Selamat Datang Di Tugas Kuliahku, jika butuh softcopy, Silahkan email ke jhonmiduk8@gmail.com. Mohon donasi pulsa ke 081210668660 Untuk Kemajuan Blog, Terimakasih. Mengapa Angka Perceraian Orang Batak Sangat Rendah sekali? | Tugas Kuliahku

Mengapa Angka Perceraian Orang Batak Sangat Rendah sekali?


        Perceraian merupakan salah satu warna rumah tangga yang tidak lazim dalam suatu masyarakat. Apalagi dizaman modernisasi sekarang ini, angka perceraian semakin bertambah, dari segala lapisan masyarakat, baik menengah, atas, maupun lapisan bawah. Tetapi ada salah satu suku yang sangat mengharamkan perceraian, yaitu suku batak. Lantas, apa factor yang membuat minimnya angka perceraian di suku Batak? Berikut beberapa penjelasannya :
1. Agama
            Salah satu penyebab minimnya angka perceraian suku Batak adalah karena memegang ajaran agama dengan kuat. Agama mayoritas bagi suku Batak adalah agama Kristen. Di dalam ajarannya, agama Kristen sangat mengharamkan perceraian bahkan dengan alasan dan kondisi apapun. Berbeda dengan agama muslim yang memperbolehkan bercerai bagi sebuah keluarga. Di dalam ajaran agama Kristen mengatakan bahwa “ pernikahan itu sacral, suci, dan disatukan dalam ikatan kasih Tuhan, tidak ada yang boleh memisahkan selain kematian”. Hal ini berarti hanya kematian yang memperbolehkan seorang suami atau istri agar bisa menikah dengan pasangan yang baru. Jadi, pernikahan di dalam agama benar-benar suci.
            Orang yang bercerai biasanya juga akan diberikan sanksi berupa peringatan kepada pihak yang bercerai berupa memberikan ajaran kembali kepada yang melakukan kasus tersebut, ajarannya bisa berupa memberikan nasehat, memantau setiap saat, dll. Minimnya angka perceraian dalam suku Batak bisa menjadi
sebuah kebudayaan yang positif bagi generasi penerusnya, sehingga tidak aka nada pernikahan yang seumur jagung, seperti yang anda jumpai di kelompok lain. Seandainyapun ada perceraian, sang pelaku tetap akan merasa sangat malu dan akan berusaha melarikan diri ke tempat lain.
2. Kebudayaan/Marga/Adat
            Adat istiadat tidak terlalu menekankan hokum tentang perceraian sebuah rumah tangga dalam adat Batak. Tetapi, karena adanya ikataan marga dari masing-masing pihak suami dan isteri, maka hubungan yang mulai retak biasanya akan sesegera mungkin diperbaiki. Acara perbaikan hubungan keluarga juga bukan main-main, mereka biasanya memanggil para tetua dan petinggi setempat agar menjadi pihak ketiga dalam mengatasi masalah ini. Sehingga, hubungan yang retak bisa kembali lagi, meski belum sempat benar-benar terpisah.
3. Materi
            Mungkin ini adalah salah satu alasan yang aneh bagi anda. Materi yang saya maksud adalah, ketika seseorang akan menikah terutama laki-laki harus mengeluarkan materi yang banyak dalam menyelenggarakan pesta dan acara pernikahan. Biaya pernikahan sangat besar karena harus menyediakan konsumsi (jika kita kalkulasi, konsumsi yang disediakan minimal harus memenuhi 3 kali makan sehari dikali 300 orang) dikali dengan dua hari. Itu belum termasuk tetangga yang datang tanpa diundang, dan juga belum termasuk biaya pembayaran mahar bagi pihak perempuan. Anda mau lebih beresiko dengan mengeluarkan materi yang banyak? Tentu tidak kan?
            Meski semuanya berdasarkan aturan dan kebiasaan, tetapi kebiasaan haram bercerai menjadi suatu budaya yang berdampak positif bagi semua anggota suku batak kecuali yang beragama non-Kristen. Dampak positif itu tetap terjaga hingga sekarang, dimana kebudayaan ini menjadi panutan yang baik terhadap generasi peneruh bangsa Batak. Keharmonisan tetap akan terjaga karena sebuah pernikahan itu adalah urapan tangan Tuhan, bukan tangan manusia seperti kita yang bisa di pisah padukan.


Penulis : Jhon Miduk Sitorus