Selamat Datang Di Tugas Kuliahku, jika butuh softcopy, Silahkan email ke jhonmiduk8@gmail.com. Mohon donasi pulsa ke 081210668660 Untuk Kemajuan Blog, Terimakasih. JOKOWI “REPRESENTASI” PEMIMPIN MASA KINI | Tugas Kuliahku

JOKOWI “REPRESENTASI” PEMIMPIN MASA KINI

                                      Oleh : Jhon Miduk Sitorus
Pernahkan anda melihat seorang Gubernur atau walikota atau Presiden turun ke pasar tradisional tanpa pengawalan yang ketat hanya untuk bertemu dan sekedar bersapa dan bersalam tangan?, pernahkah anda melihat seorang pemimpin yang langsung turun ke Got-Got untuk memberikan instruksi agar anak buah bisa bekerja dengan semangat?, pernahkah anda melihat pemimpin yang rela basah-basahan dan berlumpur-lumpur hanya untuk mendengar aspirasi rakyatnya? Pernahkan anda melihat pemimpin yang diikuti oleh ratusan ribu rakyatnya ketika sedang “blusukan” sehingga rakyat sangat dekat bahkan untuk “mencubit” wajahnya saja rakyat menjadi tidak segan? Ya, itulah pemimpin masa kini, Joko Widodo. Pria yang berasal dari keluarga miskin di Surakarta, Solo. Memang sudah ada banyak yang merepresentasikan pemimpin yang sebenarnya, misalnya Yesus Kristus, Muhammad, Mahatma Ghandi, Nelson Mandela, Fidel Castro, dan lain-lain. tetapi kondisi    
sekarang menggambarkan betapa sedikitnya pemimpin yang benar-benar memiliki jiwa kepemimpinan.
            Ketika Indonesia merdeka, orang-orang mengenal Bung Karno yang dikenal sebagai seorang proklamator dan pemimpin yang “ulung”, karena kehebatannya menentang penjajah dan pidato yang berapi-api sekalipun di mahkamah Internasional. Setelah itu ada Soeharto yang dinilai bisa memajukan pembangunan Indonesia sehingga disebut sebagai bapak pembangunan meski kasus korupsi melekat di dalam dirinya dan keluarganya. Demikian hingga kepresidenan SBY yang dinilai terlalu sopan dan lemah untuk kegiatan luar negeri meski berhasil membuat pertumbuhan ekonomi diatas 5% pertahunnya.  Selama itu pula, rakyat berpersepsi bahwa pemimpin itu sangat terhormat, pemimpin itu tidak boleh sembarangan untuk bersalaman apalagi dengan rakyat kalangan bawah, pemimpin itu harus memiliki latar keluarga yang pernah menjadi pemimpin, pemimpin itu harus berasal dari keluarga ekonomi kelas atas. Hal ini justru membuat kesenjagan yang sangat luar biasa antara pemimpin dengan rakyat karena persepsi rakyat tentang pemimpin diatas. Kejadian diatas wajar terjadi karena pemimpin-pemimpin Negara ini belum ada yang benar-benar memiliki jiwa kepemimpinan. Mereka bahkan lebih layak disebut sebagai seorang “manager” dimana mereka hanya lebih banyak memberi instruksi kepada bawahan tanpa melihat langsung kondisi lapangan seperti apa. mereka bisa membangun beribu konsep kepemimpinan yang luar biasa hebatnya, tetap tidak mampu untuk benar-benar menjadi pemimpin yang memiliki jiwa kepemimpinan.
            Para pemimpin era SBY ke belakang cenderung memiliki pemikiran bahwa pemimpin itu harus tegas. Ya benar tegas, tetapi mereka justru salah untuk mengartikan tegas itu seperti apa. mereka banyak yang mengartikan tegas itu harus bersuara keras, tubuh yang kekar, tegap, pandangan yang tajam, disegani orang, dan lain-lain. hal ini justru membuat masyarakat bawah menaruh hormat yang berlebih kepada sang pemimpin. Rakyat hanya bisa melihat pemimpinnya dari jauh, meskipun sedang berkunjung ke suatu tempat, rakyat tetap tidak bisa untuk bersalaman sekalipun karena pemahaman yang salah sebagai seorang pemimpin ini.
            Era sekarang ini, beruntung Tuhan memberikan kita seorang pemimpin yang benar-benar jauh berbeda dari pemimpin yang biasa kita kenal selama ini. Ya, beliau adalah Joko Widodo yang dulu merupakan keluarga yang pernah digusur sebanyak 3 kali, tinggal di bantaran kali, dan hidup pas-pasan. Badannya yang kurus memang seakan tidak mempresentasikan sebagai seorang pemimpin, wajahnya yang tidak rupawan juga tidak menggambarkan sosok seorang presiden. Pakaiannya juga yang sering memakai baju kemeja putih atau kotak-kota, celana bahan sederhana, dan sepatu gaul anak muda seakan membuat orang yang baru mengenal Joko Widodo agak kaget. Pernah saya membaca di media jika harga seluruh pakaian yang dikenakana oleh pria yang akrab dipanggil Jokowi ini hanya sekitar Rp 300.000,00 an. Bandingkan dengan pengacara mewah dan kondang Hotman Paris Hutapea, dasinya saja sudah bernilai 20 jutaan.
            Bagaimana dengan rakyatnya? Apakah mereka menjadi malu dengan sosok pemimpin yang seperti Jokowi?  Faktanya, rakyat justru menginginkan sosoknya. Jokowi begitu dekat dengan rakyat. Jokowi membuat metode untuk mencari masalah, metode itu sangat sederhana bahkan pernah dilakukan oleh semua orang. Ya, namanya “Blusukan”, dimana Jokowi berkunjung ke tempat-tempat masyrakat untuk melaksankan aktivitas. Setali tiga uang, Jokowi bisa dengan cepat bisa memahami permasalahan yang sebenarnya ada di lapangan, jokowi bisa melakukan perencanaan dan pelaksaan program 10 kali lebih cepat dari pemimpin biasanya, dan yang paling beda, Jokowi bisa bersalaman secara langsung dengan rakyat yang ada. Dimana ada Jokowi Blusukan, disitu ribuan rakyat mengelu-elukan namnya. Sederhana tetapi berkesan. Itulah kesan yang paling cocok dengan kedekatan Joko Widodo dengan rakyatnya. Jauh sebelum dia menjadi calon presiden, dia telah dikenal oleh banyak orang di seluruh Indonesia.

            Bicara soal ketegasan, persepsi orang-orang terhadap pemimpin yang tegas semakin berubah menjadi yang seharusnya. Dimana masyarakat dan pemimpin lazim mengungkapkan ketegasan itu harus berasal dari background Militer, bersuara Lantang, bertubuh kekar, berwajah rupawan, keluarga yang terpandang, lama kelamaan akan bergeser menjadi “pemimpin yang tegas itu adalah pemimpin yang mampu melaksanakan visi dan misinya secara tepat dan sampai ke sasaran dengan cara yang efektif dan efesien”. Cara yang terakhir tentu dilakukan oleh Jokowi, memang masih banyak orang yang meragukan kemampuannya bahkan menghujat disana-sini dengan melakukan “kampanye hitam” yang terencana. Tetapi “Pemimpin Krempeng” ini lebih memilih diam dan membalas dengan kinerja-kinerja dan berbagai program-program yang dituangkan kedalam visi dan misi. Sebuah hal yang membuat saya terharu adalah ketika  Jokowi mengatakan “Kejahatan itu jangan dibalas dengan kejahatan, tetapi balaslah kebaikan”. Luar biasa sekali, tidak ada orang yang berjiwa besar untuk mengatakan kata-kata seperti ini. Hanya beberapa tokoh yang pernah mengucapkan dan mengajarkan kata-kata seperti itu seperti Yesus Kristus, Martin Luther, Nommensen, dan Marthin Luther King. Atas kepemimpinannya tersebut, berbagai penghargaan pernah diterimanya, dia pernah beberapa kali dalam jajaran pemimpin terbaik dunia versi beberapa majalah terkenal di Dunia. Bahkan tahun 2012, Jokowi masuk dalam nomor 3 dari 25 pemimpin terbaik di Dunia. Tidak terbantahkan, sebuah kerja keras yang jujur, sungguh-sungguh ingin membangun rakyatnya dibayar lunas dengan berbagai penghargaan tingkat internasional. Penghargaan itu sebenarnya masih sangat kurang. Dahaga rakyat seperti terpuaskan dimana Jokowi berada. Tidak ada tokoh Indonesia yang pernah menjadi “trending topic” internasional kecuali namanya “Joko Widodo”. Tercata dari tahun 2012 hingga sekarang, nama “Joko Widodo” menjadi trending topic di dunia maya, seperti Facebook, Twitter, bahkan di mesin pencari ternama seperti Google dan Yahoo.

            Tuhan memang maha adil, memberikan sosok pemimpin yang berkarakter pemimpin disaat para pemimpin di Indonesia mengalami krisis kempemimpinan yang luar biasa. Tuhan memberikan pemimpin yang benar-benar berbeda dari pemimpin yang biasanya dimimpikan oleh rakyat, yang biasanya berasal dari kalangan terhormat, kini berasal dari kalangan bawah. Sosok pemimpin yang sederhana, jujur, bukan rupawan, namun senyumnya seakan membuat semua dahaga kemiskinan akan tertuntaskan dengan cepat. Semoga pak Jokowi bisa meneruskan kebiasaannya untuk selalu dekat dihati rakyat, tegas namun kerperikemanusiaan, jujur, adil, sehingga rakyat akan keluar dari belenggu rantai kemiskinan, kebodohan, kesengsaraan, dan keterbelakangan.