Latar Belakang Pemberontakan Macan Tamil
![]() |
Para Petinggi Liberation Tigers of Tamil Eelam (Macan Tamil). Tampak ditengah sang pemimpin Velupellai Prabhakaran. |
Akar
konflik modern selama seperempat abad lebih di Sri Lanka telah jauh ada pada masa pendudukan Portugis, Belanda, dan
kemudian Inggris, saat mereka
menguasai wilayah Sri Lanka atau sebelumnya bernama Ceylon.
Di
pulau itu sejak lama memang terdapat warga etnis Sinhala, warga etnis Tamil,
dan warga Moor dalam jumlah yang
kecil. Ketiga kelompok etnis itu datang dari daratan India sehingga cukup kuat dipengaruhi etnis-etnis induknya di India. Persengketaan antar kelompok
etnis itu pun sudah sejak lama ada di India sehingga ikut juga menjalar ke Ceylon. Kerajaan-kerajaan yang berdiri
mewakili kelompok etnis Sinhala dan
kelompok etnis Tamil sering saling
serang untuk mendapatkan wilayah kekuasaan yang lebih luas.
Akar
konflik mulai membesar ketika Inggris
membangun kawasan-kawasan perkebunan teh, karet, tebu, dan kayu manis di
kawasan perbukitan di tengah pulau Ceylon
itu, yang dibarengi dengan didatangkannya para pekerja dari Tamil Nadu, India bagian selatan.
Kedatangan warga Tamil India itu
mengubah komposisi penduduk di Ceylon,
dimana populasi warga Tamil meningkat pesat menjadi sekitar 10 persen dari seluruh populasi di Ceylon.
Warga Tamil sejak
lama memang sudah ada di bagian utara dan
timur Ceylon, tetapi sebelumnya
jumlah mereka relatif sedikit. Kedatangan warga Tamil dari Nadu yang memeluk Hindu itu membuat warga Sinhala merasa terancam, apalagi
penjajah Inggris kemudian memberikan
tempat yang lebih baik untuk mereka, karena mereka dikenal sebagai pekerja
keras yang tak banyak menuntut.
Inggris
yang berusaha memperkenalkan demokrasi di Sri
Lanka menyejajarkan kelompok etnis Tamil dengan kelompok etnis Sinhala dan
kelompok etnis minoritas lainnya. Pada awalnya para pemimpil Tamil dan Sinhala
bisa saling bekerja sama untuk mewujudkan otonomi lebih besar dengan membentuk Kongres National Ceylon. Namun kedua
kelompok ini kemudian pecah karena para pemimpin Tamil menolak posisi mereka
diminoritaskan dalam Kongres National
Ceylon. Di sisi lain, sejumlah pemimpin Sinhala pun tidak puas hanya dengan
mendapatkan otonomi lebih besar, dan menginginkan kemerdekaan bagi Ceylon. Perjuangan
warga Sinhala itu dipelopori beberapa tokoh, antara lain Junius Richard Jayawardane, Don
Stephen Senayake, dan Solomon
Bandarnaike.
![]() |
D.S. Sinnayake, Perdana Menteri Sri Lanka Pertama |
Kerusuhan
antara kelompok etnis Sinhala dan
kelompok etnis Tamil pecah pada 1939
ketika pimpinan warga tamil yang diwadahi dalam partai kongres Tamil dipegang
oleh G.G. Ponnambalam. Ponnambalam
yang menolak identitas Ceylon dan memperjuangkan identitas sendiri bagi warga
tamil meminta jumlah kursi di parlemen yang sama dengan jumlah kursi warga
Sinhala. Padahal, pada tahun 1931, populasi warga Tamil di Ceylon hanyalah 15 persen dari keseluruhan populasi
Ceylon, sedangkan populasi warga Sinhala adalah 72 persen dari keseluruhan
populasi. Tuntutan Ponnambalam itu pun ditolak otoritas penjajah Inggris, yang
ingin menjadikan Ceylon sebagai negara demokratis dengan melampaui sentimen-sentimen
etnis.
Untuk
semakin memfokuskan upaya mendapatkan kemerdekaan, Sennayake pada tahun 1946
mendirikan Partai Persatuan Nasional
atau United National Party (UNP) yang
nasionalis dengan didukung Pemerintah Inggris. Ketika pemilihan umum
diselenggarakan pada 1947, Partai Persatuan Nasional hanya memenangi minoritas
kursi di parlemen sehingga harus membentuk pemerintahan koalisi dengan partai Sinhala Maha Sabha pimpinan Solomon Bandaranaike, dan Partai Kongres Tamil yang dipimpin oleh
Ponnambalam.
Pemerintah
penjajah Inggris yang melihat adanya “pemerintahan
persatuan” di Ceylon akhirnya memberikan kemerdekaan pada 4 Februari 1948. Sennayake menjadi perdana menteri pertama Sri Lanka. Hingga akhir hayatnya pada tahun
1952, Sennayake berusaha menghindarkan terjadinya konflik antara warga Sinhala
dan warga Tamil.
Ketika
Partai Persatuan Nasional dikalahkan pada Pemilu 1956 oleh Mahajana Eksath Peramuna, yang didalamnya merupakan koalisi Partai Kemerdekaan Sri Lanka (Sri Lanka
Freedom Party) pimpinan Solomon
Bandaranaike dan Partai Viplavakari
Lanka Sama Samaja pimpinan Philiph
Gunawardana, hubungan antara Sinhala dan Tamil pun mulai berubah.
![]() |
Solomon Bandaranaike |
Solomon
Bandaranaike yang kemudian diangkan menjadi perdana menteri mengambil langkah drastis
pada 1956, melalui apa yang disebut “Sinhala Only Act” dengan alasan untuk
semakin “membedakan” pemerintahan Sri Lanka dari penjajah mereka dahulu,
Inggris. Kebijakan itu menjadikan Sinhala sebagai satu-satunya bahasa resmi di
Ceylon. Akibatnya, banyak warga Tamil yang semula bekerja di pemerintahan
dipaksan mengundurkan diri Karena tidak memenuhi syarat bisa berbahasa Sinhala.
Solomon Bandaranaike pun mendorong berbagai program lain untuk mengangkat
kedudukan warga Sinhala dan pemeluk Buddha.
Keputusan
itu langsung disambut aksi protes para anggota parlemen dari kelompok etnis
Tamil, yang kemudian meluas menjadi aksi kerusuhan warga Tamil di Sri Lanka. Sebaliknya,
warga Sri Lanka yang diuntungkan oleh kebijakan Bandaranaike itu juga bangkit
membela pemerintahannya dengan melancarkan gerakan anti-Tamil. Lebih dari 100
warga Tamil tewas ketika itu.
Aksi-aksi
perlawanan terus dilakukan warga minoritas Tamil yang sejak lama menghuni
kawasan dibagian utara dan timur pula Ceylon itu, tetapi kemudian dijawab
dengan aksi yang lebih keras dari pemerintah Sinhala yang berkuasa. Kerusuhan berbagu
etnis pun pecah pada 1958, menewaskan sedikitnya 200 warga Tamil dan membuat
ribuan warga Tamil lainnya terpaksa mengungsi.
Suhu
politik di Ceylon semakin panas dengan dibunuhnya Perdana Menteri Bandaranaike
pada tahun 1959 oleh seseorang pendeta Buddha. Janda Bandaranaike, Srimavo,
kemudian menjadi perdana menteri dan meneruskan program nasionalisasi, yang
membuat warga Tamil kian tersudut karena kehilangan sejumlah “keistimewaan”
yang semula mereka peroleh sebagai warisan dari penjajah Inggris.
Tamil Eelam
Tak lama setelah nasionalisasi
perusahaan minyak oleh pemerintah Ceylon. Pada tahun 1963 dokumen yang mulai menyebut
pemisahan wilayah bagi warga Tamil, dengan sebutan negara “Tamil Eelam”, mulai
tersebar. Pada saat itu, Anton Balasingham, seorang karwayan Komisi Tinggi
Inggris di Kolombo, mulai terlibat dalam aktivitas separatisme. Dia lalu
berimigrasi ke Inggris, dimana dia kemudian menjadi “otak” dari Macan
pembebasan Tamil Eelam atau LTTE.
![]() |
Velupillai Prabhakaran Muda |
Pada
akhir 1960-an, sejumlah pemuda Tamil, termasuk diantaranya Velupillai
Prabhakaran, terlibat dalam aktivitas-aktivitas demonstrasi warga Tamil. Mereka
kemudian membentuk Macan Tamil Baru atau Tamil New Tiger (TNT) pada 1972, yang
lebih berdasarkan ideologi berbasis ras dengan mengambil inspirasi dari millennium
pertama kekaisaran Chola, kerajaan yang menjadi simbol kejayaan Tamil pada masa
lalu. Simbol Macan yang digunakan pun diambil dari emblem kekaisaran tersebut.
Pergantian
nama Ceylon menjadi Sri Lanka pada 1972 oleh Perdana Menteri (PM) Sirimavo
Bandaranaike, dan ditetapkannya agama Buddha sebagai agama resmi negara, semakin
meminoritaskan warga Tamil. Ibarat bola salju, gerakan warga Tamil Ceylon itu
pun semakin besar.
Di
luar Sri Lanka, Organisasi Mahasiswa Revolusioner Eelam dibentuk di Manchester
dan London, Inggris yang kemudian menjadi tulang punggung gerakan Eelam di
seluruh dunia. Mereka menyiapkan paspor dan lapangan pekerjaan bagi Imigran
Tamil, tentu dengan imbalan membayar “biaya” yang besar kepada mereka. Gerakan
mereka menjadi basis dari organisasi logistic gerakan Eelam, yang belakangan
diambil alih sepenuhnya oleh Macan Pembebasan Tamil Eelam.
![]() |
Logo resmi LTTE (Macan Tamil) |
Pembentukan
Front Persatuan Pembebasan Tamil atau Tamil united Liberation Front (TULF) pada
1957 dengan resolusi Vaddukkodei (Vattukottai) semakin memperkeras sifat
perjuangan warga Tamil Sri Lanka. Front Persatuan Pembebasan Tamil mendukung
gerakan-gerakan bersenjata yang dilakukan para pemuda militant Macan tamil
Baru.
Kemenangan
mutlak partai oposisi Partai Persatuan Nasional pada pemilihan umum 1977
menjadikan Front Persatuan Pembebasan Tamil sebagai partai oposisi utama,
dengan mendapatkan dukungan suara sekitar seperenam dari seluruh jumlah
pemilih. Front Persatuan Pembebasan Tamil ketika itu menjadikan pemisahan diri
dari Sri Lanka menjadi flattfrom kampanyenya. Akan tetapi, Front Persatuan
Pembebasan Tamil dan para pemimpin Tamil aggal mewujudkan janji-janji kampanye
untuk pemisahan diri Tamil dari Sri Lanka sehingga mereka pun teralienasi dari
warga Tamil pada umumnya.
Konflik
politik di Sri Lanka yang berkelanjutan membuat generasi muda Tamil yang sangat
sadar politik di wilayah timur dan utara Sri Lanka mulai membentuk
kelompok-kelompok militant. Kelompok-kelompok ini berkembang terpisah dari
kepemimpinan Tamil di Kolombo, dan pada akhirnya bahkan menolak dan bertekad
menghabisi para pemimpin Tamil yang mereka anggap menghianati aspirasi warga
tamil itu.
Kelompok
paling terkemuka dari kelompok-kelompok militan itu adalah Macan Tamil Baru
yang kemudian beralih nama menjadi Macan Pembebasan Tamil Eelam (LTEE) pada
1976. Pada awalnya kelompok ini menggelar kegiatan-kegiatan kekerasan terhadap
aparatur-aparatur negara, khususnya dengan menjadikan anggota polisi dan
politisi Tamil moderat yang berusaha berdialog dengan pemerintah sebagai target
serangan. Operasi besar pertama mereka adalah membunuh Wali Kota Jaffna Alfed
Duraiappah pada 1975 oleh Prabhakaran.
Operasi
pembunuhan tokoh-tokoh politik menjadi modus operasi pembunuhan tookoh-tokoh
politik menjadi modus operasi awal Macan Tamil, yang tidak jarang dilakukan
langsung oleh pemimpinnya, Prabhakaran. Hal itu, misalnya, terjadi ketika
dilakukan operasi pembunuhan terhadap seorang anggota parlemen Tamil, M.
Canagaratnam, pada 1977.
Terbakarnya
sebuah perpustakaan publik di Jaffna pada 1981, yang dituduh dilakukan oleh
polisi-polisi Sinhala, membuat warga Tamil semakin berang. Pada Juli 1983,
Macan Tamil melancarkan serangan mematikan ke sebuah konvoi militer di utara
Sri Lanka, yang menewaskan 13 prajurit.
Presiden
Jayawardane dengan membangkitkan sentiment nasionalisme kemudian menggerakkan
operasi anti Tamil di Kolombo, yang menyebabkan tewasnya ratusan warga Tamil. Empat
ratus sampai 3.000 warga Tamil diperkirakan tewas pada peristiwa yang disebut “Juli
Hitam” itu, yang kemudian menjadi awal apa yang disebuat Macan Tamil sebagai “Perang
Eelam Pertama”. Perang Eelam pertama menandai dimulainya pemberontakan Macan
Tamil yang berbuntut panjang hingga tahun 2009.
Daftar
Pusatka
Sukarjaputra,
Yoki Raka. 2010. Auman Terakhir Macan Tamil, Perang Sipil Sri Lanka 1976-2009.
Jakarta : Kompas Gramedia Nusantara.
Situs Resmi Departemen
Pertahanan Sri Lanka (http://www.defence.lk)
Situs
Kampanye Kelompok Macan Pembebasan Tamil Eelam : Tamilnation.org
(http://tamilnation.org)
Situs Khusus Operasi
Wanni (http://wannioperation.com)
Ditulis oleh : Jhon
Miduk Sitorus
0 Response to "Latar Belakang Pemberontakan Macan Tamil"
Posting Komentar
Termimakasih buat partisipasinya ya :)