Selamat Datang Di Tugas Kuliahku, jika butuh softcopy, Silahkan email ke jhonmiduk8@gmail.com. Mohon donasi pulsa ke 081210668660 Untuk Kemajuan Blog, Terimakasih. FAKTA UNIK PILPRES 2014 | Tugas Kuliahku

FAKTA UNIK PILPRES 2014


            Pemilihan Presiden Indonesia telah resmi dilakukan dan menghasilkan presiden kita yang baru, tepat diresmikan oleh Ketua KPU Husni Kamil Malik, Joko Widodo sebagai presiden Indonesia untuk periode 2014-2019. Ada banyak fakta dan keragaman yang sangat menarik sepanjang pencalonan, kampanye, proses pemilihan hingga pasca penetapan hasil oleh KPU pada tanggal 22 Juli 2014. Partisipasi masyarakat menjadi perubahan yang paling signifikan dalam pilpres kali ini.
Didalangi oleh 2  capres/cawapres, Prabowo - Hatta (nomor urut 1) dan capres/Cawapres nomor urut 2 Joko Widodo-Jusuf kalla, menghasilkan rivalitas yang sangat terasa selama masa kampanye hingga pasca kampanye. Kubu 1 menyebut diri mereka sebagai koalisi merah putih yang kemudian dideklarasikan menjadi koalisi permanen, sedangkan kubu 2 menyebutkan mereka sebagai koalisi rakyat. Masing-masing calon ini boleh dikatakan saling bertolak belakang karena berbagai latar belakang masing-masing calon. Berikut beberapa hal-hal unik yang menjadi fakta selama Pilpres 2014 di Indonesia :
1.      Kalangan Atas vs Kalangan Bawah
Pilpres kali ini seperti sebuah perlawanan yang baru. Calon nomor urut 1 diidentikkan dengan latar belakang yang berasal dari kaum pemerintah yang sedang berkuasa. Prabowo yang berasal dari militer, ayahnya  menteri rezim Soeharto begitu juga dengan kakeknya merupakan bangsawan, wakilnya Hatta-Rajasa merupakan menteri selama 10 tahun pemerintahan SBY, dan merupakan besan Presiden SBY juga. Sedangkan pasangan nomor urut 2 lebih mempresentasikan bahwa mereka berasal dari kalangan masyarakat bawah. Joko Widodo dalam sejarahnya adalah orang yang berasal dari keluarga miskin, pernah tinggal dibantaran kali dan digusur oleh pemerintah yang berkuasa saat itu. Jusuf Kalla memang merupakan keluarga pengusaha, tetapi timsesnya seperti Anies Baswedan, Dahlan Iskan, Luhut Panjaitan, dan lain-lain merupakan tokoh-tokoh yang dulu semasa kecilnya berasal dari keluarga miskin dan teramat miskin.

2.      Kuda vs Sepeda
Salah satu hal yang paling berbanding terbalik, yaitu sarana mobilisasi yang digunakan untuk kampanye dan kunjungan ke beberapa daerah. Jika Prabowo ingin kelihatan lebih gagah dengan menunggang “kuda” untuk beberapa acara kampanye, menggunakan mobil mewah jenis Fortuner untuk kampanye, calon nomor urut 2 justru menggunakan transportasi yang sangat berbeda dari kebiasaan calon presiden. Jokowi-JK kampanye menggunakan Jalan kaki agar bisa bersalaman dan bersapa ria dengan rakyat pendukungnya, terkadang menggunakan sepeda dan jikapun menggunakan mobil untuk kampanye, Jokowi-JK hanya menggunakan mobil pribadi Kijang Innova ( mobil standard untuk rakyat Indonesia). Ketika kampanye ke pulau yang lain, Jokowi bahkan rela menumpang di pesawat kelas “ekonomi”. Sangat sederhana bukan?
3.      Popularitas vs Blusukan
Dalam hal ini, Pasangan nomor urut 1 lebih mengandalkan popularitasnya sebagai calon Presiden. Prabowo telah lama berkampanye sejak tahun 2007 dengan partainya yang berlambang garuda merah. Entah berapa milyard dana yang dihabiskan untuk kampanye di banyak media di Indonesia. Sementara Jokowi secara natural menjadi terkenal karena kebiasaannya blusukan ke tempat-tempat yang menjadi permasalahan umum masyarakat. Blusukan memang popular dengan era Jokowi, rakyat semakin merasa dekat dengan pemimpinnya yang mau bersalaman dengan kalangan manapun. Jokowi blusukan bukan hanya karena ketika pencapresan, tetapi blusukan memang sudah menjadi kebiasaan dan strategi Joko Widodo agar bisa secara cepat untuk mengetahui masalah serta penyelesaiannya agar dapat dilakukan sefektif dan seefesien mungkin.
4.      Mantan ABRI vs Mantan Gubernur
Prabowo subianto dikenal masyarakat banyak karena jabatannya yang hebat ketika masih menyandang status ABRI, dan masuk kedalam pasukan elite terbaik di Indonesia “KOPASSUS”. Prabowo bahkan pernah menyandang jabatan strategis seperti Danjen Kopassus, Kostrad AD, dan lain-lain. Namun, sayang namanya tercoreng dan diragukan oleh rakyat banyak karena namanya terkait dengan masalah HAM dan penculikan mahasiswa tahun 1998 ditambah lagi dengan statusnya sebagai menantu presiden Terkorup di dunia “Soeharto” menjadi beban masa lalu yang sepertinya tidak akan bisa dibersihkan oleh Prabowo. Jokowi datang dengan status Gubernur Aktif DKI Jakarta dimana dia masih baru menjabat 2 tahun. Banyak bukti yang bisa diberikan sebagai alasan tepat untuk mendukung sebagai capres. Kota Solo yang menjadi makin tertata, pembangunan di DKI Jakarta yang langsung berjalan, memindahkan PKL dengan cara yang manusiawi sehingga banyak masyarakat yang puas dengan kinerjanya. Gaya kepemimpinannya memang benar-benar berbeda dari semua pemimpin yang ada di Indonesia ini.
5.      Keluarga pincang vs keluarga utuh
Prabowo datang dengan status bercerai dengan istrinya Titiek Soeharto, tetapi saat kampanye, mereka digosipakan akan rujuk kembali bahkan mereka berdua seperti tidak pernah bercerai, padahal sebelumnya mereka tidak pernah bertemu. Kesannya seakan menggambarkan, nafsu akan kekuasaan Negara dengan pencitraan dengan menghilangkan masalah masa lalu. Hal ini juga menjadi pertimbangan dikalangan masyarakat Indonesia ibarat kata “menjaga keutuhan keluarga saja tidak bisa, apalagi menjaga keutuhan NKRI?”. Bagaimana dengan Jokowi? Jokowi justru terlihat romantic dan keutuhan keluarganya masih harmonis hingga kini. Istri Jokowi “Iriana Jokowi” hamper selalu mendampingi Jokowi untuk kampanye dan blusukan kemana-mana. Bahkan mereka sangat akrab ketika kampanye ke tanah Papua, “capres pertama yang pernah ke Papua”.
6.      Ditakuti vs dihargai
Sosok Prabowo yang tempramen, mimik wajah yang selalu tegang, ancungan jari telunjuk, seakan akan tidak membawa perasaan damai bagi orang-orang yang ingin dekat dengannya. Wartawan yang mewawancarai banyak yang terlalu berhati-hati untuk berbicara dan harus mempertimbangkan banyak hal karena Prabowo adalah orang yang bertensi tinggi dan mudah tersinggung. Sedangkan Jokowi karena kedekatannya dengan masyarakat, bahkan untuk mencubit wajahnya saja karena “gemes” dari semua warga justru membuat Jokowi lebih dihargai dirindukan, dan dihormati oleh masyarakat. Jokowi tidak sungkan-sungkan untuk memenuhi salam dari tangan warga masyarakat. Dimana Jokowi ada, disitu ribuan rakyat mengelu-elukan namanya, seakan penantian panjang di gurun sahara akan setetes air.
7.      Koalisi gemuk vs koalisi ramping
Koalisi prabowo Subianto lebih dikenal dengan koalisi gemuk, dimana ada 9 Parpol yang berkoalisi untuk mengusung capres ini. Seperti Gerindra, PAN, Golkar, PPP, Demokrat, dan lain-lain, sedangkan kubu Joko Widodo hanya diusung oleh 6 partai, itupun didominasi oleh partai yang baru berdiri seperti PDI-Perjuangan, Hanura, Nasdem, PKB, dan PKPI.
8.      Bayaran vs Relawan
Hal yang menjadi pembeda besar dalam pilpres kali ini adalah pratisipan pendukung masing-masing kedua belah pihak. Kubu Prabowo identik dengan pendukung yang dibayar oleh para partai pendukung dan dukungan dana pribadi Prabowo. Sehingga, beberapa waktu sering terjadi keluhan massa pendukung karena honornya tidak dibayarkan tepat waktu bahkan tidak dibayar sama sekali. Berbeda dengan kubu nomor urut dua, para pendukung mengatasnamakan diri mereka sebagai relawan tanpa pamrih. Mereka didominasi oleh anak-anak muda yang baru berstatus sebagai pemilih tetap, mereka rela tidak dibayar hanya untuk memperjuangkan orang terbaik “Joko Widodo”. Demikian juga dengan para artis, bayangkan saja “Konser Salam dua Jari” di GBK tanggal 5 Juli 2014, para artis tidak mendapat bayaran sepeserpun. Mereka rela berkeringat hanya untuk tokoh yang bisa membawa perubahan bagi bangsa ini.
9.      Arogansi vs Moralitas
Prabowo dikenal public dengan orang yang lebih arogan ketimbang Jokowi. Berlatarbelakang militer yang keras, terutama zaman orde baru membuat psikologi dan mental prabowo menjadi tertata sedemikian rupa sehingga menghasilkan capres yang selalu berwajah tegang bahkan dalam kondisi paling santai sekalipun. Prabowo menyelesaikan masalah apapun selalu membawakan suara besar dan lantang dengan membalas sesuai dengan masalah tersebut, dalam arti harus setimpal. Bahkan dalam beberapa kampanye, Prabowo beberapa kali tertangkap media menunjukkan sikap-sikap arogannya, seperti mengucapkan “brengsek” kepada media yang tidak mendukungnya, mengumpat kata-kata yang tidak baik ketika tidak bisa menjawab pertanyaan Jokowi saat debat capres, mengatakan KPU akan dipidanakan, dan lain-lain. Jokowi? Semua kampanye hitam dan tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepada Jokowi selalu dijawab dengan senyum, santai, dan selalu tenang hati dalam menjawabnya. Bahkan dengan hati besarnya dia mengatakan “kejahatan jangan dibalas dengan kejahatan, tetapi balaslah dengan cara yang baik”.  Butuh jiwa besar untuk mengatakan hal seperti ini apalagi dalam kondisi tersulit seperti pilpres.
Itulah beberapa hal-hal unik yang terjadi selama perhelatan Pilpres 2014, semua itu terjadi begitu saja dan berdasarkan fakta dan data yang ada dilapangan. Masyarakat Indonesia pada intinya bukan sedang memilih pemimpin yang sempurna, tetapi memilih pemimpin yang terbaik dari kedua calon, Prabowo dan Jokowi. Partisipasi masyarakat memang luar biasa untuk pilpres kali ini, terutama untuk kalangan Jokowi, para relawan yang selalu berjiwa kreatif, tanpa pamrih, semangat persatuan yang luar biasa menjadi lembaran baru dalam pemilihan presiden kali ini. Terbukti, orang yang selalu dicaci maki, orang yang katanya tidak amanah, orang yang katanya tidak muslimin, orang yang katanya dahulu adalah Kristen, semua isu itu dijawab Jokowi dengan lapang dada dan berbesar hati. Jokowi menjawab dengan bukti-bukti visi dan misi yang telah pernah dilakukan sebelumnya. Jokowi menjawab bukan sekedar janji, bukan janji politik “akan, akan, dan akan”.
Orang baik akan selalu menjadi nomor satu, meskipun dijalan banyak kerikil-kerikil tajam yang menusuk langkah kakinya. Presiden RI untuk pertama kalinya berasal dari keluarga yang dahulu pernah tinggal di bataran kali, rumahnya pernah digusur, pernah menjadi karyawan di Aceh, pernah menjadi pegawai Mebel di pabrik orang. Berbeda dengan presiden yang sebelumnya selalu berasal dari kalangan Militer dan kalangan terhormat, kalangan ekonomi mewah dan atas, kalangan yang katanya terpandang termasuk Prabowo Subianto sendiri. Mari kita doakan, semoga Joko Widodo tetap menjadi Joko Widodo yang tetap sederhana, yang jujur, yang tidak korupsi, yang tegas melaksanakan tugas, yang mampu memecat langsung bawahan yang tidak becus bekerja, yang memiliki semangat untuk maju bersama-sama dengan rakyat, yang ingin selalu tinggal dibawah bersama rakyat, yang tidak terlena dengan jabatan, yang mau turun kesawah berlumpur-lumpur untuk memperhatikan nasib petani, yang mau turun kepasar tradisional untuk memperhatikan keluhan mereka, yang mau memindahkan para PKL dengan cara yang manusiawi, yang mau menjawab masalah dengan lapang dada dan berjiwa negarawan, yang tidak mengatakan mundur dan menyerah disaat sudah tahu kalah, yang berjiwa besar. Bangsa ini akan menjadi bangsa yang berjiwa besar karena pemimpinnya telah berjiwa besar, bukan berjiwa pengecut “ yang tidak mau menerima kekalahan dengan iklas”. Terimakasih.