajar termasuk di dalamnya materi yang harus dikuasai, karena itu guru hendaknya memahami tentang karakteristik siswa dalam kemampuan belajar. Bobbi DePorter (2001:117) mengelompokan karakteristikmodalitas belajar siswa ke dalam tiga karakter, yakni pelajar visual (menggunakanpenglihatan mata), auditorial (belajar melalui pendengaran), dan kinestetik (belajarbergerak, bekerja dan menyentuh).
c.       Pengelolaan kegiatan pembelajaran kompetensi
Kegiatan belajar siswa perlu dirancang sedemikian rupa sehingga sesuai dengan tingkatan kemampuannya. Seorang guru dituntut untuk menciptakan berbagai bentukkegiatan pembelajaran, sehingga siswa secara optimal mengembangkan kemampuandirinya dengan berbagai pengalaman belajar. Berkenaan dengan optimalisasi kemampuanbelajar seseorang, Sheal, Peter (l989) dalam Puskur Balibang Depdiknas (2002)menggambarkan kualifikasi kemampuan belajar, yaitu baca (10%), mendengar (20%),melihat (30%), melihat dan mendengar (50%), mengatakan (70%), mengatakan danmelakukan (90%).
d.      Pendekatan kegiatan pembelajaran kompetensi
Pendekatan merupakan langkah-langkah pembelajaran yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan secara efektif dan efesien, paling tidak melingkup empat aspek:
1.  Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi serta kualifikasi perubahan perilaku yangdiharapkan. Hal ini tentu mengacu pada standar kompetensi maupun pada kompetensilainnya yang selanjutnya dijabarkan pada sejumlah kemampuan dasar siswa untukmenguasai suatu kompetensi yang dimiliki siswa.
2.    Memilih cara pendekatan pembelajaran yang tepat untuk mencapai standar kompetensidengan memperhatikan karakteristik siswa sebagai subjek belajar, termasuk dalamkegiatan ini memahami tentang modalitas dan gaya belajar siswa secara individualsiswa.
3.    Memilih dan menetapkan sejumlah prosedur, metode, dan tenik kegiatan pembelajaranyang relevan dengan kebutuhan pengalaman belajar yang mesti ditempuh siswa.
4.    Menetapkan norma atau kriteria keberhasilan, sehingga dapat menjadi pedoman dalamkegiatan pembelajaran, terutama menilai kemampuan suatu jenis konpetensi tertentu.
2.      Sarana dan sumber belajar
Sarana merupakan fasilitas yang mempengaruhi secara langsung terhadapkeberhasilan siswa dalam kegiatan mencapai tujuan pembelajaran. Sarana yang palingmembantu adalah sarana berupa media atau alat peraga. Dalam pembelajaran kompetensimestinya guru menggunakan berbagai jenis media pembelajaran disesuaikan denganpengalaman belajar yang akan ditempuh siswa, sehingga berfungsi dapat memperjelaskonsep yang sedang dipelajari.
Berkenaan dengan sumber belajar harus disesuaikan dengan materi dan tujuanpembelajaran yang diinginkan. Sumber belajar utama yang dapat dipilih seperti buku,brosur, majalah, surat kabar, poster, lembar informasi dan lingkungan sekitar.Lingkungan sebagai sumber belajar dapat dibedakan menjadi: tiga bagian yaitulingkungan sosial, lingkungan alam, lingkungan budaya. Keberadaan sarana dan sumberbelajar harus benar-benar dimanfaatkan untuk menunjang penguasaan terhadap suatukompetensi yang dapat dikembangkan dan dikuasai oleh siswa.
3.      Model pendekatan pembelajaran kompetensi
Proses pembelajaran berbasis kompetensi merupakan program pembelajaran yangdirancang untuk menggali potensi dan pengalaman belajar siswa agar mampu memenuhipencapaian kompetensi yang telah ditetapkan. Materi yang diplih haruslah dapatmemberikan kecakapan untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan sehari-haridengan menggunakan pengetahuan, sikap dan keterampilan , sehingga siswa terhidar darimateri yang tidak menunjang pencapaian kompetensi.
Depdiknas (2002) menawarkan kepada sekolah untuk melakukan beberapa modelpembelajaran kompetensi yaitu model pembelajaran tematik dan pembelajaran bermakna. Pendekatan tematik lebih sesuai untuk siswa sekolah dasar kelas rendah dan pembelajaran bermakna dapat digunakan untuk siswa sekolah dasar kelas tinggi.
1)      Pembelajaran tematik
Pembelajaran tematik merupakan suatu strategi pembelajaran yang melibatkanbeberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa.Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspekkurikulum, dan aspek belajar mengajar. Adapun langkah-langkah pembelajaran tematikadalah: pelajari kompetensi dasar pada kelas dan semester yang sama setiap matapelajaran, pilihlah tema yang dapat mempersatukan kompetensi-kompetensi tersebutuntuk setiap kelas dan semester, buatlah matrik hubungan kompetensi dasar dengan temasehingga penyusunan kompetensi dasar pada sebuah mata pelajaran cocok dengan temayang diusung, terakhir buatlah pemetaan pembelajaran tematik untuk melihat kaitanantara tema dengan kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran.
2)      Pembelajaran bermakna
Pembelajaran yang bermakna merupakan kegiatan pembelajaran yang menitikberatkan pada kegunaan pengalaman belajar bagi kehidupan nyata siswa. Dalamhal ini guru dituntut mampu meyakinkan secara realistik tentang suatu pengalamanbelajar dengan menekankan pada siswa belajar secara aktif dan dapat memotivasi siswabelajar yang lebih konsentrasi. Beberapa tahapan yang ditawarkan pada pembelajaranbermakna (Puskur Balitbang Depdiknas, 2002) sebagai berikut:
a)      Apersepsi
Mengawali pembelajaran, guru biasanya memperhatikan dan melakukan hal-hal berikut: pelajaran dimulai dengan hal-hal yang diketahui dan dipahami siswa, motivasi siswa ditumbuhkan, dan siswa didorong agar tertarik untuk mengetahui hal-hal yang baru.
b)      Eksplorasi
Pengembangan sejumlah pengalaman belajar hendaknya memperhatikan: keterampilan yang baru diperkenalkan, kaitkan materi/pengalaman belajar dengan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya, dan pilihlah metodologi yang tepat dalam meningkatkan penerimaan siswa akan pengalaman baru yang disajikan.
c)      Konsolidasi pembelajaran
Pemantapan pengalaman belajar siswa dapat dilakukan dengan cara: melibatkan siswa secara aktif dalam menafsirkan dan memahami pengalaman atau materi baru, melibatkan siswa secara aktif dalam pemecahan masalah, menekankan pada kaitan antara materi pengalaman baru dengan berbagai aspek kegiatan dan kehidupan di dalam lingkungan dan pilih metodologi yang tepat sehingga pengalaman baru dapat terproses menjadi bagian dari kehidupan siswa sehari-hari.
d)     Pembentukan sikap dan perilaku
Proses internalisasi suatu pengalaman baru dapat dilakukan dengan: mendorong siswa menerapkan konsep atau pengertian baru yang dipelajari dalam kehidupan seharihari, membangun sikap dan perilaku baru dalam kehidupan siswa sehari-hari berdasarkan pengalaman belajarnya, pilih metodologi yang tepat agar terjadi perubahan pada sikap dan perilaku siswa menuju perubahan yang lebih baik.
e)      Penilaian formatif
Untuk menentukan efektivitas serta keberhasilan proses pembelajaran dapatdilakukan hal-hal berikut: kembangkan cara-cara menilai hasil pembelajaran siswa secaravariatif, gunakan hasil penilaian tersebut untuk dapat melihat kelemahan atau kekurangandan maslah-masalah yang dihadapi baik oleh siswa maupun oleh guru, dan pilihmetodologi penilaian yang paling tepat dan sesuai dengan tujuan yang mesti dicapai.



2.3            Pembelajaran Kontekstual
2.3.1 Pengertian Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.
CTL merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning), yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferrini diharapkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara maksimal.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja ber-sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesu-atu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan-nya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidu-pan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelaaran efektif, yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment).

2.3.2 Landasan Filosofi Pembelajaran Kontekstual
Para pendidik yang menyetujuai pandangan ilmu pengetahuan bahwa alam semesta itu tidak hidup,tidak diam ,dan alam semesta itu ditopang oleh tiga prinsip kesaling ketergantungan,diferensiasi dan organisasi diri ,harus menerapkan pandangan dan cara berfikir baru mengenai pembelajaran dan pengajaran.Menurut JONHSON (2004) tiga pilar dalam system CTL antara lain :
1.      CTL mencerminkan prinsip kesaling ketergantungan
Kesaling ketergantungan mewujudkan diri.Misalnya ketika para siswa bergabung untuk memecahkan masalah dan ketika para guru mengadakan pertemuan dengan rekanya .Hal ini tampak jelas  ketika subyek yang berbeda dihubungkan dan ketika kenitraan menggabungkan sekolah dengan dunia bisnis dan komunitas.
2.      CTL mencerminkan prinsip berdeferensiasi
Ketika CTL menentang para siswa untuk saling menghormati keunikan masing-masing ,untuk menghormati perbedaan,untuk menjadi kreatif,untuk bekerja sama ,untuk menghasilkan gagasan dan hasil baru yang berbeda ,dan untuk menyadari bahwa keragaman adalah tabda kemantapan dan kekuatan.
3.      CTL mencerminkan prinsip pengorganisasian diri
Pengorganisasian diri terlihat para siswa mencari dan menemukan kemampuan dan minat mereka sendiri yang berbeda ,mendapat manfaat dari umpan balik yang diberiakan oleh penilaian autentik,mengulas usaha-usaha mereka dalam tuntunan tujuan yang jelas dan standar yang tinggi dan berperan serta dalam kegiatan-kegiatan yang berpusat pada sisiwa yang membuat hati mereka bernyanyi.
Landasan filosofi CTL adalah kontruktivisme,yaitu filosofi belajar  yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal .siswaharus mengkontruksi pengetahuan dibenak mereka sendiri.Pengetahuan tidak dapat dipisahkan menjadi fakta atau proposisi yang terpisah ,tetapi mencerminkan ketrampilan yang dapat diterapkan.Kontruktivisme berakar pada filsafat pragmatiisme yang digagas John Dewey pada awal abad ke-20 yaitu sebuah filosofi belajar yang menekankan pada pengembangan minat dan pengalaman siswa.Anak akan belajar belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah.Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya bukan hanya mengetahuinya.

2.3.3        Tujuan Pembelajaran Kontekstual
Berikut ini merupakan beberapa tujuan pembelajaran kontekstual, diantaranya adalah untuk:
1.      Memotivasi siswa untuk memahami makna materi  pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari sehingga siswa memiliki pengetahuan atu ketrampilan yang secara refleksi dapat diterapkan dari permasalahan kepermasalahan lainya.
2.      Dalam belajar itu tidak hanya sekedar menghafal tetapi perlu dengan adanya pemahaman
3.      Menekankan pada pengembangan minat pengalaman siswa.
4.      Melatih siswa agar dapat berfikir kritis dan terampil dalam memproses pengetahuan agar dapat menemukan dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain
5.      Pembelajaran lebih produktif dan bermakna
6.      Mengajak anak pada suatu aktivitas yang mengkaitkan materi akademik dengan konteks jehidupan sehari-hari
7.      Siswa secara indinidu dapat menemukan dan mentrasfer informasi-informasi komplek dan siswa dapat menjadikan informasi itu miliknya sendiri.
2.3.4  Strategi Pembelajaran Kontekstual
Beberapa strategi pembelajaran yang perlu dikembangkan oleh guru secara konstektual antara lain:
1.      Pembelajaran berbasis masalah.
Dengan memunculkan problem yang dihadapi bersama,siswa ditantang untuk berfikir kritis untuk memecahkan.
2.      Menggunakan konteks yang beragam.
Dalam CTL guru membermaknakan pusparagam konteks sehingga makna yang diperoleh siswa menjadi berkualitas.
3.      Mempertimbangkan kebhinekaan siswa.
Guru mengayomi individu dan menyakini bahwa perbedaan individual dan social seyogianya  dibermaknakan menjadi mesin penggerak untuk belajar  saling menghormati dan toleransi untuk mewujudkan ketrampilan interpersonal.
4.      Memberdayakan siswa untuk belajar sendiri.
Pendidikan formal merupakan kawah candradimuka bagi siswa untuk menguasai cara belajar untuk belajar mandiri dikemudian hari.
5.      Belajar melalui kolaborasi
Dalam setiap kolaborasi selalu ada siswa yang menonjol dibandingkan dengan koleganya dan sisiwa ini dapat dijadikan sebagai fasilitator dalam kelompoknya
6.      Menggunakan penelitian autentik
Penilaian autentik menunjukkan bahwa belajar telah berlangsung secara terpadu dan konstektual dan memberi kesempatan pada siswa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang dimilikinya
7.      Mengejar standar tinggi
Setiap seyogianya menentukan kompetensi kelulusan dari waktu kewaktu terus ditingkatkan  dan setiap sekolah hendaknya melakukan Benchmarking dengan melukan study banding keberbagai sekolah dan luar negeri
Berdasarkan Center for Occupational Research and Development (CORD) Penerapan strategi pembelajaran konstektual digambarkan sebagai berikut:
1.      Relatinng
Belajar dikatakan dengan konteks dengan pengalaman nyata ,konteks merupakan kerangka kerja yang dirancang guru  untuk membantu peserta didik agar yang dipelajarinya bermakna.
2.      Experiencing
Belajar adalah kegiatan “mengalami “peserta didik diproses secara aktif dengan hal yang dipelajarinya dan berupaya melakukan eksplorasi terhadap hal yang dikaji,berusaha menemukan dan menciptakan hal yang baru dari apa yang dipelajarinya.
3.      Applying
Belajar menekankan pada proses mendemonstrasikan pengetahuan yang dimiliki dengan dalam konteks dan pemanfaatanya.
4.      Cooperative
Belajar merupakan proses kolaboratif dan kooperatif melalui kegiatan kelompok,komunikasi interpersonal atau hubunngan intersubjektif.
5.      Trasfering
Belajar menenkankan pada terwujudnya kemampuan memanfaatkan pengetahuan dalam situasi atau konteks baru.

2.3.5  Komponen Pemebelajaran Kontekstual
Komponen-komponen model pembelajaran kontekstual ini antara lain :
1.      Kontruktivisme
Kontruktivisme adalah proses membangun dan menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman.Pembelajaran ini harus dikemas menjadi proses”mengkontruksi”bukan menerima pengetahuan.
2.      Inquiry
Inquiry adalah proses pembelajaran yang didasrkan pada proses pencarian penemuan melalui proses berfikir secara sistematis.Merupakan proses pemindahan dari pengamatan menjadi pemahaman sehingga siswa belajar mengunakan ketrampilan berfikir kritis.Langkah-langkah dalam proses inquiry antara lain :
a. Merumuskan masalah
b. Mengajukan hipotesis
c. Mengumpilkan data
d. Menuji hipotesis
e. Membuat kesimpulan
3.      Bertanya
Bertanya dalah bagian inti belajar dan menemukan pengetahuan .
4.      Masyarakat belajar
Menurut Vygotsky dalam masyarakat belajar  ini pengetahuan dan pengalaman anak banyak dibentuk oleh komunikasi dengan orang lain.
5.      Pemodelan
Pemodelan adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sebagai sustu contoh yang dapat ditiru oleh siswa.

6.      Refleksi
Refleksi adalah proses pengengalaman yang telah dipelajari dengan cara mengerutkan dan mengevalusi kembali kejadian atau peristiwa pembelajaran telah dilaluinya untuk mendapatkan pemahaman yang dicapai baik yang bersifat positif maupun bernilai negative.
7.      Penilaian nyata
Penilaian nyata adalah proses yang dilukan oleh guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan oleh siswa.

2.3.6  Langkah-Langkah Pembelajaran Kontekstual
Langkah-langkah pembelajaran CTL antara lain :
1.      Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri,menemukan sendiri ,dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
2.      Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topic
3.      Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
4.      Menciptakan masyarakat belajar
5.      Menghadirkan model sebagia contoh belajar
6.      Melakukan refleksi diakhir pertemuan.
7.      Melakukan penialain yang sebenarnya dengan berbagai cara.
Ciri kelas yang menggunakan pendekatan konstektual:
1.      Pengalaman nyata
2.      Kerja sama, saling menunjang
3.      Gembira, belajar dengan bergairah
4.      Pembelajaran terintegrasi
5.      Menggunakan berbagai sumber
6.      Siswa aktif dan kritis
7.      Menyenangkan ,tidak membosankan
8.      Sharing dengan teman
9.      Guru kreatif

2.3.7  Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Kontekstual
Keunggulan pembelajaran kontekstual antara lain adalah sebagai berikut:
a.       Memberikan kesempatan pada sisiwa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang dimiliki sisiwa sehingga sisiwa terlibat aktif dalam PBM.
b.      Siswa dapat berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu isu dan memecahkan masalah dan guru dapat lebih kreatif.
c.       Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka pelajari.
d.      Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa tidak ditentukan oleh guru.
e.       Pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
f.       Membantu siwa bekerja dengan efektif dalam kelompok.
g.      Terbentuk sikap kerja sama yang baik antar individu maupun kelompok.
Kelemahan pembelajaran kontekstual adalah :
a.       Dalam pemilihan informasi atau materi  dikelas didasarkan pada kebutuhan  siswa  padahal,dalam kelas itu tingkat kemampuan siswanya berbeda-beda sehinnga guru akan kesulitan dalam menetukan materi pelajaran karena tingkat pencapaianya siswa tadi tidak sama.
b.      Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama dalam PBM
c.       Dalam proses pembelajaran dengan model CTL akan nampak jelas antara siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan siswa yang memiliki kemampuan kurang, yang kemudian menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi siswa yang kurang kemampuannya.
d.      Bagi siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran dengan CTL ini akan terus tertinggal dan sulit untuk mengejar ketertinggalan, karena dalam model pembelajaran ini kesuksesan siswa tergantung dari keaktifan dan usaha sendiri jadi siswa yang dengan baik mengikuti setiap pembelajaran dengan model ini tidak akan menunggu teman yang tertinggal dan mengalami kesulitan.
e.       Tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan penggunaan model CTL ini.
f.       Kemampuan setiap siswa berbeda-beda, dan siswa yang memiliki kemampuan intelektual tinggi namun sulit untuk mengapresiasikannya dalam bentuk lesan akan mengalami kesulitan sebab CTL ini lebih mengembangkan ketrampilan dan kemampuan soft skill daripada kemampuan intelektualnya.
g.      Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa akan berbeda-beda dan tidak merata.
h.      Peran guru tidak nampak terlalu penting lagi karena dalam CTL ini peran guru hanya sebagai pengarah dan pembimbing, karena lebih menuntut siswa untuk aktif dan berusaha sendiri mencari informasi, mengamati fakta dan menemukan pengetahuan-pengetahuan baru di lapangan.

2.3.8  Contoh Pembelajaran Kontekstual
Contoh pembelajaran kontekstual (Rumpun IPS):
Topik : fungsi pasar
Kompetensi dasar :   Siswa memahami fungsi dan memahami fungsi dan jenis pasar
Indikator hasil belajar :
-     Siswa dapat menjelaskan pengertian pasar
-     Siswa dapat menjelaskan jenis-jenis pasar
-     Siswa dapat menjelaskan perbedaan karakteristik pasar tradisional dan pasar modern
-     Siswa dapat menyimpulakan fungsi pasar
-          Siswa dapat membuat karangan terkait tenaga pasar.
Proses pembelajarannya
a. Pendahuluan
1)   Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai sisiwa dan pentingnya materi ajar dalam kehidupan ekonomi social.
2)   Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL
a)  Siswa dibagi kedalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah
b)  Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi kepasar tradisional dan pasar modern
c)  Melalui instrument observasi atau angket siswa diminta mencatat mengenai berbagai hal yang ditemukan dipasar.
3)   Guru melakukan tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan oleh siswa.

b. Kegiatan inti
Dilapangan
1)   Siswa melakukan observasi kepasar sesuai dengan pembagian tugas kelompok
2)   Siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan dipasar sesuai alat observasi ,angket yang telah mereka susun sebelumnya.
Didalam kelas
1)      Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing.
2)      Siswa melaporkan hasil diskusi
3)      Setiap kelompok saling menjawab  terhadap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lainya.
c. Penutup
1) Dipimpin oleh guru ,siswa menyimpulkan hasil observasi dan diskusi tentang fungsi dan jenis pasar sesuai dengan indicator belajr yang dicapai.
2) Guru menugaskan siswa untuk membuatkarangan tentang pengalaman belajar mereka dengan team”pasar”.



BAB III
PEMBAHASAN

3.1  Konstruksi Ideal
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pembelajaran merupakan kegiatan belajar mengajar berlangsung antara pendidik beserta peserta didik. Dalam berlangsungnya kegiatan pembelajaran ini diharapkan tujuan yang telah ditentukan dapat tercapai sesuai dengan harapan. Tujuan yang telah ditentukan dapat tercapai dengan baik apabila kegiatan pembelajaran telah dilaksanakan dengan baik pula.
Kegiatan pembelajaran bukan hanya sekedar kegiatan pemberian materi dari guru untuk peserta didik. Tetapi kegiatan pembelajaran memiliki makna yang lebih luas. Kegiatan pempelajaran harus disertai dengan strategi dalam pelaksanaannya. Hingga kini telah terdapat banyak metode pembelajaran yang telah diterapkan meskipun belum banyak sekolah yang menerapkannya dengan baik.
Metode pembelajaran yang dibahas kali ini yaitu pembelajaran Kuantum, pembelajaran Kompetensi dan juga Pembelajaran Kontekstual. Ketiga pembelajaran ini memiliki prinsip dan strategi yang berbeda namun pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu mencapai tujuan belajar yang ingin dicapai. Dalam pelaksanaan tipe pembelajaran apa pun, pendidik harus dapat memahami dengan baik dulu prinsip, stretegi, dan juga cara pelaksanaannya. Agar guru dapat memahami dengan baik inilah dibutuhkan bantuan-bantuan dari sekolah, lembaga pendidikan, dan tentunya inisiatif dari guru itu sendiri.

3.2  Deskripsi Masalah
Dalam dunia pendidikan pasti sering kali terjadi masalah masalah baik dari segi pendidik, anak didik, system pendidikan, maupun dari segi lembaga pendidikan itu sendiri. Suatu masalah yang terjadi dalam dunia pendidikan akan memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kondisi pendidikan di Indonesia.Tentu saja masalah yang terjadi ini memerlukan tindakan yang tepat dan juga nyata dari berbagai pihak untuk menanggulangi masalah ini agar tidak terulang kembali.
Sebagai seorang pendidik, selain memiliki tanggung jawab dalam menjalankan tugas penyampaian materi seorang guru juga memiliki tanggung jawab moral. Tanggung jawab moral seorang pendidik yaitu agar anak didik memiliki akhlak yang baik. Untuk mewujudkan tujuan tersebut pendidik perlu mencerminkan bagaimana akhlak yang baik itu agar anak didik dapat mencontoh dari pendidiknya. Namun terkadang dikarenakan seorang pendidik juga memiliki sifat egois, tanggung jawab yang seharusnya dijadikan prioritas justru diabaikan demi kepentingan pribadi.
Pendidik merupakan salah satu faktor penting dalam membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karen aitu pendidik dituntut untuk terus berkembang dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Namun masalah yang belum teratasi hingga kini yaitu metode pembelajaran guru yang belum banyak berkembang. Masih banyak guru yang terus menerus menggunakan metode ceramah tanpa strategi khusus dalam melakasanakan pembelajaran, padahal telah terdapat berbagai tipe pembelajaran yang telah berkembang. Banyak pendidik yang menuntut peserta didiknya untuk lebih kreatif dalam belajar, tuntutan ini seharusnya disertai dengan pendidik yang lebih dulu untun mencontohkan sikap kreatif. Hal ini dapat diwujudkan dengan cara menggunakan tipe pembelajaran yang tepat dalam menyampaikan materi sekolah.
Tindakan-tindakan diatas merupakan tindakan seorang pendidik yang mengabaikan tanggung jawabnya yang tentu saja tidak sesuai dengan fungsi pendidikan yaitu seorang pendidik harus dapat memimpin, membaur, dan juga mengawasi. Seorang pendidik yang melakukan tindakan tidak bertanggung jawab seperti ini dapat disebabkan oleh beberapa factor. Faktor-faktor ini dapat berupa adanya tekanan atau paksaan agar anak didiknya dapat mencapai standar nilai yag ditentukan, dapat pula disebabkan karena adanya hak pendidik yang tidak terpenuhi oleh sekolah sehingga dengan mudahnya mengabaikan tanggung jawabnya, kepemimpinan kepala sekolah yang kurang bijak juga dapat mempengaruhi tindakan tersebut.
Semua hal-hal diatas dapat menyebabkan rendahnya kinerja seorang pendidik di Indonesia dan juga memperburuk citra seorang pendidik. Sesuatu yang awalnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidkan karena kurangnya perhatian pemerintah dan kurangnya tanggung jawab dari  berbagai pihak justru menjadikan semakin rendahnya kualitas pendidikan di Iindonesia. Kualitas pendidikan sangat mempengaruhi kesejahteraan di suatu Negara karena semakin tinggi keberhasilan pendidikan semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan Negara.

3.3 Analisis Masalah
         Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dalam menjalankan kewajibannya seorang pendidik dipengaruhi berbagai factor. Dapat dilihat dalam kenyataannya sifat moral seorang pendidik memiliki citra yang semakin memburuk walaupun masih ada pendidik yang menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Terkadang orang-orang yang menjadi seorang pendidik hanya memiliki tujuan financial padahal seorang pendidik merupakan sebuah profesi yang sangat special. Dikatakan sangat special kerana profesi pendidik adalah profesi yang sengat mulia, hal ini disebabkan seorang pendidik memiliki amanah untuk membimbing anak didik baik dalam segi akademik maupun moral yang nantinya merupakan bekal utama dalam kehidupan dewasa peserta didik.
         Tidak dapat dipungkiri dalam menjalankan kewajibannya seorang pendidik dituntut untuk terus berkreatif. Hal ini disebabkan karena tuntutan zaman yang mengharuskan setiap negara terus berkembang disegala bidang termasuk bidang pendidikan. Untuk meningkatkan mutu pendidikan inilah tipe-tipe pembelajaran terus dikembangkan. Namun dalam kenyataannya masih banyak sekolah di indonesia yang masih menyepelekan mengenai penggunaan tipe pembelajaran. Salah satu contohnya yaitu kasus disalah satu Sekolah Dasar di Jakarta dimana para pendidiknya hanya bertumpu pada buku dari penerbit tanpa menggunakan memperhatikan metode pembelajaran yang dibutuhkan para peserta didiknya. Hal ini dapat memberikan berbagai pengaruh negative terhadap pendidik maupun peserta didik. Peserta didik beserta pendidik menjadi kurang kreatif dalam belajar karena sumber belajar yang digunakan hanya satu buku yaitu buku dari penerbit. Dampak lainnya yaitu pengetahuan dari peserta didik yang tidak akan berkembang, padahal sebagai penerus bangsa peserta didik dituntut untuk memiliki pengetahuan yang luas mengenai berbagai hal.
         Tindakan pendidik yang seperti ini sangatlah merugikan, bukan hanya merugikan untuk para peserta didik tetapi juga dapat merugikan sekolah bahkan negara. Dengan penggunaan tipe pembelajaran yang hanya bertumpu pada satu buku dapat menyebabkan murid kurang berkembang dan berdampak pada standar sekolah yang tidak dapat meningkat atau bahkan dapat terjadi penurunan standar sekolah. Dari penurunan standar sekolah inilah mutu pendidikan secara nasional pun dapat mengalami penurunan pula. Padahal peserta didik merupakan harapan bangsa dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia.
Telah terdapat berbagai tipe pembelajaran yang dapat diterapkan pendidik dalam mengajar. Setiap tipe memiliki kelebihan dan kelemahan yang perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah dan peserta didik. Oleh karena itu pendidik seharusnya dapat lebih meningkatkan inisiatif untuk lebih mengembangkan pengetahuan akan tipe-tipe pembelajaran.
Kasus :
Pelajaran Bahasa Inggris Di SD Perlu Perbaikan
Pendidikan bahasa Inggris yang diperkenalkan di jenjang sekolah dasar (SD), sebagai salah satu muatan lokal, di banyak sekolah diajarkan dengan asal-asalan.
Pembelajaran bahasa Inggris kepada siswa SD, belum didasarkan pada acuan yang jelas dan penyiapan guru yang tepat.
“Pendidikan bahasa Inggris di SD saat ini justru semakin salah kaprah. Para guru tidak dilatih secara serius, untuk jadi pengajar bahasa inggris bagi siswa SD. Akibatnya, para guru terjebak memakai buku bahasa Inggris dari penerbit. Akibatnya tujuan pembelajaran bahasa Inggris di SD melenceng dari tujuannya, sehingga pendidikan bahasa itu di SD dianggap sebagai beban,” kata Itje Chodijah, pendidik dan pelatih guru bahasa Inggris nasional, di Jakarta.
Penyediaan guru bahasa Inggris di berbagai sekolah bervariasi. Ada yang menyerahkan kepada guru kelas, tanpa menyediakan pelatihan yang memadai kepada pengajar. Ada juga yang menyediakan guru honor dari sarjana bahasa Inggris.
Itje menjelaskan, pendidikan bahasa Inggris di tingkat SD dikembangkan sebagai salah satu pilihan muatan lokal pada 1994. Sesuai panduan dari pemerintah, pendidikan bahasa Inggris bisa boleh dilakukan mulai kelas empat SD, dan ada pengajar yang memadai. Namun, panduan ini mulai diabaikan.
Pembelajaran bahasa Inggris di SD semakin dimulai di kelas bawah, yang sebenarnya siswa masih harus berjuang untuk memantapkan penguasaan berkomuniaksi yang baik dan benar dalam bahasa Indonesia.
Pendidikan bahasa Inggris di SD ini sederhana, mudah, dan menyenangkan, untuk memupuk kesenangan siswa, dan menyadari ada bahasa asing sebagai alternatif berkomunikasi.
“Karena guru tidak pernah disiapkan dan dilatih bagaimana mengajarkan bahasa Inggris bagi siswa SD, orientasinya tetap pada tes. Ini terjadi di banyak daerah, karena menganggap sekolah yang mengajarkan bahasa inggris bakal diminati. Nyatanya, memang pembelajaran bahasa inggris ini jadi gengsi untuk sekolah,” kata Itje, yang mengambil master di bidang English For Young Learner (EYL) di Inggris.
Itje menilai, pendidikan bahasa Inggris untuk SD belum terlaksana dengan baik. Praktik di dalam kelas lebih mengikuti materi di dalam buku teks yang digunakan, dan mengindahkan persyaratan pembeljaran bahasa Inggris yang seharusnya.
“Tes sering jadi tujuan utama dalam pengajaran bahasa Inggris. Banyak guru yang mengutamakan tes dalam proses pembelajaran,” kata Itje.
Meskipun bahasa Inggris di SD sebagai muatan lokal, kata Itje, pemerintah perlu membenahi dan memberikan acuan yang jelas.






BAB IV
PENUTUP

4.1      KESIMPULAN
Pembelajaran kuantum merupakan sebuah falsafah dan metodologi pembelajaran yang umum yang dapat diterapkan baik di dalam lingkungan bisnis, lingkungan rumah, lingkungan perusahanan, maupun di dalam lingkungan sekolah (pengajaran). Secara konseptual, falsafah dan metodologi pembelajaran kuantum membawa angin segar bagi dunia pembelajaran di Indonesia sebab karakteristik, prinsip-prinsip, dan pandangan-pandangannya jauh lebih menyegarkan daripada falsafah dan metodologi pembelajaran yang sudah ada (yang dominan watak behavioristis dan rasionalisme Cartesiannya). Meskipun demikian, secara nyata, keterandalan dan kebaikan falsafah dan metodologi pembelajaran kuantum ini masih perlu diuji dan dikaji lebih lanjut.
Pembelajaran kompetensi menunjukan pada usaha siswa mempelajari bahan pelajaran sebagai akibat perlakuan guru dalam mengelola pembelajaran yang menekankan pada kemampuan dasar yang dilakukan siswa pada tahap pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Pembelajaran kompetensi menekankan pencapaian standar kompetensi yang diurai menjadi kemampuan dasar yang diurai menjadi beberapa materi pelajaran yang cakupannya beberapa indikator.
Model pembelajaran CTL ,dapat membantu meningkatkan hasil belajar karena strategi CTL ini lebih memfokuskan pada pemahaman serta menekankan pada pengembangan minat pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya sekedar hafalan saja.Sehingga dengan strategi CTL ini siswa diharapkan dapat berfikir kritis dan terampil dalam memproses pengetahuan agar dapat menemukan dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.Sehinnga pembelajaran dengan menggunakan strategi CTL ini pembelajaran akan lebih produktif dan bermakna.
4.2      SARAN
Telah terdapat berbagai tipe pembelajaran yang dapat diterapkan pendidik dalam mengajar. Setiap tipe memiliki kelebihan dan kelemahan yang perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah dan peserta didik. Oleh karena itu pendidik seharusnya dapat lebih meningkatkan inisiatif untuk lebih mengembangkan pengetahuan akan tipe-tipe pembelajaran.



DAFTAR PUSTAKA

DePorter, Bobbi dan Mike Hernacki. 1999. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Penerbit KAIFA.
DePorter, Bobbi dan Mike Hernacki. 2000. Quantum Business: Membiasakan Bisnis secara Etis dan Sehat. Bandung: Penerbit KAIFA.
DePorter, Bobbi, Mark Reardon, dan Sarah Singer-Nourie. 2001. Quantum Teaching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas. Bandung: Penerbit KAIFA.
Dryden, Gordon dan Jeanette Vos. 1999. The Learning Revolution: To Change the Way the World Learns. Selandia Baru: The Learning Web.
Giddens, Anthony. 2001. Runway World. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
Meier, Dave. 2000. The Accelerated Learning Handbook. New York: McGraw-Hill.
Silberman, Melvin L. 1996. Active Learning: 101 Step to Teach Any Subject. Massachusetts: A Simon and Schuster Company.
Depdiknas. Direktorat Pembinaan SMA. 2009. Pengembangan Pembelajaran Yang Efektif. Jakarta: Bahan Bimbingan Teknis KTSP..
Ibrahim R, Syaodih S Nana. 2003. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana, Nana. 1989. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Riyanto, Yatim. 2010. Paradigma Baru Pembelajaran, Sebagai Referensi bagi Pendidik dalam Impelementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas. (Cet. II). Jakarta: Kencana.

Sagala, Syaiful. 2009. Konsep dan Makna Pembelajaran. (Cet. VII). Bandung: Alfabeta.

Sumiati dan Asra. 2009. Metode Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima.

Suprijono, Agus. 2011. Cooperatif Learning, Teori dan Aplikasi PAIKEM. (Cet. V). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Susdiyanto, Saat, dan Ahmad. 2009. Strategi Pembelajaran. (Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru). Makassar: Panitia Sertfikasi Guru Agama Rayon LPTK Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar.